sprsd11

Sepanjang 2017-2018, setelah terlelap bertahun-tahun, band asal Jimbaran, Bali, Supersoda terlihat kembali disibukkan dalam penulisan lagu, penggarapan album dan intensitas manggung. Dengan benang merah yang lebih tegas, mereka menawarkan album self-titled yang terinspirasi dari indie-pop, rock, dan folk.

Menjelang momentum rilis album, sebuah single disiapkan, berjudul “Sisakan Aku“. Single ini bercerita tentang bagaimana mengenang semua hal yang berarti di masa lalu.

“Lagu ini mengenai mengenang kembali simbiosis atau silaturahmi di masa lalu, karena saat ini tentulah sudah banyak hal-hal yang berlalu dari hidup kita. Lagu ini bisa diinterpretasikan secara multidimensional. Bisa berupa kenangan dengan orang-orang yang berarti dalam hidup kita, bisa juga hubungan manusia dengan alam sekitar,” papar Windu, si vokalis/ kibordis.

Secara sepintas, lagu ini bernuansa rock, diselingi oleh aroma dream-pop, pun sarat dengan bebunyian synth dan piano. Bedanya, “Ya, di materi album kami ini, memang absen instrumen gitar,” tambahnya. Ketiadaan gitar justru memicunya untuk mengeksplorasi elemen-elemen yang berasal dari keyboard, pun instrumen virtual yang berasal dari komputer dan iPad.

Untuk band yang sudah lunglai bertahun-tahun, menyelesaikan album tentulah terdengar hampir mustahil. Butuh keberanian ekstra untuk membangun kembali motivasi, waktu dan tenaga. “Kami ingin menyelesaikan apa yang kami mulai,” tegas Gusdek, sang drummer. “Kendala tiap hari pasti ada, tapi obatnya ya cuma kemauan,” pungkasnya.

Bagaimana dengan penggarapan album? Ya tentu, di sela-sela kesibukan masing-masing personil, tidaklah mudah menemukan jadwal untuk proses album. Di sela berbagai tantangan, beruntunglah mereka memiliki teman-teman yang bersedia membantu, baik teknis maupun support moral, seperti Deny Surya, Ardy Bolank, Ian J. Stevenson, dan masih banyak lagi.

Selain bantuan dari teman-teman musisi, tak kalah berharganya adalah bantuan artistik. Desain cover depan dikerjakan oleh seorang sahabat, Jakob Tranberg, yang dikenal kerap menggarap cover untuk banyak musisi internasional, seperti Aqua, Safri Duo, The Raveonettes, DAD, Tim Christensen, dll. Seniman kawakan Bali, Putu Ebo juga memberi andil dalam penyemaian artwork.

Serampung proses rekaman, sang bassist, David memilih untuk mengejar kariernya sebagai musisi profesional lintas benua. Posisi kosong segera diamankan oleh Dimas Natsir, yang sebelumnya dikenal sebagai bassist band Caroline, dan juga kerap mendukung Morelia.

Supersoda berharap bisa menambahkan segores warna baru dalam scene musik di Indonesia, khususnya Bali.


Supersoda (formasi album):

Gusdek Dwija Negara (drummer, backing vocal)
Windu Estianto (keys, synths, lead vocal)
David Christian Pattinasarany (bass)

===============================================================================

For more info: @supersoda_id

Related Blogs

    Share