Di kecepatan denyut 166 beats per minute dan titian waktu 4 menit 38 detik, karya berjudul “Bertapa” meramu irama dengan musik dan lantunan. Grup musik dari Semarang, Tanpanada, bersama aliran yang tak tentu, melahirkan satu lagu.

Karya ini hadir sendiri, di luar album musik yang diluncurkan secara daring pada 10 Desember 2017 lalu bertajuk Diorama Kakofoni oleh label Sejahtera Idea Production.
Kami, yang terdiri dari Erick (vokal), Fajar “Cepot” Leksono (vokal), Aristyakuver (etnik), Lutfi Firmansyah (Gitar/Vokal), Adi “Kempul” Prasetyo (gitar), Samid (bass), dan Lazuardy “Ambon” Inu (drum), memperlakukan puisi dalam konteks lirik.

Bagi kami, nada merupakan aliran, yang muncul dari setiap kata dengan bentuk suaranya. Kuncup tersebut kemudian merekah dan kami tangkap sebagai irama. Muncul kolaborasi dari kata, bunyi, hingga olah digital.
Hasil olahan itu dirangkai di Studio Musik 4WD, Jalan Sukarno-Hatta, Pedurungan, Semarang. Kami percayakan cita rasa tata suaraSound Engineer, Hamzah Kusbiyanto, yang juga menangani album kami.
Musik berkonsep akustik kami pilih untuk mengawali alunan di awal lagu. Kami anggap, akustik merupakan kejernihan. Alat tiup dari Jepang, Shakuhachi melengkapinya. Seruling itu, dalam konsepnya, mempunyai lantunan yang bersinergi dengan air. Aliran yang jernih.

Di menit 2.05, alat musik tradisional bernama Karinding di Jawa Barat dan Genggong di Bali menjadi latar deklamasi puisi. Alat musik yang dekat dengan tradisi persawahan ini membentuk ruang kontemplasi.
Lagu “Bertapa”, mewakili proses kontemplasi dalam kejernihan diri. Dia adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Mulai lahir, tua, dan mati.

Tentu tidak berusaha untuk mengikat kesimpulan. Setiap penikmat karya kami, diizinkan bertelaah di ruang pribadi. Termasuk melawan pola pikir yang sudah kami simpulkan di masing-masing benak kami.
Hal tersebut muncul pula saat penggarapan klip video. Di tangan, Tri Setio Anggoro (@anggagemb)dan Panji Rochmat Aprizal(@julpanji), lagu “Bertapa” mendapatkan cerita yang berbeda. Disandingkan dengan Kidung Paramadita dan Aristya Kusuma Verdana sebagai aktor, serta latar tempat di Hutan Tinjomoyo, Kota Lama, dan Taman Budaya Raden Saleh, aktivitas visual terjadi.
Konsep yang dipilih adalah warna hitam dan putih. Kontemplasi kembali bertunas. Di satu warna, gradasi memunculkan detail peristiwa. Gerak tubuh berselaras dengan alunan alam. Manusia, hidup di realitas dalam dirinya dan di luar dirinya. Alam, sosial, serta budaya. Kesadaran untuk hidup, lebih hidup.

====================================

Social Media

facebook.com/TANPANADApage
instagram.com/tanpanadasemarang

Tanpanada Profile

https://g.co/kgs/1BXC65

Related Blogs

    Share