Skena musik lokal Bandung kembali melahirkan warna baru yang segar sekaligus emosional. Filsummer, unit musik asal Bandung, resmi melepas debut Extended Play (EP) mereka yang bertajuk “Bubuka”. Lewat mini album ini, Filsummer sukses mengawinkan twinkly guitar khas Midwest Emo dengan nuansa mistis dan megah dari instrumen tradisional Sunda.

Sesuai namanya, “Bubuka” yang dalam bahasa Sunda berarti “pembuka”, menjadi pintu awal dari narasi panjang tentang pahitnya realita, luka emosional yang tak kunjung usai, hingga isu sosial yang dekat dengan kehidupan kita.

Filsummer menyajikan empat trek yang dirancang saling berkaitan, membawa pendengar menyelami sisi gelap dan reflektif:
- “Bubuka” — Dibuka dengan raungan riff gitar gelap bertangga nada pelog yang berpadu ciamik dengan suling serta spoken word berkonsep tuturan dalang wayang golek.
- “C.M.G” — Kombinasi kontras antara Midwest Emo/screamo dengan balutan gamelan, kulanter, dan goong. Lagu ini mengkritik oknum yang menyalahgunakan agama demi nafsu dan kepentingan pribadi.
- “Wild Goose Chase” — Mengangkat tema savior complex dan luka masa lalu. Alunan suling, kecapi, dan sentuhan waltz di penghujung lagu menghadirkan suasan intim sekaligus reflektif.
- “Numbered” — Trek penutup bergenre folk/acoustic Emo berpadu kendang dan suling. Sebuah ode bagi mereka yang tetap bertahan hidup bukan karena harapan, melainkan karena ada hal bernilai yang belum siap dilepaskan.
Penggarapan karya ini melibatkan Debnotdebt, Jason Sutedja, Mulky, Idan, dan Aldo yang mengeksekusi aransemen musikal dengan detail dan berani. Persilangan budaya lokal dan subkultur musik alternatif ini membuktikan bahwa batas genre selalu bisa ditembus.
EP “Bubuka” dari Filsummer kini sudah bisa kamu dengarkan di seluruh platform musik digital kesayanganmu!


