0Teman Anjing adalah sebutan bagi mereka yang bergabung menjadi Tim Sukses gerakan Stop Buang Anjing. Gerakan ini pertama kalinya dibangun oleh salah satu musisi Bali yaitu Ajik dari band The Bullhead. Ayah dua anak ini merasa prihatin dengan nasib anjing Bali saat ini, yang tersisihkan di tanah kelahirannya sendiri.

Saat ditemui di event NGO Fair pada tanggal 14 Agustus lalu, Ajik mengatakan “8 tahun sudah Bali menjadi Zona Merah Rabies, dan ini belum bisa dibereskan oleh pemerintah, yang rugi kan bukan anjingnya saja tapi juga manusianya”

1Karena kecemasan Ajik terhadap masalah tersebut, akhirnya tercetuslah ide untuk membuat sebuah kampanye anti kekerasan pada satwa (khususnya anjing) STOP BUANG ANJING. Tidak bermaksud menjadi pesaing dari pemerintah yang sudah punya solusi lebih dulu (yaitu Eleminasi dan Vaksinasi). Menurutnya, eleminasi bukanlah solusi yang efektif karena anjing yang tereliminasi tidak hanya anjing yang terjangkit virus, tetapi juga anjing yang kondisinya sehat. Beberapa Anjing sehat ini memang hidup liar di beberapa tempat dan sulit untuk di vaksin karena tidak ada pemiliknya.

2Jika melihat dari aspek kesejahteraan hewan, hidup Anjing liar ini sangat penuh dengan resiko. Mulai dari tertabrak kendaraan yang melintas, sampai dengan diculik untuk dijual ke warung RW (sebutan untuk penjual daging anjing untuk konsumsi). Sedangkan jika melihat dari aspek kesehatan manusia, anjing liar berpotensi menyebarkan virus Rabies.

“Masalah berantai inilah yang menurut saya bermula dari kebiasaan membuang anjing, mau dibasmi (Eliminasi) sebanyak apapun, kalau masih ada yang suka buang Anjing, Rabies di Bali ga akan pernah tuntas” jelas Ajik.

Kemudian tawaran solusinya apa?

Tawarannya adalah dengan menghibahkan (adopsi) anjing yang tidak diinginkan, dan Sterilisasi induk anjing untuk mencegah anak anjing yang tidak diinginkan tersebut. Selama ini Rabies cepat menyebar karena populasi anjing yang tidak terkontrol. Kebanyakan pemelihara juga kurang mengetahui manfaat baik dari mensteril anjing miliknya. Hanya 10% anak anjing yang lahir mendapatkan pemelihara yang bertanggungjawab. Sisanya? Berakhir menjadi anjing yang terbuang, tidak terawat dan berkontribusi besar menyebarkan virus Rabies.

“Saya yakin semua orang Bali paham hukum sebab akibat, jadi jangan selalu menyalahkan anjing” tambah Ajik.

Gerakan ini mendapat apresiasi Yayasan Seva Bhuana, yayasan nirlaba di Bali yang juga bergerak dibidang edukasi untuk kesejahteraan hewan.

3“selama ini yayasan rescue satwa sih banyak, tapi yang memberikan edukasi tentang satwa dan lingkungan masih sedikit, sehingga kami terdorong untuk membentuk yayasan ini. Dulunya kami adalah komunitas bernama Animal Shanti, lalu berkolaborasi dengan Bali Pet Crusaders yang sudah bekerja memberikan pelayanan sterilisasi anjing dan kucing liar maupun hasil rescuer di Bali” kata Drh. Nana, Ketua Yayasan Seva Bhuana saat ditemui di tempat yang sama.

5Seva Bhuana mendukung kampanye Stop Buang Anjing karena gerakan ini ada edukasinya dan tentunya berdampak baik juga pada lingkungan dan kehidupan manusia. Bentuk kerjasama ini dihadirkan dalam satu kesempatan di acara NGO Fair (Pameran Yayasan) yang bertempat di Annika Linden Centre, Jl. Bakung No. 19 Tohpati, Br. Kesiman, Kertalangu – Bali.

4Ikuti info & update gerakan Stop Buang Anjing di: @stopbuanganjing (Facebook, Instagram, Twitter).

 

Related Blogs

    Share