BODY---MENTAL-ISSUE

TAK MELULU SOAL ANXIETY, KENALI MACAM-MACAM MENTAL ISSUES MELALUI 5 FILM BERIKUT!

Nonton film nggak cuma bisa jadi sarana hiburan, tetapi juga sumber informasi dan pengetahuan. Kalau selama ini kamu lebih banyak dengar soal gangguan kecemasan (anxiety), ada baiknya kamu mulai menambah pengetahuan soal mental issues lain ang ternyata banyak jenisnya. Mental issues tersebut bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari pengalaman masa lalu hingga ambisi tertentu. Penasaran? Simak lima rekomendasi film berikut, lengkap dengan mental issues yang dibahas!

1. Joker (2019): Skizofrenia dan PBA

Rilis pada 2019, Joker sempat menjadi salah satu film yang mengundang kontroversi. Film ini mengangkat kisah hidup penjahat terkenal Arthur Fleck. Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) merupakan komedian yang kerap menjadi sasaran perundungan. Serangkaian pengalaman buruk yang dialaminya kemudian membentuk karakter Arthur Fleck menjadi seorang penjahat. Ironisnya, Arthur Fleck juga diketahui mengidap dua jenis mental issues, yakni skizofrenia dan pseudobulbar effect (PBA).

Skizofrenia tergolong sebagai gangguan mental jangka panjang yang menyebabkan penderita mengalami halusinasi, delusi, kekacauan pikiran, hingga perubahan perilaku. Meskipun terkesan mirip, halusinasi dan delusi nyatanya merupakan dua hal berbeda. Penderita halusinasi umumnya akan melihat, mendengar, mencium, atau merasakan sesuatu yang tidak terjadi. Sementara itu, delusi merupakan kondisi ketika seseorang tidak mampu membedakan hal nyata dan tidak nyata. Mereka cenderung meyakini hal yang sebenarnya tidak terjadi dan berusaha meyakinkan orang lain bahwa keyakinannya merupakan fakta.

Di sisi lain, PBA merupakan gangguan yang menyebabkan penderita bisa tertawa dan menangis secara tiba-tiba, tanpa ada pemicu. Suasana hati penderita PBA bahkan dapat bertolak belakang dengan ekspresi yang ia tunjukkan. Tak heran jika dalam film Joker, kamu akan sering menyaksikan Arthur Fleck tertawa tiba-tiba, meski situasi yang ia hadapi sebenarnya sama sekali nggak lucu. Penderita PBA juga kerap merasa marah dan frustrasi dalam jangka waktu yang singkat.

2. Silver Linings Playbook (2012): Bipolar

Silver Linings Playbook merupakan film yang bercerita tentang upaya penderita gangguan bipolar bernama Patrizio Solitano (Bradley Cooper) dalam mengatasi gangguan yang dialaminya. Bipolar merupakan gangguan yang ditandai dengan terjadinya perubahan emosi secara drastis, seperti dari sangat senang menjadi sangat sedih, sangat percaya diri menjadi sangat pesimis, atau sangat bersemangat menjadi sangat malas.

Pat diceritakan pernah menghajar seorang pria yang menjalin hubungan dengan istrinya. Akibat hal tersebut, kondisi bipolar Pat semakin parah hingga ia harus menjalani perawatan di rumah sakit khusus penyakit mental. Pasca keluar dari rumah sakit, Pat berupaya mengendalikan emosinya dengan berolahraga, mengonsumsi obat-obatan, serta menanamkan mindset positif mengenai peristiwa yang pernah menimpanya. Usaha Pat lantas membuatnya berhasil membuka diri dan bertemu dengan sosok baru, yakni Tiffany Maxwell (Jennifer Lawrence). Usut punya usut, Tiffany Maxwell juga ternyata memiliki masalah mental akibat ditinggal sang suami.

3. Black Swan (2010): Halusinasi dan Anoreksia

Black Swan menjadi salah satu film yang berhasil memadukan ambisi dan kesehatan mental dengan apik. Film ini berkisah tentang seorang balerina bernama Nina Sayers yang berupaya tampil sempurna untuk mengambil peran dalam pementasan Swan Lake Tchaikovsky. Kala itu, Thomas Leroy (Vincent Cassel), sutradara artistik studio balet, mengumumkan rencana penyelenggaraan pementasan. Thomas mengidamkan sosok balerina untuk bisa memainkan peran ganda sebagai white swan dan black swan. Nina Sayers harus mengerahkan seluruh kemampuannya dan meyakinkan Thomas beberapa kali hingga berhasil memperoleh posisi pemeran utama.

