WhatsApp-Image-2018-08-01-at-15.31.12-(1)

Mohammad Istiqamah Djamad atau biasa dipanggil Is adalah salah satu musisi hebat yang meroket dengan band terdahulunya yaitu Payung Teduh, dan kini lewat nama Pusakata sebagai identitas baru, Is siap melangkah dengan ide-ide cemerlangnya. Ada dua single yang sudah dilempar oleh Pusakata, “Kehabisan Kata” dan “Cemas“. Untuk tahu lebih dalam tentang Pusakata seperti apa, langsung aja kita interview Is tentang identitas barunya ini. Cekidot!

 

Haloo Pusakata.. ada kabar baik apa hari ini?

Kabar baiknya adalah bersyukur masih bisa terus berkarya dalam musik dan hal lainnya. Bersyukur semakin banyak energi positif dari keluarga dan alam yang akhir-akhir ini bersama team mulai menjelajah di pesisir dan daerah-daerah negeri ini.

 

Setelah single pertama “Kehabisan Kata”, Pusakata sedang mempersiapkan single kedua yaitu “Cemas”. Bisa diceritakan bagaimana proses pembuatan dibalik lagu ini?

Proses pembuatan cemas cukup cepat. Saya hanya berada di studio kurang lebih dua jam dalam proses rekamannya lalu sisanya langsung kirim mentahan lagu ke Jakarta untuk take Violin oleh Mas Robby Subarja. Lagu ini saya rekam di studio milik teman baru saya di kampung / Makassar. Jadi dari sekitar tahun 2007 dulu lagu ini cuma punya intronya. Nah di pertengahan Ramadhan kemarin, sambil take di studio, saya corat-coret lirik dan setiap nemu lirik langsung saya  take semua divisi vokal, gitar dan backing vokal. Inspirasinya datang dari kecemasan anak-anak  terhadap kekerasan yang akhir-akhir ini marak terjadi.

 

Seperti apa pandangan dari seorang Is melihat anak-anak Indonesia sekarang ini?

Pada dasarnya anak-anak Indonesia  juga mulai berkembang dalam banyak hal. Pengetahuan, pergaulannya dan juga corak kultur yang mereka temui dan jalani sekarang. Namun di tengah itu masih banyak peristiwa mengenaskan juga hal yang mencemaskan masih mereka alami
Contohnya kekerasan dalam rumah tangga, human trafficiking, korban penyalahgunaan narkoba, sampai menjadi korban peperangan di banyak pelosok tanah air juga di berbagai negeri. Hal yang sudah lama menjadi pekerjaan rumah bersama namun aksi dan impact yang muncul belum terlalu signifikan. Ini yang harus selalu kita sadari dan jalan bersama untuk  mengatasinya.

 

Di single kedua Pusakata masih menggandeng The Panganans sebagai partner kolaborasi dalam bermusik. Bagaimana awal Pusakata bisa bertemu dengan mereka? 

Berawal dari pertemanan dan ngobrol bareng Sadrach Lukas, kami sekedar ngobrol ringan dan ternyata ajakan saya disambut dengan hangat dan semangat produktif yang cukup kuat. Saya dan Mas Ronald, Mas Denchas Mas Eugen memang sudah pernah terlibat project musik sebelumnya. Yang terkahir Mas Adhit dan ternyata nyambung banget. Jadi semua mengalir apa adanya. Tanpa  embel-embel mereka sebelumnya siapa dan seperti apa. Semua lebur untuk mendukung Pusakata sejak dari awal.

 

Melihat dari official Instagram Pusakata, single kedua ini dibuatkan video animasi yang sangat menarik. Siapa yang menggarap video animasi ini?

Dek Lestari yang membuatnya kebetulan single pertama juga dibuat oleh dia. Saya suka gaya surealis yang dia tawarkan. Namun tetap mengedepankan diskusi seru tanpa semata-mata berproduksi semaunya. Suka dengan sudut pandangnya terhadap karya-karya yang saya buat karena selalu berakhir dengan diskusi dan semangat untuk bikin sesuatu lagi yang baru.

 

Selain dua single yang sudah keluar. Apa project selanjutnya yang akan digarap oleh Pusakata?

Mulai dari awal tahun ini sudah mulai berkeliling melihat keindahan negeri tercinta ini. Khususnya di sektor laut, karena punya mimpi untuk membuat sebuah film semi dokumenter kelautan yang dengan pendekatan utamanya tetap musik bertajuk sisir kota pesisir. Mau rekaman di pulau-pulau yang kami datangi. Berkeliling bersama Dompet Dhuafa dalam program-program sosialnya biar hidup bisa lebih bermanfaat tentunya. Dan project utama saya adalah belajar jadi bapak, laki-laki yang bisa diandelin sama orang rumah. Karena sejauh ini masih kurang banget pemahaman dan kemampuan akan hal ini :v . Makanya lqgi berupaya nulis juga karya-karya untuk anak-anak Indonesia.

 

Hal baru apa bagi seorang Is yang membedakan saat bersama Payung Teduh dan sekarang jalan dengan Pusakata?

Lebih banyak waktu untuk keluarga. Itu yang utama. Terus lebih tertata dengan baik setiap produksi dan perencanaannya. Lebih bisa punya waktu untuk evaluasi, berkarya juga tentunya sambil ngumpulin energi dan inspirasi dari alam dan penduduk di berbagai pelosok tanah air.

 

Bila ada mimpi tentang panggung impian, pengen seperti apa panggung impian dari seorang Is dan siapa musisi yang akan diajak manggung?

Mimpi untuk bikin konser tiga babakan untuk semua lagu dan karya yang pernah saya tulis. Atmosfer intim dan melibatkan penonton tentunya. Bukan sekedar pertunjukan musik seperti biasa yang saya alami. Siapa aja yang hati senang dan memqng berjodoh saat itu. Tidak ada standar tertentu untuk hal itu. Bermusik senyaman sebebas dan sesenang mungkin dengan orang yang berfikiran sama tentunya.

 

Ok terakhir, apa pesan dari Is untuk para pendengar Pusakata?

Terima kasih untuk selalu ada. Untuk selalu memberi dukungan ataupun kritik pedas yang pada dasarnya adalah kebutuhan nyata para pengkarya terutama musisi. Namun yang lebih utama lagi adalah  jangan berhenti dukung musik Indonesia dengan semangat yang positif.

===============================================================================

Instagram: @pusakata

Related Blogs

    Share