johan-dominic-untuk-kategori-kumis-imperial-_110523214410-519

Tak seperti rambut, janggut dan bulu-bulu lainnya, pamor kumis memang bisa dikatakan naik turun. Ada kala ia bisa diterima baik bahkan punya tempat terhormat. Namun ada kalanya pula ia dilecehkan. Parahnya tak jarang ia mendapat julukan penghinaan semacam saringan teh atau alisnya mulut. Padahal menurut Dr Moeslan Saradhawarni, SpOG MARS yang pakar seksolog itu, kumis merupakan perkembangan alamiah sekunder pria dewasa. Pertumbuhan kumis sama normalnya seperti halnya perubahan suara dan perkembangan jakun. Direktur Klinik Harmoni Keluarga di RS. Kartika Pulomas ini juga menyebut kumis sebagai hal yang sangat laki-laki. Karena tingkat kelebatannya diukur dari tinggi rendahnya hormon Androgen milik pria. Sebagai catatan hormon ini pula yang mengatur tinggi rendahnya libido seorang pria. Selain secara biologis, ditilik dari kacamata sejarah, kumis juga punya perjalanan panjang. Gambar pertama pria berkumis ditemukan di Iran. Artefak pria berkumis yang sedang menaiki kuda itu ditaksir berasal dari 300 tahun sebelum masehi. Secara ekonomi, kumis melahirkan industri baru. Kesadaran akan pentingnya mengatur letak kumis mendorong munculnya produk alat cukur. King Gillete lah yang pertama kali menjual pisau cukur pada tahun 1901. Dari sejak saat itu hingga tahun 2014 tercatat  1,1 miliar dollar dihabiskan untuk pembelian alat cukur kumis per tahunnya. (Baca juga: Movember: Saatnya Pria Berkumis Perduli) Bagaimana di Indonesia? Kondisinya kurang lebih serupa. Kumis sempat punya masa jaya di era tahun 70-an hingga 80-an. Penyebabnya karena aktor masa lalu muncul dengan kumis yang mentereng. Mulai dari Roy Marten dengan kumis tipisnya hingga pemilik kumis tebal macam Slamet Rahardjo, Shopan shopian, Benyamin dan lainnya. Terakhir sosok gagah berani Brama Kumbara yang muncul di film Saur Sepuh membuat pamor kumis makin menanjak. Namun kepopuleran kumis memudar memasuki dekade 90-an. Hanya guru-guru killer yang tetap mempertahankan penggunaan kumis. Aksi Rano Karno berkumis tebal yang berhasil menggaet sejumlah wanita di sinetron laris Si Doel Anak Sekolahan tak berhasil mengangkat citra pria berkumis. Untungnya kumis mendapatkan kembali momentumnya di akhir 2013 yang lalu. Gaya 70-an cenderung hipies dianggap kembali keren. Aktor berkumis macam John Lenonn dijadikan acuan. Selebriti Hollywood yang masuk daftar pria terseksi seperti Jhonny Depp dan Adam Levine memilih tampil dengan bulu di atas bibir. Kumis pun kembali mendapat tempat. Di Indonesia kepopuleran ini didorong dari keberanian sejumlah aktor untuk mencoba gaya tersebut. Tora Sudiro tercatat sebagai salah satu yang paling berani. Ia bahkan pernah muncul dengan kumis bergaya handle bar yang meruncing di ujungnya. Tak cuma itu, aktor-aktor yang sebelumnya tampil klimis mulai berani memelihara kumis, sebut lah Giring Nidji, Darius Sinatria hingga Chico Jericho.

Related Blogs

    Share