An Intimacy

AACC & Ingatan-Ingatan Tentangnya

Oleh Idhar Resmadi

 

Awal Februari 2008, saya satu dari sekian ratus manusia yang memadati Gedung Asia Africa Cultural Centre (AACC) – kini menjadi The New Majestic- untuk menyaksikan pergelaran konser band metal yang sedang merayakan perilisan albumnya malam itu. Semua berjalan normal sampai di tengah pergelaran terjadi kegaduhan di area belakang gedung. Penonton di luar merangsek masuk sedangkan kapasitasnya sendiri sudah terlampau padat. Seketika itu saya mendengarkan teriakan-teriakan, sesekali melihat orang-orang terjatuh pingsan. Situasinya berdesak-desakan. Mungkin sajakorban-korban yang jatuh pingsan itu akibat terhimpit kehabisan oksigen atau terinjak-terinjak akibat histeria massa yang luar biasa. Terekam dalam ingatan saya, semua peristiwa getir itu merenggut sebelas korban meninggal dunia. Tanpa perlu menyalahkan siapa-siapa, pasca-tragedi itu, AACC kemudian seperti monumen yang lekas ikut “mati”

.3Selepas peristiwa itu AACC seolah “dilupakan”. Mengingat AACC seperti menguak luka lama. AACC tak sepenuhnya aktif menjadi ruang kebudayaan lagi. Terdengar kabar alih fungsi menjadi rumah makan. Seolah semua menutupi ngatan-ingatan tersebut dan menghadirkan kembali AACC dalam bentuk baru yang menggelikan.  Asia Africa Cultural Centre (AACC) menyimpan banyak ingatan. Ingatan yang sepenuh nya tak hanya berisi peristiwa getir semata, menyaksikan peristiwa bermusik – setidaknya AACC menjadi saksi bersejarah band-band independen di Bandung ini. Sedari dulu gedung yang berada di antara Jalan Asia Afrika dan Braga ini merupakan salah satu sentrum yang banyak digunakan aktivitas bermusik.

 

AACC2

Beberapa kembalinya Pure Saturday setelah vakum sekian lama dan menggelar konser peluncuran album ketiga mereka, Elora. Karena Pure Saturday hadir dengan vokalis barunya. Itu menjadi momen penting ketika cibiran terus dialamatkan pada sang vokalis baru.  Kemudian juga, band-band “generasi baru” macamMocca, The S.I.G.I.T., Homogenic (kini HMGNC), hingga Polyester Embassy merayakan konser mereka di gedung bersejarah ini. Semuanya terhitung sukses dan mereka masih eksis dan menjulang namanya hingga kini. Tak hanya band-band lokal asal Bandung, di gedung ini pula band asal Denmark The Raveonettes membuat seketika derau yang sangat indah di seantero AACC beberapa tahun lalu. Atau tidak banyak yang tahu jika EfekRumahKaca pertama kali tampil di kotaini pun di gedung yang sama. Akan terlampau banyak dan kapasitas halaman pun tidak akan memadai jika harus menyebut satu per satu konser musik yang pernah digelar di AACC. Peristiwa itu mengingatkan kita akan gedung yang memiliki kharisma kuat dan nilai historis tersendiri.

Ingatan-ingatan itu menjadikan AACC tak boleh kita lupakan begitu saja. Terlepas dari peristiwa kelam tersebut, AACC adalah sebuah gedung pertunjukan yang memiliki nilai historis cukup apik. Setidaknya itu tersimpan dalam ingatan. Sudah menjadi kisah klasik menyoal kebutuhan gedung pertunjukan yang minim di kotaini. Pada satusisi, perubahan AACC menjadi tempat komersil sungguh memilukan. Karena Bandung sudah terlampau banyak rumah makan, apalagi hotel dan mall, tapi kebutuhan gedung pertunjukan merupakan urat nadi yang tak pernah putus.

