1Ketika mendirikan band ini, Dendi mungkin tak pernah membayangkan Rotten To The Core masih bisa berdiri tegak. Aktif menghajar panggung demi panggung, tetap membikin dan merilis karya, sebagai indikator paling sahih eksistensi sebuah band.

Waktu telah membuktikan, Rotten To The Core tidak pernah dan tidak akan pernah kehabisan daya. Waktu telah pula menempa mereka untuk selalu punya cara mempertahankan eksistensi. Termasuk ketika harus menghadapi persoalan keluar-masuk personel.

Terakhir, setelah ditinggal drumer Amo, mereka tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan pengganti.Tidak tanggung-tanggung, Rotten To The Core mendapatkan Rifki 13. Rifki bukan penggebuk drum sembarangan. Ia pernah terlibat dalam Forgotten, veteran deatmetal kelas berat yang dikenal selalu memiliki drumer jempolan. Kehadiran Rifki tentu memberi dampak yang sangat besar dari ketukan dan tempo.

Rotten To The Core kedatangan pula Negroz dari Murka, Nothing New, dan Jaritengah. Negroz digamit untuk menggantikan gitaris sebelumnya, Arif, yang mengundurkan diri lantaran tidak bisa mengelak dari kesibukan pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, dalam formasi terbaru, Rotten To The Core formasi terbaru tampil dengan dua gitaris. Simon yang saat ini aktif bersama In Place Of Hope memastikan punk yang mereka mainkan lebih segar.

Namun tidak perlu khawatir. Meski tampil dengan formasi baru, Rotten To The Core tidak akan kehilangan ciri utama. Itu lantaran Dendi sebagai pendiri sekaligus ikon band ini tetap berada di sana.

Personel Baru

Sempat menjadi drumer band deathmetal sekelas Forgotten rupanya berdampak pula saat Rifki memperkuat Rotten To The Core. Itu bisa disimak dari singel terbaru mereka berjudul “Omongkosong”. Di singel ini, ketukan drum Rotten To The Core terdengar lebih rapat dan berisi.

Dendi, vokalis sekaligus pendiri Rotten To The Core, tidak menampik bila kehadiran Rifki telah memberikan efek perubahan terhadap musik mereka. “Bukan cuma memberi perubahan, cara Rifki saat proses penggarapan lagu di studio juga mengingatkan saya pada drumer pertama Rotten To The Core. Gaya dan caranya sangat mirip,”cetus Dendi.

Ketika didengar sepintas, singel “Omongkosong” memang serta merta mengembalikan ingatan kita pada musik Rotten To The Core era 90-an. Sangat dinamis dan bergairah, dibalut dalam tema-tema kritis. Itu juga diakui Manajer Burgerkill Dadan Ketu setelah mendengarkan singel “Omongkosong”. “(Singel) Ini mengingatkan saya pada Rotten To The Core era 90-an ketika mereka jadi salah satu raja panggung GOR Saparua,” tutur Dadan.

Perubahan musik Rotten To The Core juga tidak lepas kehadiran gitaris baru, Negroz dan Simon. “Formasi ini mengingatkan saya masa-masaawal Rotten To The Core di mana ketika itu kegairahan dalam bermusik sedang berada di level puncak,” tutur Dendi.

Ada cerita unik di balik bergabungnya Negroz dan Simon. Awalnya Dendi tidak punya rencana membangun formasi baru Rotten To The Core dengan dua gitaris. Namun terjadi kesalahan mengatur waktu pertemuan ketika Dendi mengundang Negroz dan Simon untuk sesi audisi. “Saya malah memberikan waktu yang sama untuk keduanya. Jadilah kita jamming bareng mereka semua dalam satu kesempatan,” aku Dendi.

Seusai jamming, Dendi mengaku sempat bingung bagaimana menentukan langkah ke depan terkait status Negroz dan Simon. Apalagi dari jamming tersebut, Dendi merasa klop dengan kedua gitaris dan mendapat sesuatu yang baru di musik Rotten To The Core. “Alhasil, saya, Rifki, dan Unay (Manajer Rotten To The Core) pura-pura mau pulang setelah sesi jamming itu. Padahal melalui grup Whatsapp kita sepakat berkumpul di satu tempat untuk membahas status Negroz dan Simon,” tambah Dendi.

Dari pertemuan itu akhirnya didapat simpulan untuk merekrut Negroz dan Simon sekaligus. “Awalnya kita tetap mau bertiga. Tapi ketika jamming dengan dua gitaris, saya dan Dendi merasa musik Rotten To The Core lebih gila. Akhirnya, ya udah kita sepakat untuk mengajak Negroz dan Simon,” ujar Rifki.

“Omongkosong” jadi karya pertama Rotten To The Core dengan formasi Dendi (vokal/bas), Negroz (gitar/vokal), Simon (gitar/vokal), Rifki (drum/vokal). Dendi mengutarakan, singel “Omongkosong” masih bersubstansi tentang kegelisahan dirinya mengenai fenomena kehidupan. “Singel “Omongkosong” hendak menyinggung tentang perilaku kalangan tertentu yang gemar melakukan pencitraan, mengumbar slogan, serta janji-janji manis. Mereka menganggap kita yang disodori pencitraan atau janji-janji itu bodoh dan cuma bisa diam. Padahal kita menyimak dan merekam dengan seksama apa yang mereka umbar,” tandas Dendi.

 

Facebook: https://web.facebook.com/rttc.bdg?_rdr

Twitter: https://twitter.com/RTTC_BDG92

Related Blogs

    Share