sukahujan

Pentas Kolaborasi Kita Sama-Sama Suka Hujan Digelar April Mendatang

 

Banda Neira, Gardika Gigih, Layur, serta String Duo Jeremia Kimosabe dan Suta Suma Pangekshi akan menggelar pentas musik kolaborasi bertajuk “Kita Sama-sama Suka Hujan”. Pentas ini akan digelar di dua kota. Di teater tertutup Dago Tea House, Bandung, pada Sabtu, 11 April 2015. Dan di Rossi Musik, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Rabu 15 April 2015. Segala informasi mengenai pentas ini dapat dilihat di www.penikmathujan.com.

 

Pentas ini mengambil tema “Kita Sama-sama Suka Hujan” karena secara kebetulan setiap peserta kolaborasi memiliki karya yang berkaitan dengan hujan. “Lagu kami banyak yang terinspirasi dari hujan. Terinspirasi oleh perasaan-perasaan yang muncul entah sebelum, selagi, atau setelah turun hujan,” kata Rara Sekar, vokalis Banda Neira.

 

Namun mereka tak ingin tema itu bertalian hanya dengan para peserta kolaborasi saja.  “Oleh sebab itu digunakanlah frasa ‘kita’. ‘Kita’ di sini bicara bukan hanya tentang para pemain, tapi juga para penonton yang hadir dalam pentas. Pentas musik ini ditujukan bagi semua yang suka hujan, baik pemain maupun penonton, oleh sebab itu temanya ‘Kita Sama-sama Suka Hujan’,” kata Suta Suma Pangekshi, pemain biola dalam pentas ini.

 

Seluruh musisi yang terlibat dalam pentas ini memiliki latar belakang musik yang berbeda-beda. Banda Neira adalah duo folk yang bermusik dengan gitar akustik dan glockenspiel. Gardika Gigih adalah komponis yang berkutat dengan piano dan pianika. Sementara Layur sejatinya adalah musikus elektronik yang membuat lagu mengandalkan gitar dan laptop. Dan duet cello dan biola, Jeremia dan Suta, adalah pemain yang amat fasih memainkan musik klasik.

 

“Dalam pentas ini kami akan menggabungkan warna yang dibawa oleh masing-masing pemain. Kami membaurkan elemen-elemen khas dari setiap pemain sehingga lagu terasa lebih kaya akan ide, suara, dan nuansa,” kata Gigih.

 

Para pemain menjanjikan sensasi yang berbeda saat mendengar lagu-lagu yang akan dimainkan dalam pentas kolaborasi. Lagu-lagu Banda Neira akan terdengar lebih berisi dengan tambahan instrumen piano, pianika, cello, dan biola.

 

Begitu pula dengan lagu-lagu Gigih yang biasanya terdiri dari piano solo, akan dibuat lebih riuh dengan tambahan vokal dan gonjrengan gitar. Pun dengan musik Layur yang biasanya dimainkan seorang diri, akan dibikin lebih kaya dengan sentuhan string duo Jimi dan Suta.

 

“Ada belasan lagu yang akan dimainkan dalam pentas nanti. Lagu-lagu siapa saja itu? Lagu-lagu kami sendiri tentunya yang sebagian besar sudah diunggah di akun soundcloud masing-masing. Seperti lagu Are You AwakeLabuh, dan Suara Awan-nya Layur,Hujan dan Pertemuan dan Kereta Senja-nya Gigih, dst.

 

Bedanya kalau biasanya kami mainkan sendiri, dalam pentas kolaborasi nanti lagu-lagu itu kami keroyok bareng-bareng, jadi semua lagu akan terdengar lebih ramai dan berisi,” kata Jeremia, pemain cello dalam pentas kolaborasi ini.

 

Banda Neira adalah duo folk beranggotakan Ananda Badudu dan Rara Sekar. Keduanya berasal dari Bandung. Sementara Gigih, Layur, Jimi, dan Suta berasal dari Yogyakarta. Kecuali Layur, mereka adalah musisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Gigih secara khusus mendalami komposisi musik, Suta mempelajari biola, dan Jeremia memainkan cello.

