Samstrong Records kembali mengumumkan Roster terbarunya WANDERLUST.
Terbentuk dari tahun 2015 datang dari ujung daratan pulau jawa, di ujung selatan claster pulau jawa timur keempat pemuda yang tidak pernah bosan memainkan musik dengan sound kemarahan yang berat, tak berhenti menyuarakan semangat dalam nadi musik Hardcore. Pengaruh dari band band semacam Buried Alive, Disembodied, Foundation, Expire sampai band band semacam Alice In Chainshingga band bentukan Zack Dela Rocha Rage Againts The Machine menjadi alasan besar mereka dalam terbentuknya sebuah kolektif band yang mereka baptis dengan nama WANDERLUST. Tanpa pernah terjadi bongkar pasang dalam line up mereka menunjukan band ini layak menjadi sebuah band yang bisa di bilang solid. Di gawangi oleh Deri sebagai story teller, Barod Zakaria pada four string high tone, Fery Syamanda yang dipercaya membuat kebisingan perkusi dan lempengan tembaga serta Bagas sebagai pengiring ritme kemarahan distorsi yang juga tergabung dalam GRACE ( blackened hardcore asal Tulungagung ).

Setelah berhasil mengeluarkan dua track dengan title No remorse dan Hush!di tahun 2016 band asal kota Tulungagung ini tak pernah merasa cukup dalam memainkan musik heavy hardcore yang mereka yakini menjadi pilihan dalam spirit band ini sendiri hingga di akhir tahun 2017 ini Wanderlust kembali menggarap materi materi yang mereka anggap siap menjadi rilisan yang akan membakar scene hardcore local tanah air.

2018 adalah tahun yang mereka yakini layak menjadi momentum sejarah bisu ditelurkannya album pertama wanderlust “NO GUTS NO GLORY’’ yang di rilis oleh Samstrong Records berkolaborasi dengan Hit and Burn Records dalam format CD, title yang diambil dari salah satu track dalam album ini dengan penggalan lirik yang masih menceritakan tentang semangat seseorang yang tidak akan pernah berhenti untuk mencari jalan yang lebih baik sampai mereka menjumpai kematiannya “never too late to starts all over, no guts no glory it’s never too old to dreams”.

Tanpa meninggalkan kaidah dari spirit perlawanan yang selalu disuarakan para scenester hardcore punk, dalam lirik “Refuse to Forget” mereka menuliskan bagaimana mereka merasakan hukum di negara yang mereka banggakan ini hanya seperti sebuah lelucon sampah. Terinspirasi dari terbunuhnya seorang aktivis HAM Munir Said Thalib yang sampai saat ini belum ada titik terang kejelasan hukum, serta dalam track ini mereka berkomitmen akan merilis sebuah video klip yang akan di rilis setelah peluncuran album no guts no glory.

Tak lupa mereka juga membawakan satu buah cover song dari Cro-Mags “hard times” yang di ambil dari album terbaiknya The Age of Quarrel salah satu pioneer hardcore band asal New York, selain itu wanderlust juga melibatkan teman teman scene localnya untuk ikut andil dalam penggarapan album ini, adalah Afdonea dari Vision Decay (Progressive Death Metal) yang terpaksa dilibatkan dalam mengisi satu track dengan lantang di dalam track dengan tajuk “toxic person”.

Tak banyak yang bisa dijanjikan dalam album ini selain kalian akan menyadari masih adanya “ancaman” dari scene hardcore didaerah yang berbahaya untuk begitu saja dilewatkan. Here we are bleeding by onyx stone, Wanderlust from Onyx Stone Blood.

.

Related Blogs

    Share