Unit alt-rock asal Malang, Inveigh, kembali memanaskan skena musik independen lewat single terbaru mereka yang bertajuk “Amarah”. Diisi oleh barisan musisi berpengalaman seperti Julius Bagus, Anizar Yasmeen, Eltria Raffi, dan Raditia Putra, band ini menyuguhkan balutan distorsi tajam serta riff gitar padat untuk menyuarakan kritik sosial yang tajam.

Lagu ini lahir dari rasa muak kolektif terhadap ketidakadilan, korupsi, kesenjangan, hingga eksploitasi alam oleh oligarki. Menurut Inveigh, berbagai krisis mulai dari bencana alam yang tidak ditangani dengan baik, sikap apatis pejabat, hingga kondisi ekonomi yang memburuk menjadi pemicu utama terciptanya karya ini.

Meski dibuka dengan nuansa keputusasaan, “Amarah” bertransformasi menjadi sebuah ajakan untuk bangkit dan melawan. Mengusung tempo yang lebih lambat (down-tempo) dibanding rilisan sebelumnya, lagu ini secara khusus menyoroti kecemasan masyarakat yang berada di rentang usia 30 tahun ke atas.
Menariknya, rilisan ini juga menandai kolaborasi perdana Inveigh dengan musisi Surabaya asal band Timeless, Bimantara. Bimantara tidak hanya menyumbangkan karakter vokal khasnya pada bagian akhir lagu yang sarat pesan perlawanan, tetapi juga mengekspresikan esensi “Amarah” melalui karya seni sampul bergambar kalajengking. Simbol tersebut merepresentasikan kewaspadaan sekaligus keberanian untuk terus bersuara.
Dirilis secara resmi pada 27 Oktober 2026 di tengah berbagai isu krisis lingkungan, Inveigh berharap lagu ini mampu menjadi suntikan semangat bagi pendengarnya untuk tetap bertahan di tengah batasan ruang berekspresi yang kian sempit.


