Pasca melakoni undangan manggung di Quebec City, Canada dan rilisnya albumpertama Control Ur Mind (2015), banyak hal yang terjadi didalam tubuh Streetwalker dan juga di lingkungan sekitar mereka. Sebagai sebuah band yang memulai karir bersama sejak dari
SMA, mereka berempat harus kembali lagi berkompromi dengan realitas tugas dan tanggung jawab studi sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi masing-masing. “Iya, gw yang paling telat lulus lah bisa dibilang, kira-kira di awal tahun 2017, dan waktu itu situasi sosial politik sekitar juga lagi panas panasnya , cukup jadi inspirasi buat
akhirnya lagu Worshipper ini kebentuk,” jelas Agung.

Worshipper sengaja didaulat sebagai sebuah single, karena bagi mereka lagu ini jauh berbeda dari album Streetwalker yang pertama, dan juga mungkin menjadi sajian pembuka
dan jembatan untuk album kedua mereka nanti. Dari segi lirik, Tamjidi menjelaskan bahwa ia berkontemplasi dengan sisi gelap dari cepatnya informasi yang sangat mudah diakses melalui berbagai medium. “Kita sebagai bagian dari unit sosial akhirnya terpecah belah menjadi kubu-kubu yang mengamini faham yang amat sangat beragam. Ya, sebenarnya itu hal yang wajar sih. Tapi, fokus kami lebih mendalam tentang bagaimana seharusnya warga negara dapat berkontribusi lebih demi kemajuan negara, berpartisipasi aktif dan bersatu padu, bukan justru malah melakukan tindakan yang mengganggu kedaulatan. Karena apa jadinya negara jika tidak adanya
persatuan?” terang Tamjidi.

Dari segi materi banyak pula perubahan yang Streetwalker tawarkan pada lagu Worshipper ini. Andika menjelaskan “Kita mulai menjelajah ke zona-zona baru sih, berkenalan dengan nama-nama seperti, Budgie, Funkadelic, Fuzzy Duck sampai generasi-generasi berikutnya seperti Mink Mussel Creek, Pond, Kikagaku Moyo, dan Goat.”
Mereka menjelaskan bahwa mulai sangat menikmati durasi-durasi lagu yang cukup panjang, komposisi-komposisi yang tidak istiqomah dengan sajian tata suara yang mentah.

Mungkin, atas dasar itulah, akhirnya terciptanya lagu Worshipper. Kenapa? “Mungkin karena kuping kita ga bisa lepas juga dari karya-karya yang maha kuasa Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Pink Floyd.” terang Rian. “Tapi tenang, walaupun panjang, berteriak dan Headbang
berjamaah masih kita kedepankan,” Tamjidi menambahkan. Streetwalker menyajikan durasi sekitar 12 menit untuk menemani kalian didalam
segala suasana hati dan pikiran. Secara proses rekaman, lagu ini mereka produseri sendiri bersama dengan Fariz (Manajer) mereka, serta Arif Tope dan Ardy Pangihutan (Horse Planet Police Department) sebagai sound engineer rekaman hingga mixing dan mastering. Proses
rekaman dikerjakan atas kerjasama dengan SSR Jakarta melalui bantuan Batara Swandita.

Sebagai tanda dari rilisnya Worshipper, vokalis Hafidz Tamjidi, gitaris Agung R Lubis, bassist Rian Arfiansah, dan drummer Andika Rahimy berwasiat kepada kalian semua untuk selalu tetap menjadi warga negara yang bijak, dan bertanggung jawab diatas nama persatuan.
Mereka menambahkan lagi akan satu hal yang paling penting, “Berhati-hatilah
terhadap Invisible Hand.”

=====================================
SOCIAL MEDIA:
Email: streetwalkerofficial@gmail.com
Instagram : instagram.com/swlegend
Facebook : facebook.com/streetwalkerofficial


Related Blogs

    Share