6Temu Komunitas Film Indonesia (TKFI) 2016 baru saja kelar, tapi kerja keras yang sebenarnya baru mulai. Selama 25-27 Maret, 300 lebih pegiat film datang dan berkumpul di Villa Kayu Palem, Baturraden. Berbagai program mereka ikuti: layar tancap, kelas, forum pendanaan, presentasi tentang film Indonesia. Ada juga forum-forum diskusi informal, yang diadakan para tamu dan peserta di antara kegiatan-kegiatan yang dijadwalkan panitia. Meski badai sempat menerjang Baturraden pada hari kedua acara, para tamu dan peserta pulang dari TKFI dengan banyak cerita dan teman baru.
3“Selama tiga hari ini, begitu banyak cerita yang terbagi, begitu banyak informasi yang terkumpul,” ujar Dimas Jayasrana, salah satu penyelenggara TKFI. “Kita bicara tentang pengolahan data, koordinasi komunitas, penguatan jaringan, dan sebagainya. Kerja keras sebenarnya baru mulai setelah acara ini selesai.”
TKFI merupakan ajang pertemuan antara komunitas-komunitas film se-Indonesia. Selama Februari, TKFI membuka pendaftaran untuk kelas dan forum pendaftaran. Untuk kelas, terkumpul 345 peserta mewakili 95 komunitas dari 33 kota atau 14 provinsi. Untuk forum pendanaan, panitia menerima 18 proposal dari 17 komunitas dan satu perseorangan. Lima proposal kegiatan terpilih untuk presentasi di hadapan dewan juri saat penyelenggaraan TKFI, yaitu proposal milik Ruang Film Bandung, Komunitas Gubuak KopiSolok (Sumatera Barat), Komunitas Kedung (Kebumen), Kine Klub UMM (Malang), dan Liarliar Films (Solo).
Setelah para pengaju proposal mempresentasikan programnya, dewan juri memilih Kine Klub UMM dengan program “Malang Film Festival” dan Komunitas Kedung dengan program “Sinema Kedung Meng Desa-desa” sebagai penerima dana dukungan sebesar 5.000.000,-. Kawan-kawan Kine Klub UMM dan Komunitas Kedung juga akan mendapat kesempatan untuk mengumpulkan dana tambahan secara crowdfunding melalui wujudkan.com, dengan bimbingan tim Wujudkan dalam mempresentasikan program mereka melalui kampanye media sosial.
Satu hal yang ditekankan panitia pada penerima dana dukungan: lima juta yang mereka terima hanyalah modal awal atau initial fund. “Kami berharap pemenang tidak berpikir bahwa acaranya hanya bermodalkan lima juta saja. Hadiah tersebut misalnya, bisa kalian pakai untuk bayar DP, sewa mobil, dan lain-lain. Jadi ada value yang bertambah.” Dimas juga menambahkan bahwa akan ada penyelenggara yang memegang masing-masing pemenang. Sifatnya lebih ke advokasi, bukan monitoring—membantu dan menemani mereka, bukan mengawasi.

2Keriaan di Banyumas Raya
Panitia mencatat sekitar 275 orang, dari 345 peserta yang terdaftar untuk kelas, hadir di TKFI. Selain itu, turut hadir lebih dari empat puluh tamu dan perwakilan komunitas, yang sebenarnya tidak mendaftar untuk kelas maupun forum pendanaan, tapi ingin ikut meramaikan pertemuan akbar ini.
Bowo Leksono, direktur CLC Purbalingga, membuka malam pertama TKFI pada 25 Maret. Ditemani gerimis tipis dan ratusan peserta, Bowo menyambut kawan-kawan pegiat komunitas film yang hadir di Villa Kayu Palem.
“Terimakasih kawan-kawan semua, yang datang dari berbagai pelosok nusantara, yang sudah rela jauh-jauh ke Baturraden atas waktu dan dana sendiri. Sampai dengan 27 Maret nanti, kita akan saling bertukar cerita, berbagi informasi, dan tentu saja bersenang-senang,” tutur Bowo dalam pidato pembukaan. “Pertemuan ini diselenggarakan dari, oleh, dan untuk komunitas film, yang kami yakini sebagai sokoguru perfilman Indonesia. Selamat datang di bumi Banyumas Raya!”
Selama TKFI 2016, CLC Purbalingga berperan sebagai tuan rumah, yang mengupayakan akomodasi dan kelengkapan fasilitas di lokasi acara bagi para peserta dan tamu yang hadir. Kerja keras CLC Purbalingga sebagai tuan rumah dilengkapi oleh Jaringan Kerja Film Banyumas, Cinema Poetica, boemboe, Serunya, dan Viddsee yang berperan sebagai pengelola program. Turut terlibat Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai mitra kerja, sebagai upaya koordinasi kerja-kerja komunitas dengan skema pengembangan perfilman nasional. Selain itu, ada Pemprov Jawa Tengah, Ayo! Film Indonesia, Blackmagic Design, dan PT Pegadaian sebagai pendukung acara.