Kalau ibarat putus pacaran, sudah saatnya kita move on. Peristiwa kelam yang pernah terjadi di AACC tak seharusnya membuat kita gagal move on dan terus menguak luka lama.Regenerasi yang kita butuhkan pun tak sebatas menanti kehadiran band-band baru yang akan memperpanjang nafas skena (cieeeskena) musik independen ini. Terlampau sempit jika kita hanya berpikir kesana. Kehadiran regenerasi dalam konteks ruang pertunjukan atau budaya (galeri, venue, bar, klub, tamanbudaya, hingga taman kota) juga satu kepentingan yang sedari dulu tak ada habisny aja dibahan obrolan di tiap tongkrongan. Di tengahwacana yang tak pernah habisnya mengenai hadirnya gedung kesenian/pertunjukan yang representatif, kenapa tidak mencoba memanfaatkan kembali ruang-ruang yang sudah ada. Seperti AACC ini.

Kemauan kita untuk terus menjaga ingatan tentang AACC dan menjadikannya pembelajaran merupakan langkah bijak untuk menghidupkan kembali ruang yang telah lama “mati” ini. Masa lalu tak hanya menyimpan luka, ia juga menyimpan beragam pelajaran. Sudah saatnya juga menghidupkan kembali AACC dengan segala gairah dan kesenangannya. Seperti memberikan nafas baru pada sesuatu yang boleh dikatakan “sekarat”. Boleh jadi, dengan segala pelajaran yang telah ada dapat menciptakan sesuatu yang lebih baik kedepannya. Hanya berharap bahwa ingatan-ingatan tersebutlah yang dapat menjadi pemantik bahwa gairah-gairah ini tak boleh berhenti. Sejarah juga membuktikan bahwa dinamika komunitas musik ini telah tertempa dengan beragam peristiwa. Isu lama – seperti minimnya gedung pertunjukan – juga bukan alasan krusial untuk berhenti berkarya. Kehadiran AACC dan peristiwa-peristiwa didalamnya merupakan kunci bahwa sejarah tak hanya milik mereka yang menjadi pemenang. Tapi sejarah juga milik yang mengingatnya – dan menjadikannya pembelajaran.

AACC

Batu Tapal itu Bernama An Intimacy


Malam itu 9 Februari 2008, Gedung AACC (Asian Africa Culture Centre) yang sarat sejarah tersebut dipenuhi metalheads. Sebelumnya ada Polyster Embassy dengan album ‘Tragicomedy’ juga The S.I.G.I.T dengan album Visible Idea of Perfection yang dilahirkan di gedung ini. Dan malam itu Beside siap merayakan peluncuran album terbarunya,”Against Ourselves”. Gedung pertunjukkan berkapasitas sekitar lima ratus orang tersebut nampak seperti sebuah pakaian berukuran small yang dilesakkan secara paksa kepada orang berbadan tambun. Sesak. Namun penonton terus berdatangan, layaknya semut mencium gula, yang sebenarnya pemandangan tersebut tidaklah aneh. Sekitar pukul 19:00, Beside mulai menjajal pentas yang berarti ini waktunya untuk mulai bersenang-senang dengan memanaskan pit dan melupakan sejenak kedegilan rutinitas bagi para metalheads. Namun jam-jam selanjutnya berubah mencekam, kita tahu kemudian ada sebelas orang yang nyawanya harus lunas diantara para penonton yang berdesakan menuju pintu keluar.
Kita berduka. Media saling menuding. Sanksi diberikan. Dan lilin-lilin dinyalakan mengenang mereka yang padam. Seorang jurnalis sepak bola pernah menulis, tidak pernah ada harga sebuah nyawa yang pantas untuk sepak bola. Kita harus katakan hal yang sama untuk musik.


Delapan tahun telah berlalu, semua telah banyak berubah ke arah yang lebih kondusif. Magnum Opus dari Prof. C.P. Wolff Schoemaker masih tegap berdiri, hanya nama yang berubah, New Majestic sekarang kita mengenalnya. Minggu lalu di tempat yang berbeda baru saja saya merasakan kembali panasnya pit hingga berkeringat, dengan melakukan crowd surfing dan ber-moshing ria di Program Party Seringai. Tidak ada polisi dengan tatapan tajam. Tidak ada lagi pelarangan. Semua bersenang-senang. Tentu ini adalah buah dari bibit perjuangan kawan-kawan di scene yang tak pernah lelah menyemai benih kreatifitas. Bisa kita saksikan, yang sempat patah kini tumbuh kembali.


