jrx

photo by sushisushanti

Kabar bahwa salah satu bar musik ikonik yang menjadi tempat lahirnya  band-band indie Bali dan bisa dibilang CBGB-nya Bali akan dibuka kembali, yaitu Twice Bar benar adanya. Seperti yang diutarakan oleh seorang Jerinx SID, selaku owner dari bar tersebut melalui media sosial, bahwa Twice Bar akan dibuka kembali tahun ini. Kabar baik tersebut disambut suka cita oleh para pelaku skena bawah tanah di Bali. Yang mana, bahwa bar tersebut sudah menjadi rumah kedua bagi mereka yang pernah dibesarkan di tempat itu. Melalui contributor kita, Mave mencoba langsung bertanya sekaligus interview dengan Jerinx mengenai sejarah Twice Bar dan alasan dibalik tutupnya Twice Bar kala itu. Okay ini dia interviewnya. 

 

Seperti diketahui di sosial media beberapa waktu lalu, Jerinx mengindikasi bahwa Twice Bar akan beroperasi kembali setelah hiatus bebarapa bulan. Apakah kabar baik itu benar?

Sayangnya kabar itu benar adanya. Jadi saya sudah menjual brand Twice Bar pada PT TWBI (Twice Bar Indonesia) dan merekalah yang akan realisasikan mimpu buruk pulau dewata ini. Oya, saya juga kebetulan menjabat sebagai C.E.O PT TWBI.

Sejauh mana progres Twice Bar sekarang ini? 

Kami sudah dapat lokasi yang pas. Tetap di Kuta Rock City (KRC). Sebelumnya ada ide untuk membukanya di Canggu (biar hipster) atau Denpasar (biar akrab sama penguasa) tapi akhirnya saya putuskan TB tetap di KRC karena kedua nama tersebut sudah menjadi satu entitas yang tangguh dan teruji jaman. In my humble opinion, tak ada yang terdengar/terbukti lebih rebel daripada “Twice Bar – Kuta Rock City”. Meski Kuta sudah tak se-hype dulu, saya percaya ruh dan skena bawah tanah Bali masih bersemayam di KRC. Sosialiasi pada penduduk setempat, kelian adat hingga bendesa Desa Adat Kuta juga sudah kami lakukan. Alhamdullilah semua berjalan lancar. Kini kami ada di tahap desain interior/exterior. Ciri khas TB akan tetap saya jaga; an underground rock n roll bar. Nothing fancy, just a simple, small international rock n roll venue with a local-friendly vibe. Saya jamin, di TB pengunjung lokal dan asing akan selalu mendapat perlakuan yang sama.

Apa yang membedakan Twice Bar sekarang dengan bar terdahulu?

Selain parkir yang lebih mudah dan lokasi yang tak sepadat dulu, tak akan ada banyak perbedaan. Daya tampung pengunjungnya hampir sama, akan ada toko RMBL dan studio Lady Rose Tattoo juga. Jam operasional juga sama, live music hingga jam 24:00.

Selain Jerinx sendiri, Apakah nanti akan ada kerjasama dengan pihak lain untuk Twice Bar yang baru ini?

Maaf, informasi tersebut bersifat rahasia. Tapi nanti juga ci paham. Haha.

Kapan kira-kira bar ini akan dibuka?

Mudah-mudahan sebelum Desember sudah dibuka.

Banyak orang yang kaget ketika Jerinx waktu itu mengumumkan bahwa Twice Bar akan ditutup. Apa sih sebenarnya alasan waktu itu sehingga Twice Bar harus ditutup? 

Ada beberapa alasan. Tapi intinya adalah karena TB tidak mendapat dukungan yang layak dari para pengunjungnya. Para benalu membunuh TB secara perlahan. Mereka memanfaatkan TB tapi tak mau berkontribusi untuk kelangsungan operasional TB yang -saat itu- bagaikan rumah mereka; skena rock bawah tanah Bali.

Sekarang ini di Bali banyak bar-bar musik yang muncul mendukung pergerakan band indie Bali, Apa yang dilihat dari Jerinx?

I love it! Makin banyak makin bagus. Saya tidak melihatnya sebagai kompetisi, justru skena -khususnya- underground di Bali akan menjadi lebih sehat dan puspawarna karenanya. Bosan ke Kuta? Main Canggu atau Denpasar. Begitu juga sebaliknya. Asik. Seru. Banyak pilihan.

Seperti yang diketahui bahwa Twice Bar telah melahirkan band-band indie Bali. Mereka besar di sebuah bar ini. Apakah  Salah satunya alasan itu, sehingga merasa bertanggung jawab untuk kembali membuka Twice Bar? 

Jujur. Saya masih ‘tidak terima’ dengan perlakuan para benalu tersebut, saya jengah. Di sini saya ingin membuktikan jika mereka bisa saja menutup TB tapi mereka tidak akan pernah bisa merampas hak band-band pemula untuk bisa konser di bar yang membebaskan mereka memainkan musiknya sendiri. I’m doin this for the kids, and also for my passion. Saya berhutang banyak terhadap rock n roll. Ini cara saya mengelaborasikan cinta tersebut.

twice-bar-kuta3

Dari periode masa pertama dibukanya Twice Bar, sampai kemarin ditutup, apa memori yang tidak terlupakan oleh seorang Jerinx disana?