7Setelah Bowo Leksono turun dari panggung, malam pembukaan berlanjut dengan layar tancap yang memutarkan tiga film pendek: Peronika (2002) karya Bowo Leksono, Jalan Sepanjang Kenangan (2007) karya Eddie Cahyono, dan El Meler (2001) karya Dennis Adhiswara. Tiga film pendek ini dipilih karena latar sejarahnya yang erat dengan komunitas film.
“Kami ingin kawan-kawan komunitas film yang hadir juga bisa menengok sejarah yang mendahului mereka, yang terwakili melalui tiga film ini. Pada zamannya, film-film ini banyak meramaikan pemutaran-pemutaran di tingkat komunitas,” jelas Adrian Jonathan, anggota tim penyelenggara yang menyusun program film pembuka TKFI. “Selain itu, tiga film ini dipilih karena gayeng, menyenangkan untuk ditonton bersama-sama, di layar tancap dan alam terbuka.”
Keriaan pada malam pembukaan berlanjut pada hari berikutnya. Masih ada peserta yang berdatangan pada subuh atau pagi hari. Mereka berkumpul di antara tenda atau di depan villa peserta, mengobrol sembari mengisi waktu sebelum kelas mulai pada siang harinya. Ada yang berkumpul di sekitaran gerobak jajanan, bertukar cerita sembari mengemil pecel kecombrang atau sate kelinci. Ada juga yang duduk-duduk di teras villa, berkenalan, bercanda bersama, bahkan bertukaran film.
Kelas pertama adalah kelas penulisan proposal bersama Idaman Andarsmoko pada 10.00 WIB. Selang tiga jam, berlangsung lima kelas secara paralel: kelas pengelolaan pemutaran dan festival film bersama Lulu Ratna dan Amin Shabana, kelas pengelolaan teknis pemutaran film bersama Ahsan Andrian, kelas kritik dan apresiasi film bersama Adrian Jonathan Pasaribu dan Makbul Mubarak, kelas distribusi dan teknologi bersama Dimas Jayasrana dan Dennis Adhiswara, dan kelas penulisan skenario bersama Perdana Kartawiyudha.

