THE NORTH PALM -Body

THE NORTH PALM // MERILIS SINGLE “MANTRA”

Seringkali dalam hidup manusia membutuhkan obat mujarab atau “mantra” untuk mengusir rasa takut. Sewaktu kecil kerap kita merasakan takut atau ditakut-takuti perasaan akan adanya hantu. “Awas di sana ada hantu, kamu tidak boleh kesana” oleh orang yang lebih tua dan otoritatif. Bisa saja mereka berusaha melindungi dari marabahaya tapi juga mungkin sebagai penanda agar mengikuti satu kepatuhan aturan tertentu. Namun, beranjak dewasa kita mengalami kesadaran bahwa hantu itu tidak ada. Makhluk takhayul yang berkelana membawa rasa takut kemungkinan besar tidak akan ditemui selain di pikiran dan perasaan.

Pada hakikatnya hantu adalah pembawa rasa takut, seringkali kita takut pada penguasa karena kekuatan, kemampuan dan pengaruh yang dimililki. Kita bukan takut penguasa karena mereka hantu tetapi karena “mantra” yang mereka miliki. Di saat penguasa tidak suka, merasa terancam dan ketakutan mereka akan merapal “mantra“. Salah satu “mantra” ajaib penguasa di jaman modern ini adalah hukum dan peraturan.

Jika dahulu pada jaman Fira’un ada sekelompok tukang sihir yang mengelilinginya dengan “mantra-mantra“. Maka saat ini kita temui juru bicara penguasa, ilmuwan dan para buzzer yang merapal “mantra” hingga berbusa layaknya pedagang obat.

Mantra” yang ampuh dan seringkali menjadi senjata andalan penguasa menghadapi rakyat yang ditakutinya. “Mantra” itu berbunyi “bim salabim, abrakadabra, Menghilanglah!” Lalu rakyat seperti Wiji Thukul, Petrus Bima, Herman Hendrawan dan lainnya hilang lenyap dan senyap begitu saja. Menghilang, dihilangkan oleh “mantra” kekuasaan.

THE NORTH PALM - Body1

Di Indonesia sendiri, kasus penghilangan orang secara paksa terjadi di beberapa daerah selama kurun waktu pemerintahan militeristik Orde Baru bahkan masih terjadi ketika era reformasi. Sangat disayangkan, semua peristiwa tersebut tidak ada penyelesaian yang adil hingga detik ini. Para korban yang dihilangkan tidak dikembalikan, kebenaran tidak diungkap, dan akuntabilitas keadilan masih terus diingkari negara.

Lalu bagaimanakah rakyat terbebas dari “mantra” dan rasa takut? Tentunya menjaga kesadaran bahwa rakyatlah yang sebenarnya ditakuti penguasa.

Kelompok musik The North Palm mengeluarkan single terbaru berjudul “Mantra” bercerita tentang kekuatan penguasa yang destruktif mulai dari ekploitasi, degradasi, manipulasi, persekusi, intimidasi dan represi. Single ini mengingatkan kita semua bahwa masih banyak pelanggaran hak asasi manusia di negara ini, dan mejaga kesadaran kita bahwa rakyat masih belum terbebas dari rasa takut dari para peguasa.

Mantra” diproduseri oleh Imam Agnianto dan Trisno Agung dari Smartest Bomb Records selaku label yang merilis single “Mantra”. Single ini digarap oleh Silvester Kia pada Vokal dan Gitar, Guenandar pada Gitar, Pius Baha Rebong pada Gitar Bas dan Gatot Teguh pada Drum. Untuk memperkuat daya magis lagu ini The North Palm bekerjasama dengan Mondo Gascaro musisi pop-jazz ternama untuk mengaransemen orkestra pada lagu ini. Dengan sayatan Violin, Viola dan Cello, Mondo memberikan Mantranya untuk menyihir para pendengar.

Mantra” direkam di RED Studio pada Desember 2019 hingga Februari 2020. Tata suara mixing dan mastering dipercayakan pada Dicky Fauzan. Tata visual untuk cover “Mantra” dibuat oleh Trisno Agung bergaya modern perpaduan antara gelombang suara dengan tulisan nama-nama orang hilang yang disematkan di dalamnya.

Musik dan lirik di lagu ini ditulis oleh Silvester Kia, masih menampilkan ciri khas The North Palm sebagai unit yang mengusung musik post punk revival era 70 hingga 80an. Sedikit berbeda dengan materi-materi sebelumnya “Mantra” menampilkan nuansa post punk yang lebih padat dan megah, efek gemetar dari sayatan gitar dan hook drum yang menghentak serta sentuhan orkestra memberikan nilai lebih pada lagu ini.

Lagu berdurasi 4 menit 25 detik ini sudah dapat disimak di berbagai platform musik digital dan dapat diunduh di https://thenorthpalm.bandcamp.com/track/mantra sebelum kemudian tampil dalam format !sik yang akan segera diedarkan.

“Mantra” dirilis pada 30 Agustus 2021, bertepatan dengan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional. Berbagai bentuk penghilangan paksa belum mampu ditangani oleh negara. Sejak bergulirnya reformasi 21 tahun yang lalu, yang harusnya dimaknai sebagai titik balik negara untuk segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat, nyatanya tidak ada sama sekali kebijakan negara untuk segera melakukan penuntasan kasusnya. “Mantra” didedikasikan untuk para korban penghilangan paksa dan bentuk penentangan terhadap tindak penghilangan paksa yang masih terus menghantui kehidupan berdemokrasi kita.

====================================================================================

For more info:

Instagram: @thenorthpalm 

Twitter: @thenorthpalm 

Facebook@thenorthpalm  

Youtube: The North Palm 

Spotify: The North Palm

Related Blogs

    Share