unnamed

Tujuh belas tahun pertama.

The Rain merupakan satu dari sedikit band di Indonesia yang bertahan selama lebih dari 17 tahun tanpa pergantian personel. Dari dulu hingga sekarang, The Rain adalah Indra Prasta (vokal utama, gitar), Iwan Tanda (gitar, vokal), Ipul Bahri (bass, vokal) dan Aang Anggoro (drum, vokal).

Pada akhir 2018, The Rain menggelar sebuah konser tunggal berjudul Bioskop Hujan. Dipersiapkan selama tiga setengah bulan, dengan konsep unik yang memadukan berbagai unsur audio visual, dan—sesuai judulnya—digelar di dalam sebuah bioskop. Konser ini merangkum 17 tahun perjalanan The Rain. Sebuah perjalanan roller-coaster yang penuh cerita. “Kami pernah menjadi populer, tenggelam, lalu kembali populer,” ujar Indra.  “Kami juga melewati proses berat ketika berhenti bekerjasama dengan major label dan menempuh jalur independen,” lanjut Iwan. “Dan sempat mengalami masa jaya era rilisan fisik hingga menghadapi revolusi industri musik digital,” timpal Aang.

Karya-karya The Rain hadir lintas generasi. Dari lagu Dengar Bisikku (2003) hingga Terlatih Patah Hati (2013). Dari Tolong Aku (2005) hingga Gagal Bersembunyi (2015). Hingga saat ini, The Rain telah merilis enam album studio yang semuanya hadir dalam format fisik dan digital.

 

Ritual awal tahun.

Selama tiga tahun terakhir ini, The Rain selalu mengisi awal tahun dengan menggarap karya baru. “Jadwal panggung biasanya belum padat di awal tahun. Itu membuat kami lebih leluasa mengatur jadwal workshop dan rekaman,” ujar Ipul.

Sebuah disiplin yang menjaga produktivitas The Rain setiap tahunnya. “Saya menghabiskan hampir setiap pagi dengan menulis. Kadang-kadang hanya menjadi coretan, kadang-kadang menjadi lirik lagu baru,” lanjut Indra.  Sepanjang Januari dan Februari tahun ini, beberapa lagu mentah lahir. Awal sebuah babak baru bagi The Rain.

 

Upaya Maksimal.

Dari beberapa lagu baru yang digarap, sebuah lagu berjudul Upaya Maksimal dipilih menjadi single perdana The Rain tahun ini. Pengerjaan lagu ini cukup unik. Sebagian liriknya ditulis Indra saat sedang duduk di perjalanan naik KRL commuter line. “Saya memang kemana-mana bawa buku tulis kecil dan pena. Di atas kereta adalah salah satu tempat yang ampuh bagi pikiran untuk berkelana,” ujar Indra.

Lagu ini juga merupakan lagu pertama The Rain yang menggunakan ukulele sebagai salah satu instrumen utama. Ditambah adanya instrumen Mandolin (alat petik tradisional yang bentuknya seperti gitar), membuat lagu ini terasa berbeda disbanding lagu-lagu The Rain sebelumnya.

Dalam pengerjaan desain Artwork untuk lagu ini, The Rain memutuskan untuk melakukan hal baru. Lima orang ilustrator mendapatkan kiriman lirik lagu ini, tanpa mendengar lagunya sama sekali, lalu masing-masing ilustrator menginterpretasikan lirik lagu ini dalam bentuk visual. Hasilnya? Artwork yang sangat beragam. Seluruh artwork tersebut ditayangkan bertahap di Instagram The Rain sejak sebulan sebelum single ini dirilis.

Untuk official video lagu ini, The Rain menyajikan sebuah konsep unik dengan mengangkat cerita prekuel dari official video Rencana Berbahayasingle yang The Rain rilis setahun sebelumnya, di mana karakter Jono dan Mira diperkenalkan. Jono dan Mira adalah dua orang sahabat yang hubungannya menjadi rumit karena Jono jatuh cinta pada Mira. Official video Upaya Maksimal tayang mulai 17 Mei 2019, sepekan setelah single ini dirilis di seluruh digital platform

================================================================================

For more info:

Official website    : www.therain-band.com

YouTube                : https://www.youtube.com/therainbandindonesia

Instagram              : https://www.instagram.com/therainband
 


Related Blogs

    Share