Semua kelas dalam TKFI, kecuali kelas penulisan skenario, menyasar pada kegiatan perfilman nonproduksi. “Mengacu pada observasi kami, masalah-masalah produksi sudah bisa diselesaikan oleh kelompok masing-masing. Yang menjadi persoalan adalah setelah produksi mau kemana. Ini yang jarang diomongin, setidaknya belum pernah menjadi fokus di temu komunitas sebelumnya,” jelas Dimas Jayasrana. Para pemandu kelas adalah orang-orang yang juga lahir dari komunitas film. Mereka adalah profesional di bidang mereka masing-masing. Harapannya, mereka bisa diajak bertukar pikiran perihal siasat untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada dalam sebuah komunitas.
Kira-kira pada 15.00 WIB, ketika lima kelas paralel sedang berlangsung, hujan deras mengguyur Baturraden, tidak terkecuali Villa Kayu Palem yang menjadi lokasi acara TKFI. Beberapa tenda peleton, yang dipakai sebagai kelas, hampir terbang diterjang angin. Beberapa lainnya kemasukan air.
Peserta, yang semula berada di tenda besar yang dipakai sebagai kelas, berlarian menuju villa. Beberapa membantu panitia mengevakuasi peserta lainnya, jugamemindahkan barang-barang dalam tenda ke dalam villa. Nyatanya badai tidak menyurutkan semangat peserta dan panitia untuk melanjutkan acara. Setelah reda, para pemandu kelas melanjutkan kelas mereka di sejumlah pojok lokasi acara. Para panitia kembali menggotong kardus-kardus makanan untuk konsumsi peserta, menyiapkan layar dan panggung untuk acara lomba karaoke pada malam penutupan.
“Kawan-kawan sudah jauh-jauh datang ke Baturraden. Bahkan ketika badai, mereka ikut membantu. Mereka semua ingin dan senang berada di sini. Dan kami tentu saja ingin membalas semangat dan antusiasme kawan-kawan semua dengan menjadi tuan rumah yang baik,” ujar Nanki Nirmanto selaku direktur operasional TKFI 2016. “Sejak awal, kami berkomitmen jadi tuan rumah yang baik. Kami akan memenuhi komitmen itu sampai acara kelar.”
Sensor dan Daya Hidup Komunitas