Oh lord. Teramat banyak saya tak bisa memilih satu momen. It was just so much sex, drugs and rock n roll that time! We were all young, wild and slightly stupid. But on a positve note, menyaksikan band-band (yang kala itu belum sebesar sekarang) konser, mabuk, berinteraksi di TB adalah hal yang selalu menyenangkan untuk diingat. Juga ketika pertama kali membuka TB (tahun 2001, namanya masih The Backyard) saya sempat jadi bartendernya. Sekitar setahunan. That was fun. I drank the whole stock we had nothing left to sell haha.

Apakah pernah mengalami intimidasi dari org yg tak dikenal selama Twice Bar beroperasi?

Standarlah. Paling aparat yang mencoba cari rejeki tambahan. Selain itu sih tidak ada.

Musisi luar siapa saja yang pernah jamming di Twice Bar?

Kalau yang sekedar singgah, Lamb Of God, Turbonegro, The International Noise Conspiracy, dan banyak yang saya sendiri tidak begitu kenal nama band nya. Tapi menurut staff saya, mereka dari band-band yang cukup dikenal. Mostly young bands. Probably metalcore. Haha. Kalau yang jamming ada Travis Dempsey (ex The Living End), Rick Battson (ex Suicidal Tendencies), Beau Bokan (Bless The Fall). Itu yang ‘terdeteksi’ saja ya. Saya yakin masih ada banyak lagi nama yang layak disebut namun saya/staff saya tidak mengenalnya (wajar, di Kuta, wajah bule hampir mirip semua)

Band luar siapa yang diimpikan oleh Jerinx yang belum kesampaian untuk main di Twice Bar?

Tiger Army. Tahun lalu saya sudah 70% hampir deal dengan mereka untuk konser di Bali. Riders, fee dan lain lain sudah terpenuhi. Lalu terjadilah demo 212 di Jakarta. Manajemen TA langsung tak mau ambil risiko singgah ke Indonesia.

Banyak orang yang tahu Twice Bar hingga ke luar Bali. Tapi banyak juga yang belum tahu sejarah nya Twice Bar. Boleh diceritain nggak bagaimana Twice Bar ini terbentuk?

Ok. Kita flash back ke akhir tahun 90 an. Ayah saya dulu mengontrak semacam ruko pas di depan lokasi bom Bali 1. Beliau buka usaha toko kaset, dinamai Twice Tape Shop. Lantai 2 disewa Suicide Glam, lantai 3 saya jadikan tempat latihan SID. Karena lokasinya yang strategis, Twice Tape Shop jadi tempat ngumpulnya teman-teman. Biasanya tiap weekend, SID dan kadang band lain latihan, ditonton oleh teman-teman kami. Kadang ada beberapa turis asing yang penasaran dengar riuh suara drum dan distorsi dari lantai 3. Setiap kami latihan, ada saja yang nonton, kadang jamming. Tentu perlu alkohol kan? Dan kami malas naik turun membelinya. Di sanalah muncul ide menjual minuman (awalnya bir saja) di lantai 3. Tahun 2000 kontrak toko berakhir (entah apa yang terjadi jika kontrak gedung diperpanjang, mengingat bom Bali 1 persis terjadi di depan Twice), toko kaset pindah ke Gang Poppies 2, di belakang toko kaset ada lahan tak terpakai, di sana saya buka bar kecil bernama The Backyard sekaligus tempat latihan SID. Masih untuk kalangan teman-teman saja. Tahun 2003, dari uang hasil royalti album Kuta Rock City (saat itu orang masih membeli kaset/CD, belum ada bajakan) saya merenovasi bar dan menamainya Twice Bar. 2005/2006 bisnis kaset/CD kolaps, hanya tersisa Twice Bar. Gang Poppies 2 makin lama makin ramai dan sesak. Minimart, Circle K dimana-mana. Kualitas turis mengalami degradasi. Makin jarang orang yang mau beli minum di bar. Hingga 2016 akhirnya TB terpaksa ditutup.

Bagaimana siasat selanjutnya agar Twice Bar bisa tetap bertahan?

Saya banyak belajar dari pengalaman, dengan manajemen yang lebih siap dan impact dari ditutupnya TB tahun lalu, saya percaya anak-anak muda di Bali sudah mulai terbuka pikirannya dan paham betapa pentingnya ‘memelihara’ sebuah skena agar tetap hidup. Saya juga akan lebih fokus di merchandise Twice Bar. I think its goin to be the bomb, saya lihat bajakannya di luar Bali banyak sekali haha. Kadang saya lupa betapa iconic nya TB itu sendiri. Anyway, it feels like the timing is right. I feel so much support, love and passion doin this project. Together, lets make history again! Hail satan!

Okay, pertanyaaan terakhir. Jika nanti Twice Bar sudah berjalan, apa yang diharapkan oleh seorang Jerinx bagi pengunjung bar ataupun band yang nanti akan datang kesana?

Simple: Love and Respect. Love the place, enjoy the bands, buy some drinks, be generous, tip the barterder. Ini rumahmu. Ini skena mu. Lindungi dan jaga dia. Tunjukkan rasa saling memiliki. Show some sense of belongings, kalau orang Arab bilang.

 

=============================================================================

all teks Adamxhole

Related Blogs


Related Blogs

    Share