Maka dalam delapan tahun ini berbagai pertunjukkan digelar dengan beragam semangat. Salah satunya An Intimacy yang kini telah memasuki edisi dua belas. Bukan waktu yang singkat. Melihat regenerasi yang sedari awal mereka tawarkan bisa kita lihat hasilnya. Meski terlalu dini jika dikatakan berhasil. Setidaknya perlu beberapa tahun lagi untuk bisa menilai gerak kolektif ini. Sebab jika kita bandingkan dengan Coup De Neuf yang memiliki semangat serupa, An Intimacy bisa dibilang masih muda.


Kawan-kawan An Intimacy pada edisi ini merasa bahwa band-band yang pernah tampil dalam An Intimacy perlu mereka bawa ke panggung yang lebih besar. Tidak seperti sebelumnya yang menggunakan Loubelle Shop sebagai venue, kali ini kawan-kawan An Intimacy memutuskan membawa mereka tampil di dalam gedung bersejarah, New Majestic.
Dalam peradaban, manusia berperilaku unik. Mereka yang hidup memerlukan bentuk fisik, padat material dari mereka yang telah pergi sebagai medium pengingat dan juga trigger. Di Swiss, Dying Lion of Lucerne dibangun untuk mengenang prajurit Swiss yang dibantai saat Revolusi Prancis tahun 1972. Mark Twain menyebutnya sebagai batu paling menyedihkan di dunia. Di luar Stadion Anfield, patung Bill Shankly di abadikan sebagai pengingat bahwa Liverpool pernah jaya. Di Bandung kita tidak memiliki monumen satupun seorang tokoh yang telah membuat dunia musik kita begitu menyenangkan atau untuk mengenang sebelas nyawa yang melayang itu. Namun kita memiliki dua gedung yang tegap berdiri sebagai saksi dan penanda dimana pernah di dalamnya beragam aliran musik di pentaskan; Saparua dan New Majestic. Dengan diadakannya An Intimacy diharapkan gedung yang memiliki catatan panjang dalam perjalanan musik arus pinggir di Bandung ini dapat kembali mengeluarkan aura dan daya magisnya.


Beberapa tahun ke belakang seperti kita ketahui komunitas-komunitas kolektif terus lahir. Masing-masing membuat micro-gigs dengan semangat yang sebenarnya kurang lebih sama; mewadahi talenta-talenta brilian yang terus bermunculan. Namun akan menjadi sesuatu yang besar apabila kemudian simpul-simpul komunitas ini dapat dikaitkan dalam satu tempat. Seperti apa yang terjadi di Saparua dahulu. Karena kita terlalu lelah berwacana mengharapkan gedung pertunjukkan musik yang dibangun Pemerintah Kota Bandung, maka upaya memberdayakan kembali New Majestic oleh-oleh kawan komunitas bisa menjadi opsi dan rasanya lebih realistis tentu dengan tetap memperhatikan faktor keamanan dan kenyamanan. Saya rasa dengan diselenggarakannya An Intimacy di New Majestic bisa menjadi penanda kembali aktifnya gedung ini sebagai tempat pertunjukkan musik dari kawan-kawan independen.


An Intimacy edisi kali ini akan menghadirkan sembilan penampil, diantaranya adalah Littlelute, Ellipsis, Good Morning Breakfast, Bedchamber, Heals, Diocreatura, Polyester Embassy, Under The Big Bright Yellow Sun, dan Sigmun. Dengan beragam genre dalam satu panggung, saya rasa kita akan menemukan kesenangan yang lain. Kesenangan yang dulu pernah redup di dalam gedung ini. Kesenangan yang dulu direbut oleh mereka yang berperilaku banal yang menyebabkan sebelas nyawa khatam delapan tahun silam di gedung ini.

Iksal R. Harizal

Menulis di Surnalisme.com, sekarang ini sedang berjuang menyelesaikan studinya. Memiliki cita-cita memiliki rumah di pegunungan dan ladang untuk berkebun ditemani wanita yang pandai memasak nasi goreng.

Related Blogs


Related Blogs

    Share