TRENGGINAS

Para personel The Trengginas punya pemahaman dan sikap kritis atas budaya mainstream dan pengaruh buruknya bagi kehidupan sosial. Pada awal ’90-an Ken AW tinggal di Kediri, Edwin Rose Eno di Jember, Rudy Atche di pinggiran Aceh, Keppet yang bau ingus di Banjar. Hanya Tatsoy yang bermukim di Jogja, itupun anak Slanker. Lagu-lagu punk yang populer di telinga mereka ya besutan dari Green Day karena rotasi distribusinya yang luas ke radio-radio. Meski mainstream dan sell-out, lirik lagu Green Day sarat akan kritik. Hal ini yang tertaut dengan sikap personel The Trengginas. Lalu, seiring berjalannya waktu band punk lokal arus bawah yang punya karakter budaya lokal seperti Marjinal dan Begundal Lowokwaru punya dengung yang luas. Begitu juga dengan gaya subkultur baik punk dan indie yang kini bisa dibilang menguasai pasar musik di Indonesia.

The Trengginas memainkan gaya musik punk yang pop. Tidak ada yang aneh, nyentrik atau punya unsur kebaruan dalam aransemen. Seluruh lagu-lagunya dihantarkan dengan lirik-lirik yang kritis atas isu-isu sosial terkini. Isu-isu yang biasa ditanam oleh band punk radikal: LGBTQ, relasi kuasa, kesetaraan kelas, gaya hidup egaliter. Ia bahkan mampu menjadi refleksi atas perdebatan sengit yang terjadi di kalangan radikal. Kritik seni juga muncul sebagai respon The Trengginas yang memang aktif di kolektif seni di Yogyakarta. Jika kamu punk dan unyu yang jujur, jika kamu sedang dilanda dilema, album Sikapmu Sikapku bisa jadi oplosan tokcer buat menemani hidupmu yang hanyut dalam ambisi akan dunia yang sejahtera nan bahagia.

=======================================================================================

For more info

Instagram: @thetrengginas_official

Youtube: The Trengginas

Related Blogs

    Share