 

“Menarik juga karena separuh dari kami adalah pemain musik otodidak yang tak menguasai teori, dan separuhnya lagi justru punya latar belakang pendidikan teori musik yang kuat,” kata Layur.

 

Pentas musik ini diselenggarakan oleh Koperasi Sorge, sebuah unit usaha yang mulanya merupakan unit usaha Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa Unpar. Di kemudian hari, Koperasi Sorge melepaskan diri dari entitas kampus dan mengembangkan organisasi secara independen tanpa pertalian dengan Unpar. Untuk menyelenggarakan pentas ini Sorge bekerja sama dengan Bandung Gandeng dan Koran Tempo.

 

Berikut petikan wawancara dengan para peserta kolaborasi:

 

Tanya: Apa konsep pentas kolaborasi Kita Sama-sama Suka Hujan?

 

Gigih : “Kita Sama-sama Suka Hujan” adalah konser kolaborasi yang menggabungkan banyak elemen musik dari kami masing-masing yang berbeda latar belakang. Banyak elemen akan dieksplorasi dengan instrumentasi yang berbeda dari biasanya.

Banda Neira yang biasanya bermain berdua hanya dengan gitar akustik dan vokal akan jadi berbeda dengan tambahan instrumen dari pemain lain. Begitu juga dengan Layur yang terbiasa mengerjakan sendiri semua lagu-lagu yang ia rekam. Sama halnya dengan Jimi dan Suta yang biasanya memainkan musik instrumental atau main sebagai duo dalam bad cellist.

Dalam pentas kolaborasi ini kami berupaya mengolah lagu-lagu yang kami miliki dan menyajikannya dengan aransemen baru. Semua terlibat dalam pembahasan aransemen baru dan semua juga ambil bagian dalam membangun lagu.

Siapa yang pertama kali mencetuskan ide untuk berkolaborasi?

Gigih: Siapa ya? Kalau tidak salah ingat medio 2013 dulu kita pernah nge-jam, lalu tiba-tiba kepikiran, sepertinya seru juga kalau kita berkolaborasi.  Kemudian waktu berjalan dan kami semakin sering berinteraksi, keinginan bermain bareng semakin kuat. Dari situ juga terpikir untuk menambah format agar lebih asyik musiknya, oleh sebab itu saya mengajak teman kampus string trio Jeremia Kimosabe, Alfian Aditya, dan Suta Suma.

T: Pada April 2014 lalu, kalian pernah mengadakan pentas serupa di Yogyakarta bertajuk “Suara Awan”. Apa beda musik yang akan dimainkan di Jakarta dan Bandung dibanding dengan kolaborasi yang dipentaskan di Yogyakarta?

Gigih: Yang jelas sekarang kami semakin memahami satu sama lain. Kalau dulu, ketika pentas di Jogja, waktu untuk bermusik bersama sangat singkat. Persiapan hanya sepekan sebelum pementasan. Kalau yang sekarang sudah diwacanakan dari jauh-jauh hari. Dan kami sebagai grup juga sudah lebih dapat “chemistry”– nya.

Jimi: Kalau sekarang kontribusi setiap personel lebih besar jadi terasa kolaborasinya. Kalau dulu lebih untuk membangun kebersamaan kami banyak mengandalkan Gigih karena belum benar-benar saling kenal. Jadi kolaborasinya lebih terbatas.

Ananda: Ada dua hal utama yang membedakan, yakni durasi dan nuansa.

Di Jogja kami memainkan sekitar 9-10 lagu dengan durasi total kurang lebih 45 menit. Kami merasa 45 menit itu terlalu singkat dan kurang memuaskan penonton. Pentas di Jogja jadinya agak canggung karena yang datang tidak serta-merta bubar ketika lagu terakhir beres kami mainkan.

Berkaca dari pengalaman itu, untuk pentas di Bandung dan Jakarta kami akan bikin pentas dengan durasi yang lebih panjang. Otomatis jumlah lagunya jadi lebih banyak dibanding dengan yang dimainkan di Jogja. Setidaknya ada 15 lagu yang kami siapkan untuk pentas mendatang dengan target durasi 90 menit. Beruntung kami punya pengalaman pentas di Jogja jadi kami tahu bahwa durasi 45 menit itu terlalu singkat.