Sayangnya, sifat Thomas yang perfeksionis ternyata membuat Nina mulai tertekan selama masa persiapan. Akibatnya, Nina mulai mengalami gangguan halusinasi. Halusinasi merupakan gangguan persepsi yang membuat seseorang merasa telah menyaksikan, mendengar, atau merasakan hal-hal tertentu, walau sebenarnya tidak terjadi. Akibat gangguan tersebut, tokoh Nina dalam Black Swan tak mampu membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. Tak berhenti sampai di situ, profesinya sebagai seorang balerina membuat Nina harus senantiasa menjaga bentuk tubuh hingga membuatnya mengidap anoreksia. Pengidap anoreksia memiliki rasa takut terhadap peningkatan bobot tubuh. Oleh karena itu, mereka umumnya berupaya menjaga tubuhnya tetap kurus dengan membatasi porsi makan atau mengonsumsi obat-obatan pencahar dan penekan nafsu makan.

4. Patch Adams (1998): Gangguan Depresi

Berlatar belakang dunia kedokteran, Patch Adams menjadi salah satu film yang mampu memotivasi para penyintas gangguan mental. Dalam film ini, Patch Adams (Robin Williams) diceritakan sempat mengalami depresi berat akibat meninggalnya kedua orang tuanya. Ia sempat merasa putus asa dan melakukan percobaan bunuh diri hingga didiagnosis mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke rumah sakit. Uniknya, ketika berada di rumah sakit, Patch Adams bertemu dengan pria tua yang mengalami sindrom kejeniusan. Alih-alih berpikir sang pria sakit jiwa, Patch Adams justru yakin pria tersebut benar-benar jenius. Serangkaian kejadian unik yang ia alami di rumah sakit membuat Patch Adams termotivasi untuk segera keluar dan melanjutkan pendidikan di jurusan kedokteran. Patch Adams percaya bahwa pengobatan medis yang diberikan kepada pasien harus diimbangi dengan pendekatan psikologis untuk membangkitkan keberanian dan rasa nyaman. Patch Adams yang telah berhasil menjadi mahasiswa kedokteran lantas berupaya untuk memberi perawatan kepada pasien meski kampus belum memberikan izin. Ia mengorganisasi rekan-rekan kampusnya dan membuat rumah sakit gratis. Sayangnya, aksi Patch Adams dan rekan-rekannya diketahui oleh pihak kampus hingga mereka dituduh telah melakukan pelanggaran aturan.

Patch Adams menjadi film yang mampu merepresentasikan keberhasilan penderita depresi dalam menemukan kembali makna hidupnya. Meski depresi sering kali membuat seseorang merasa putus asa dan tidak berharga hingga memengaruhi produktivitas kerja dan hubungan sosial, bukan berarti hal tersebut tak bisa disembuhkan. Buktinya, Patch Adams berhasil bangkit dan memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya.

5. The Perks of Being a Wallflower (2012): PTSD

Disutradarai oleh Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower menceritakan kisah pemeran utama bernama Charlie (Logan Lerman) yang mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) akibat kejadian masa lalu. Charlie menjadi sosok yang pendiam, tidak percaya diri, dan cenderung tak punya teman. Kondisi tersebut berlangsung hingga Charlie akhirnya bertemu dengan dua teman baru, yakni Sam (Emma Watson) dan saudara tirinya Patrick (Ezra Miller).

Post-traumatic stress disorder (PTSD) yang dialami Charlie merupakan gangguan stres pascatrauma yang umumnya muncul setelah seseorang menyaksikan atau mengalami hal tidak mengenakkan seperti perang, kecelakaan, bencana alam, hingga pelecehan seksual. Adapun, gejala yang kerap muncul adalah timbulnya ingatan mengenai peristiwa traumatis hingga adanya perasaan seolah mengulang kembali kejadian buruk yang pernah dialami. Orang yang mengalami PTSD biasanya menolak membicarakan kembali peristiwa traumatisnya, punya pemikiran dan perasaan negatif, cenderung menyalahkan diri sendiri atau pihak lain, serta kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain.


Related Blogs

    Share