Setelah kami merilis single Natal tahun 2014 lalu, langsung banyak sekali rikues dari teman-teman pada
Sentimental Moods (SM) untuk juga membuat single Lebaran. Begitu banyak aktivitas dan lain-lain,
membuat rikues tersebut terus tertunda. Hingga akhirnya di bulan Ramadhan tahun 2018 ini, akhirnya
SM merilis juga sebuah single Lebaran yang merupakan cover version dari lagu karya komponis besar Ismail Marzuki.

Judul lagu ini banyak sekali versinya. Ada yang bilang “Hari Lebaran”, “Selamat Lebaran”, “Mohon Maaf
Lahir dan Batin”, “Selamat Hari Lebaran”, “Selamat Hari Raya Iedul Fitri”, dan masih ada lagi beberapa
versi lain. Sama dengan banyak versi kapan sebenarnya lagu ini dirilis. Akhirnya kami memilih judul
“Selamat Lebaran”, seperti versi pertama lagu ini yang dibawakan sebuah kelompok vokal bernama
Lima Seirama dan diperdengarkan pertama kali di RRI (Radio Republik Indonesia) sekitar tahun 1952.

SM sendiri akhirnya memilih lagu ini tentu bukan semata karena menganggap lagu karya Bang Mail
(panggilan akrab Ismail Marzuki) ini unik dalam struktur musikalnya (misal bagian reffrain-nya punya dua
signature/birama), tapi ternyata punya historis yang unik pula. Ada beberapa latar historis yang belum
tentu semua orang tahu tentang salah satu lagu Lebaran paling populer dan banyak dimainkan ulang ini
(termasuk populer dan di-cover musisi-musisi di negara-negara mayoritas Islam dengan lirik berbahasa setempat, seperti di Malaysia). Dari beberapa sumber, didapat bahwa:

1. Lagu ini diciptakan Ismail Marzuki sebagai kritik terhadap kondisi sosial masyarakat Jakarta dan
mungkin beberapa kota lain di Indonesia (setelah era revolusi kemerdekaan, 1950an). Bang Mail
mengungkapkan pendapat sarkastis terhadap pemimpin dan para pejabat Indonesia saat itu. Yap, saat
itu Indonesia memiliki sistem parlementer yang dipimpin seorang Perdana Menteri yang bergonta-ganti
cepat karena konflik politik hingga tak sempat menjalani program-program yang berpihak pada rakyat.
Makanya dengan sarkastis Bang Mail menyindir “Selamat para Pemimpin, Rakyatnya Makmur
Terjamin…”.

2. Saat itu mulai muncul para OKB (Orang Kaya Baru, terutama dari kalangan pejabat pemerintah dan
pengusaha yang sukses berkat KKN dengan pemerintah) di tengah mayoritas masyarakat yang
hidupnya di bawah garis kemiskinan. Termasuk keluarga mereka yang suka memamerkan kekayaan
dengan acara-acara eksklusif di kalangan mereka sendiri (dalam lirik disitir, “Kondangan Boleh
Kurangin…”, mungkin sekarang seperti kaum sosialita kali ya hehehe…), padahal hartanya ya dari hasil
korupsi (cek lirik “Korupsi Jangan Kerjain…”).

3. Sementara di kelas masyarakat bawah yang secara ekonomi miskin serba kekurangan, justru budaya-
budaya lama tetap terpelihara. Mereka boleh saja sehari-hari kekurangan, namun spesial untuk hari
Lebaran dibela-belain membeli “… Pakaian Baru Serba Indah…”, begitu kata salah satu lirik lagu ini.
Lebaran jadi momen masyarakat bawah untuk bergembira dan bertamasya, walau hanya sekadar jalan-jalan keliling Jakarta dengan Trem (semacam transportasi menyerupai kereta rel yang melintas di jalan-jalan raya, pernah ada di Jakarta dan Surabaya antara tahun 1869 dan akhirnya dibubarkan tahun 1960 karena dianggap sebagai biang kemacetan dan sering terjadi kecelakaan, terutama pada becak dan
oplet – semacam angkot era itu). Dengan kocak, Bang Mail menyitir prilaku kelompok masyarakat ini
yang memaksa tampil keren, baju dan sepatu baru, walau akhirnya berantakan dan kaki lecet hingga
sepatu baru pun ditenteng.

4. Karena liriknya yang kritis dan satir, lagu ini sempat dilarang diputar di RRI (satu-satunya radio saat
itu) di era Orde Lama (1950-1966). Akhirnya baru populer lagi di Orde Baru (1967-1998), tapi bukan
versi awal yang diputar. Lagu ini dibuat ulang oleh beberapa musisi dan band untuk kebutuhan radio dan
acara di TVRI (satu-satunya stasiun TV di era awal Orde Baru), namun berdasarkan instruksi pemerintah
(lewat Departemen Penerangan dan Komkamtib). Bahwa bait lirik yang boleh dinyanyikan hanya bait
pertama, dimaknai sebagai pujian atas kesuksesan pemerintah saat itu. Sedangkan bait lirik kedua dan
ketiga yang lebih kritis dihilangkan. Bahkan nama Ismail Marzuki pun (beliau wafat 25 Mei 1958 di usia
baru 44 tahun) lenyap sebagai komponisnya.

5. Akhirnya lagu “Selamat Lebaran” dengan lirik tiga paket bait ini dipopulerkan kembali di era tahun
2000an. Lewat berbagai media termasuk internet, akhirnya lagu kritis ini kembali ke asalnya sebagai
lagu satir yang humoris namun kritis. Nama Ismail Marzuki pun kembali terangkat sekaligus dianugerahi
sebagai Pahlawan Nasional tahun 2004. Termasuk memberikan jaminan dana dan sosial kepada janda lmarhum yang sempat hidup dalam kemiskinan bertahun-tahun sejak ditinggal almarhum, serta diurus
soal royalti atas lagu-lagu karya beliau.

Dirilis Sebagai Video
Single Lebaran versi Sentimental Moods ini diaransemen ulang dalam konsep hybrid, antara
instrumental dan sedikit vokal dengan mengambil sebagian reffrain lagu ini. Lagu ini sebagian direkam
secara live di studio Ptiga5 Jakarta, sedang mixing dan mastering dibantu sobat kami Mas Yus di Malang, Oh ya, kami memilih dua bait reffrain lagu ini, yang menurut kami masih sangat kontekstual dengan kondisi negeri kita saat ini:

Minal ‘aidin Wal faizin,
Maafkan lahir dan bathin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Maafkan lahir dan batin,
Lan taun hidup prihatin
Kondangan boleh kurangin
Korupsi jangan kerjain

Video ini digarap oleh Christian THP, yang tak lain road manager kami yang ternyata piawai juga
sebagai videografer. Konsep cerita diolah Christian dan teman-teman SM, menampilkan tenor
saksofonis kami, Yurie Fachran. Ceritanya berkisar tentang momen halal bi halal yang memang sudah
jadi tradisi di keluarga besar band ska instrumental yang sekarang bernaung di label Doggy House
Records ini. Lokasinya pun diambil di area Cipinang dan Banjir Kanal Timur di Jakarta, di mana studio
tempat teman-teman SM berkarya dan kongkow bersama.

Silakan dicek ya frens, dan mohon maaf lahir dan batin bila videonya kurang berkenan. Tapi bila suka,
boleh kali di-subscribe, di-like, dan tentu saja disebar ke teman, keluarga, pacar, istri, suai, selingkuhan,
tetangga, orang lewat… ke siapa saja deh.



Related Blogs

    Share