lumba2-1

Bebaskan Lumba- lumba Bali : Kampanye untuk membangun kesadaran mengenai keadaan buruk lumba-lumba yang berada di kolam buatan Bali

 

Bali, 10 Januari 2017 – Kampanye #FreeBaliDolphins sudah di mulai oleh Ric O’Barry’s Dolphin Project bekerja sama dengan Jakarta Animal Aid Network.

 

Lumba-lumba ditangkap secara ilegal di laut Jawa oleh nelayan lokal, mereka di pekerjakan dan disediakan material-material yang dibutuhkan oleh orang-orang yang meraup keuntungan besar dari bisnis atraksi lumba di seluruh Indonesia.

 

Lumba-lumba adalah spesies yang dilindungi dibawah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dimana didalam lampirannya ditegaskan bahwa lumba-lumba adalah mamalia laut yang dilindungi oleh Undang-undang. Di dalam Pasal 40 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 mengenai ketentuan pidana terdapat pernyataan yang sangat jelas bahwa barang siapa dengan sengaja atau karena kelalaiannya melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi pidana dan denda.

 

Meskipun hukum ini dibuat di tahun 1990, hukum ini masih dalam proses disosialisasikan dan karena banyak celah hukum didalamnya, ini menjadi peluang bagi mereka yang tidak bertanggung jawab untuk menyalah gunakan. Sebagai contoh, dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mengatakan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, kemudian dalam Pasal 22 dijelaskan pengecualiannya bahwa satwa yang dilindungi hanya boleh ditangkap untuk keperluan penelitian.

 

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa Lumba-lumba adalah mamalia laut yang dilindungi dan setiap orang wajib mengembalikannya ke habitatnya, yakni mengembalikan lumba-lumba ke laut, dan bukan membiarkan lumba-lumba berada di kolam buatan.

 

Lembaga-lembaga komersial di Indonesia terus menggunakan dan mengeksploitasi dengan alasan menyelamatkan untuk tetap menyimpan lumba-lumba di kolam buatan karena Departemen Kehutanan ‘tidak mempunyai pilihan’ sehingga memperbolehkan mereka untuk menyimpan lumba-lumba.

 

Perdagangan lumba-lumba menjadi merajalela dan semakin besar namun dampaknya dalam hal populasi di alam tidak diketahui jumlahnya, disertai dengan tingkat kematian yang tinggi dari antara mereka yang ditangkap dan ditempatkan di kolam buatan.

 

Hampir 20 lumba-lumba terbagi dalam 3 kolam buatan di Bali, mereka menderita untuk menghibur manusia yang bersedia membayar dengan harga yang tinggi untuk berenang dan berinteraksi dengan hewan mamalia laut yang malang.

 

Lumba-lumba dilatih dengan metode lapar untuk membuat mereka mau berenang dan mau berinteraksi dengan pengunjung yang membayar mahal untuk menonton 30 menit ‘Bersenang-senang dengan Lumba’. Hal ini sama sekali tidak menyenangkan untuk lumba-lumba, mereka ditangkap dari alamnya, mamalia yang memiliki intelejensi tinggi dikurung di ruang yang kecil, dipaksa untuk melakukan kebiasaan alaminya dan dibiarkan lapar untuk membuat mereka menurut dan mau untuk pentas.

 

Kampanye ini melibatkan semua perusahaan, agen perjalanan, toko-toko, restoran, dll yang berada di seluruh kawasan Bali yang bersedia kami titipkan brosur dan poster untuk disebarkan dan menentang semua program yang menempatkan lumba-lumba dalam kolam buatan dan untuk membantu membangun kesadaran masyarakat. Kami juga bekerja sama dengan banyak seniman Bali seperti All Caps Gallery, kampanye ini sudah mulai disebarkan berupa seni lukis mural di Bali.

 

Di ruang pengambilan bagasi utama di Bandara Internasional Ngurah Rai, wisatawan disapa dengan gambar bergerak yang menjelaskan kenapa tidak di rekomendasikan untuk mengunjungi lumba-lumba di kolam buatan dan bagaimana caranya untuk menjadi pejuang lumba. Caranya sederhana sekali, hanya dengan tidak membeli tiket ke program dengan menggunakan lumba-lumba untuk atraksi, dsb.

 

Panggilan untuk aksi

 

Untuk melindungi kesejahteraan dan konservasi lumba-lumba di Indonesia, langkah-langkah berikut harus diambil :

 

  • Melakukan inventaris ke semua lumba-lumba yang berada di kolam buatan secara nasional untuk mengetahui kondisi populasi lumba-lumba
  • Menutupi celah hukum yang memperbolehkan sirkus lumba-lumba dan fasilitas komersial untuk memiliki hewan-hewan dengan dalih ‘diselamatkan’
  • Pengelolaan hewan mamalia harus diatur dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (Dimana merupakan standar umum di semua negara di dunia)
  • Pelarangan meletakkan/menyimpan lumba-lumba dalam kolam buatan

 

 

lumba2-2 lumba2-3 lumba2-4 lumba2-5 lumba2-6

http://www.jakartaanimalaidnetwork.com/

Related Blogs

    Share