Lanskap subak Jatiluwih di Tabanan selama ini dikenal sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO yang memanjakan mata. Namun, seniman Putu “PW” Winata mencoba mengajak kita melihat lebih dalam lewat pameran tunggalnya yang bertajuk “Jatiluwih. A Beauty Interrupted”.
Pameran ini bukan sekadar presentasi visual tentang sawah terasering. Berangkat dari keresahan atas peristiwa Desember 2025 saat aksi protes petani mengguncang kawasan tersebut, PW menyoroti ketegangan antara regulasi pariwisata dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Salah satu elemen kuat dalam pameran ini adalah instalasi seng yang menjadi simbol “luka” sekaligus gema protes yang pernah terjadi di sana.



Sejak tahun 2024, PW telah melakukan riset mendalam dan terlibat langsung dengan kehidupan subak. Proses panjang ini melahirkan lebih dari seratus karya yang sebelumnya telah melanglang buana ke Yogyakarta, Jakarta, Thailand, hingga New York. Kini, rangkaian perjalanan tersebut mencapai fase penutup di Sika Gallery, Ubud.
Melalui lukisan abstrak yang kaya akan tekstur, PW merekam dimensi visual, spiritual, dan sosial dari Jatiluwih. Garis-garis dalam karyanya menjadi metafora aliran air dan jejak doa para petani yang sering kali terlupakan di balik industri pariwisata yang masif. Pameran ini melempar pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari keindahan ikonik ini?



Publik diundang untuk melihat Jatiluwih sebagai sistem hidup yang menuntut keadilan, bukan sekadar objek foto untuk dikagumi.
Detail Pameran:
- Lokasi: Sika Gallery, Ubud, Bali
- Tanggal: 27 Maret – 19 April 2026
- Informasi: www.putuwinata.com
Media Sosial:


