RILISAN DEMAJORS YANG BERUMUR 10 TAHUN DI TAHUN 2025

Yuk, kita nostalgia bareng, ngulik album-album rilisan demajors yang udah menghiasi perjalanan musik Indonesia satu dekade terakhir.

1. Efek Rumah Kaca – Sinestesia

Melalui album Sinestesia, ERK menyalurkan kegelisahan mereka tentang berbagai tema dan isu melalui enam lagu berjudul warna: “Merah,” “Biru,” “Jingga, ” “Hijau,” “Putih,” dan “Kuning.” Pemilihan warna ini selaras dengan judul album, yang terinspirasi dari pengalaman bassist Adrian Yunan. Adrian mengalami sinestesia, sebuah kondisi di mana indra saling terhubung, sehingga ia dapat “melihat” musik dalam bentuk warna.

2. OM PMR – Orkeslah Kalau Begitar

OM PMR merilis mini album Orkeslah Kalau Begitar yang berisi empat lagu, termasuk satu lagu orisinal berjudul Time is Money (Yang Penting Jadi Uang) dan tiga lagu gubahan. Lagu-lagu gubahan tersebut adalah Topan (Tato atau Panu), Mengadili Persepsi dari Seringai, dan Cinta Melulu dari Efek Rumah Kaca. Mini album ini menjadi bukti bahwa grup musik yang telah hampir empat dekade berdiri ini masih relevan dan digemari, termasuk oleh generasi muda.

https://demajors.com/new/Album/detailAlbum/478

3. Monita Tahalea – Dandelion

Monita merilis album Dandelion pada 2015, sebuah karya yang dianggap lebihmerepresentasikan dirinya. Album ini memadukan unsur jazz, pop, dan folk, menghasilkan aransemen yang ringan namun tetap berbobot. Suara Monita yang polos dan kekanak-kanakan menjadi ciri khas yang memperkuat karakter setiap lagunya. Dengan total 9 lagu, Dandelion menampilkan lirik yang indah dan terkonsep dengan baik, didukung oleh aransemen musik yang apik—sebuah pencapaian gemilang dari salah satu alumni Indonesian Idol.

4. Endah n Rhesa – Seluas Harapan

Album Seluas Harapan berisi 9 lagu dengan konsep yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Tidak lagi mengusung lagu berbahasa Inggris, kali ini Endah N Rhesa menonjolkan nuansa Indonesia. Menariknya, duo ini menyebut album terbaru mereka sebagai “album gudang” karena semua lagu di dalamnya adalah materi lama yang ditemukan kembali dan diaransemen ulang. Endah mengatakan, konsep album keempat ini seperti ‘gudang’. Endah n Rhesa menemukan materi lama dari 2008-2015 yang pernah dirilis untuk proyek film, sebagai single, atau bahkan belum dirilis sama sekali.

5. Dentum Dansa Bawah Tanah – Kompilasi Musik Elektronik

Pada 2016, album kompilasi “Dentum Dansa Bawah Tanah” dirilis sebagai kolaborasi musisi elektronik lokal. Album ini mengeksplorasi berbagai aliran musik elektronik underground di Indonesia, merangkum keunikan dan keberagaman skena yang kerap terpinggirkan dari arus utama. Nama-nama seperti Sattle, Sunmantra, dan Duck Dive menyumbangkan karya dengan ciri khas masing-masing, menghadirkan spektrum luas dari beat berani hingga suara eksperimental. Album ini menjadi dokumentasi energi dan kreativitas musik bawah tanah Indonesia.

https://demajors.com/new/Album/detailAlbum/573

6. Adhitia Sofyan – Silver Painted Radiance

“Silver Painted Radiance” adalah album studio keempat dari musisi folk Indonesia, Adhitia Sofyan, yang dirilis pada 2016. Album ini tetap mempertahankan gaya khas Adhitia dengan sentuhan akustik dan lirik yang mendalam. Lagu-lagu seperti “Eternal Mellow” dan “Silver Painted Radiance” menjadi highlight, menawarkan harmoni melodi yang menenangkan serta lirik yang penuh makna. Album ini mendapat tanggapan positif karena mampu menghadirkan atmosfer tenang dan emosional yang mencerminkan karakter musik Adhitia Sofyan.

7. Fourtwnty – Lelaku

“Lelaku” adalah album debut dari grup musik indie asal Indonesia, Fourtwnty, yang dirilis pada tahun 2015. Album ini terdiri dari 9 lagu yang menampilkan gaya musik khas Fourtwnty dengan nuansa akustik dan lirik yang reflektif. “Aku Tenang” adalah salah satu lagu populer dari Fourtwnty yang dirilis dalam album Lelaku. Lagu ini menyampaikan rasa syukur atas pertemuan dengan cinta sejati, diibaratkan seperti mencapai garis akhir dengan perasaan menjadi juara.

8. Deadsquad – Tyranation

“Tyranation” adalah album studio ketiga dari DeadSquad yang menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan album sebelumnya, dengan banyak eksplorasi musik. Album ini melibatkan berbagai musisi ternama, termasuk Sujiwo Tejo, Dewa Budjana, Andra Ramadhan, Adam KOIL, Arie Dagienkz, dan Stephan Santoso. Sujiwo Tejo menyumbangkan mantra bernuansa Kejawen Kuno di dua lagu, sementara Dewa Budjana dan Andra Ramadhan menampilkan solo gitar di Apocalypse for Sale dan Menyangkal Sangkakala. Adam KOIL menambahkan background noise, dan Stephan Santoso bertanggung jawab atas mastering album ini.

9. Sisitipsi – 73%

Sisitipsi merilis album pertama mereka berjudul 73%, yang terinspirasi dari alamat kampus mereka, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Cikini Raya No. 73, dan kandungan alkohol 73% yang tinggi menggambarkan harapan yang tinggi seperti harapan kami pada album ini. Sebagai single pertama, mereka memilih lagu “Joni Santai”, yang dianggap mewakili gaya musik mereka melalui lirik, melodi, dan aransemen yang tepat.

10. Tulus – Monokrom

Tulus selalu memaknai karya-karyanya dengan mendalam, dan untuk album Monokrom, ia memilih kata ini untuk menyampaikan pesan penting. Menurut Tulus, Monokrom adalah bentuk ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan kariernya. Album ini juga merupakan jawaban atas impian-impian Tulus yang dulu terasa seperti mimpi, termasuk proses rekaman yang dilakukan di Praha, Republik Ceko.


Eksplor album lainnya di www.demajors.com

Post navigation

DAUN JATUH // EP “KINI & SAMPAI KAPANPUN”

ANXIEPARTY // SINGLE METRIK RUANG WAKTU

SIC MYNDED // MESIN MASA DEPAN

OU-KAMI! // SINGLE “TERTAWA SEDIH”