Yang kedua soal nuansa. Di Jogja kami berusaha membangun nuansa yang sendu dan syahdu. Kami ingin fokus pada musiknya saja tanpa banyak memerhatikan interaksi. Dan eksekusinya kami rasa tak sebaik rencana. Belajar dari pengalaman itu, kami membelokkan konsep. Pentas di Bandung dan Jakarta nanti nuansanya akan lebih ringan dan ceria. Tak sesendu seperti yang di Yogyakarta.

 

T: Bagaimana ceritanya kalian bisa saling bertemu?

Gigih: Pada suatu sore yang sedang hujan medio 2013 lalu saya bangun tidur. Kemudian saya buka laptop ada seorang teman yang mengirim tautan soundcloud lagu Banda Neira yang berjudul Hujan di Mimpi. Karena saya suka hujan, maka iseng saja saya buka lagunya. Ternyata langsung jatuh hati saat itu juga. Kemudian saya memberanikan diri untuk mengirim pesan via soundcloud. Rara Sekar dan Ananda Badudu menanggapinya dengan mendengarkan komposisi saya juga yang berjudul Hujan dan Pertemuan. Dari situlah semua ini bermula.

Rara: Pertama kali dengar komposisi Gigih langsung, apa ya bahasanya, terpukau. Kok bisa ada komposer sejago ini tapi tak terkenal. Setidaknya tidak sampai ke telingaku. Lalu setelah itu aku cari dan dengar semua karyanya yang ada di soundcloud. Lalu aku dikenalin oleh Gigih oleh teman kami yang kenal dengannya. Kami kemudian janjian untuk ketemuan dan bertemulah di Yogyakarta, di Legend Coffee tepatnya. Dia datang bawa pianika. Terus aku minta dia main, dan tiba-tiba Legend Coffee serasa berubah jadi Paris.

Pepi: Awalnya Rara mengontak lewat wall facebook. Berbalas komen lalu dia bilang sampai ketemu di Jogja. Kebetulan waktu itu Banda Neira akan manggung di Jogja. Suatu hari Gigih mengirim pesan via facebook, memberi tahu sedang ada Banda Neira di kontrakannya. Saya nyamper ke sana, jadilah kami bertemu.

Jimi: Kami mulanya diajak oleh Gigih. Saya tertarik bergabung karena ingin memainkan musik yang luwes dan tidak terpaku pada partitur. Pengalaman berkolaborasi itu sangat berkesan sampai-sampai saya jadikan tema skripsi.

Tiket online:

 

Ticket box:
Jakarta (Pre Sale Rp 60 ribu. Normal Rp 70 ribu)
–       Warung Musik,  Blok M Square, basement blok B #162 Cp Agus : 087881494948
–       WR Store, Bendungan Hilir Raya no.19, Bendungan Hilir, Jakarta-Pusat (persis di atas Circle K Benhil). CP : 089506977563 (SMS only)

 

Bandung (Pre Sale Rp 40 ribu. Normal Rp 50 ribu)
–       Happy Go Lucky House. Jl.Ciliwung 14 Bdg 40114 (022)7234162 bb:524f490a mobile:087821068304 (Whatsapp) Line: hglhappygolucky
–       Arena Experience  Shop House: Jl. Ambon No. 9 Bdg
–       Omuniuum. Jalan Ciumbuleuit 151 b lantai 2 Bdg 40141 | Ph. 022-2038279 | 087821836088

 

*Rilis pers ini disiarkan resmi oleh Koperasi Sorge selaku penyelenggara acara. Pencantuman keterangan tanggal wawancara kami serahkan sepenuhnya pada rekan-rekan media, alias bebas dikutip dengan tanggal berapapun juga. Untuk wawancara lebih lanjut bisa hubungi Egi : 0856.2210.002
 ​

 

Related Blogs

    Share