foto1Lima tahun telah berlalu dari mini album pertama mereka “Menari Bersama”. Lewat mini album tersebut mereka bergerak perlahan, berputar dalam lingkaran yang samar kadang ada kadang tiada. Selama lima tahun perjalanan ini, mereka selalu berfikir bahwa musik hanyalah sekedar media yang bisa diputar dan didengar kemudian memberikan kegembiraan bagi teman-teman yang mendengar. Tapi waktu meminta kami agar bergegas tumbuh dewasa, menciptakan karya-karya anyar yang dapat menjadi pembuktian diri dan juga memuaskan teman-teman yang sudah dengan sepenuh hati mendengarkan dan mendukung mereka.

Tiga tahun lebih mereka melalui proses rekaman album penuh, sesekali mereka tersesat, kadang terjatuh bahkan kebingungan. Lewat proses pencarian yang panjang tersebut akhirnya jadilah “Hutan Dalam Kepala” sebagai judul album penuh perdana mereka yang hidup seiring perjalanan serta pengalaman yang mereka tempuh selama proses “ia” dibuat. Album penuh ini mereka rekam di studio 9 Matahari dan dibantu oleh Dissa Kamajaya sebagai produser. “Hutan Dalam Kepala” yang terus tumbuh beriring bersama proses pendewasaan mereka menyadarkan mereka bahwa musik seharusnya ada begitu dekat, mampu menebar makna hingga nantinya mampu menuai cerita-cerita baru bukan sekedar media putar yang bisa didengar.

Perjalanan ini adalah media mereka untuk memperkenalkan beberapa lagu mereka yang terdapat dalam album Hutan Dalam Kepala. mereka akan membawa memorabilia berupa CD EP Berjalan Menuai yang mereka buat khusus untuk teman-teman yang mereka jumpai selama perjalanan dan dalam perjalanan ini mereka hadir dengan pernyataan #bernyanyidimanasaja, sebab mereka merasa musik seharusnya mengisi dan ada dalam setiap ruang tanpa perlu dibatasi oleh berbagai hal.

Mereka ingin hadir dalam nyata tidak sekedar ada dalam alat pemutar musik, berada dekat dan memberi hangat kepada teman-teman yang bahkan berada bermil-mil jauhnya. Alasan lain yang juga menguatkan mereka adalah energi besar yang terpendar begitu saja kepada mereka dari teman-teman di Bandung, Makassar, Bali, Malang, Surabaya, Jogja, Cirebon. Mereka mengukuhkan keyakinan untuk mulai berjalan agar dapat menuai apapun yang nantinya dapat ditemukan entah itu hal baik ataupun buruk.

Maka  Teman Sebangku bersiap untuk “Berjalan Menuai”. mereka akan hadir lewat panggung-panggung alternatif di 6 kota ini, berbagi dengan teman-teman komunitas kreatif di tiap kota dan tentunya bereksplorasi mengisi dahaga apapun yang saat ini sedang melanda mereka. Dan seperti sedang dalam gelombang yang sama, teman-teman di 6 kota ini mengupayakan dengan sekuat tenaga apa yang menjadi harapan dan impian mereka. Sementara untuk album Hutan Dalam Kepala sendiri akan dirilis bertepatan dengan Record Store Day di Bandung pada tanggal 16 April 2016.

Sampai berjumpa di persimpangan jalan, salam hangat Teman Sebangku

Related Blogs

    Share