5Malam penutupan dimulai setelah makan malam, kurang lebih pada pukul 20.00 WIB. Abdul Kharis dan Mujib Rohmat, anggota DPR RI Komisi X dan Panitia Kerja Perfilman Nasional, serta Maman Wijaya, ketua Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, turut hadir dalam malam penutupan.
Malam penutupan dimulai dengan presentasi Adrian Jonatan Pasaribu perihal perfilman Indonesia hari ini, khususnya terkait sensor film dan persebaran bioskop. Membicarkan bioskop berarti juga bicara film apa yang bisa kita tonton di bioskop. Bioskop jelas tidak bisa menerima semua jenis film, karena ada kebijakan kurasi tersendiri dan strategi bisnis—suatu hal yang bisa kita pahami dari sebuah usaha dagang. Konsekuensinya, dari tahun ke tahun, tercipta kesenjangan yang besar antara jumlah film yang diproduksi dengan film yang tersampaikan ke publik. “Sedikit film yang bisa diakomodir, sedikit pilihan film yang tersedia bagi publik, sedikit kalangan warga juga yang bisa dilayani,” ujar Adrian.
Hal tersebut semakin dipersempit oleh kebijakan sensor perfilman kita saat ini. Adrian turut menyinggung pernyataan Lembaga Sensor Film belakangan ini, perihal kewajiban menyensor film untuk pemutaran di tingkat komunitas. Dalam presentasinya, ia mengajak para hadirin TKFI untuk mempertanyakan, “Kenapa cara kita berkarya harus disentralisir? Kenapa juga penerimaan kita terhadap film harus ditentukan oleh segelitir orang saja?” Hal-hal tersebut, menurut saya, yang menjadikan alasan penting kenapa komunitas film harus berkumpul dan memikirkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini.
Komunitas film mengisi ruang-ruang yang selama ini tidak atau belum disentuh oleh negara dan pasar, melalui pengadaan festival, pemutaran, apresiasi, kritik, dan sebagainya. Banyak dari peserta yang datang dari daerah-daerah yang tidak terdapat bioskop, seperti Purbalingga, Jombang, Probolinggo, Sukabumi—kota-kota yang selamaini tidak pernah disebut dalam khazanah film Indonesia.
Adrian menekankan juga pentingnya keterhubungan antarkomunitas agar mempunyai kesempatan untuk hadir di politik perfilman secara nyata dengan daya tawar yang konkrit—salah satunya dalam menelaah sensor. Keterhubungan antarkomunitas memungkinkan lahirnya upaya-upaya membentuk berbagai cara pandang dan cara apresiasi, yang vital perannya untuk melahirkan ruang akses film yang beragam. Hasil akhirnya berupa sinergi kerja antara penyelenggara, negara, dan pelaku pasar. Bioskop berkontribusi secara ekonomi melalui produksi dan distribusi secara komersil. Komunitas berkontribusi dalam distribusi, apresiasi, pembukaan akses publik, hingga penyebaran pengetahuan.
Abdul Kharis menyampaikan bahwa timnya tengah melakukan pengawasan pada Undang-undang no 33 tahun 2009 tentang Perfilman. Ia menyebutkan bahwa jumlah film Indonesia tidak kunjung naik, bioskop tersentralisir, dan masyarakat tidak sedikit yang tidak punya akses ke gedung bioskop. Menurut beliau bioskop perlu digolongkan menjadi beberapa kelas, dalam rangka mengakomodir sifat dan karakter penonton yangberagam.
Beliau menyampaikan bahwa badan sensor sampai sekarang masih di bawah Komisi I (Komisi Pertahanan dan Keamanan). Di sisi lain, film adalah produk budaya. Melihatnya pun idealnya dengan sudut pandang budaya, bukan melalui perspektif produk keamanan atau ketahanan. Beliau berharap, sensor bukan lagi dilakukan dari anggota lembaga sensor, tapi dikembalikan kepada para pembuat film—yang notabene adalah mekanisme kerja sensor film saat ini.
Pada malam penutupan tersebut, Maman berkesempatan memperkenalkan Pusat Pengembangan Perfilman, bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengurusi kegiatan dan usaha perfilman nasional. Kegiatan perfilman merupakan semua aktivitas perfilman yang tidak berbasis pada bisnis, sementara usaha perfilman berorientasi pada bisnis. Penjabaran ini seolah menanggapi pernyataan penutup dari presentasi Adrian beberapa menit sebelumnya, “Faktanya, sebuah negara tidak tumbuh hanya karena investasi ekonomi, tapi juga karena investasi budaya. Dan investasi budaya itulah yang kawan-kawan komunitas selama ini perjuangkan. Tanpa sinema, apalah kita.”
Setelah presentasi selesai, keriaan malam penutupan TKFI berlanjut dengan lomba karaoke.
Pasca Temu Komunitas
Pertanyaan para peserta dan tamu pada penghujung TKFI, setelah ini apa? Kapan TKFI akan diadakan lagi?
Menurut Dimas Jayasrana, TKFI idealnya dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Denganpertimbangan satu tahun di antaranya dimanfaatkan untuk meninjau. Hal itu melihat
pada fungsi TKFI 2016 sebagai ajang berjejaring. Jadi bentuk tinjauannya lebih pada pengamatan tentang aktivitas jejaring antarkomunitas, bukan pengawasan terhadap kerja-kerja besar antarkomunitas—karena memang TKFI 2016 tidak menyasar hal tersebut.
“Tahun depan kita bersama-sama akan lihat mereka, bagaimana mereka masing-masing mengimplementasikan hasil kenalan mereka kemarin, adakah yang menjadi hambatan. Jadi lebih pada pembacaan atas hasil ketemuan kemarin,” jelas Dimas.
Agenda terdekat para penyelenggara TKFI adalah menyiapkan mekanisme kerja dan sumber daya manusia untuk mendampingi para penerima dana dukungan dari Forum Pendanaan. Para penyelenggara akan bertemu lagi dengan perwakilan Kine Klub UMM dan Komunitas Kedung untuk merumuskan langkah-langkah kerja dan berbagi sumber daya. Selain itu, para penyelenggara akan mengolah semua data dan informasi yang terkumpul selama TKFI, dan menyiapkan sarana yang tepat guna untuk menyajikan hasil olahan data bagi khalayak seluas-luasnya.
“Seperti yang sudah bilang tadi, kerja keras sebenarnya baru mulai setelah ini,” ujar Dimas sambil tersenyum.
Kontak media

Telepon : 081285975183

Kontak : temukomunitasfilm@gmail.com

Situs : temukomunitas.cinemapoetica.com

Related Blogs

    Share