12440445_1014352945270536_7926721925475681812_o

Acara peluncuran buku kedua Warning Books berlangsung sukses. PIAS: Kumpuan Tulisan Seni dan Budaya oleh Aris Setyawan resmi dirilis pada Senin 27 Maret 2017 lalu dalam sebuah acara yang cukup meriah. Bertempat di pendopo Yogyatorium Dagadu, Yogyakarta, sekitar 200 pengunjung hadir mengikuti seluruh rangkaian acara. Tidak hanya menghadirkan sesi bedah buku, acara rilis buku ini terasa lebih santai karena juga menghadirkan penampilan musik dan lapak komunitas.

Langit mendung tak menghalangi pengunjung untuk memadati area terbuka di belakang toko Dagadu tersebut. Acara dimulai sekitar pukul 6.30, Huhum Hambily selaku koordinator acara memberi sambutan singkat tentang acara ini. Guna memantik antusiasme, Kopibasi naik ke atas panggunng. Grup yang lahir dari komunitas Ngopinyastro ini tampil membawakan 4 lagu. Sahut-menyahut antara vokal dan deklamasi puisi yang syahdu berhasil menarik pengunjung untuk merapat ke area pendopo yang disulap jadi panggung sederhana yang intim tersebut.

Sesi diskusi buku dimulai setelah itu. Tidak hanya menghadirkan Aris Setyawan selaku penulis, sesi itu juga diperkaya dengan hadirnya Erie Setiawan (Penulis, Musikolog, direktur Art Music Today), dan Dewi Kharisma Michellia (Penulis Elegi dan Surat Panjang) dan dimoderatori oleh editor WARN!NGMAGZ, Titah AW. Sesi diskusi berlangsung cukup seru. Berbagai bahasan yang ditulis Aris Setyawan di buku ini dimunculkan ke permukaan. Bahasan dalam buku PIAS memang luas. Dalam 44 esainya, Aris Setyawan membahas seni budaya, musik, film, bahkan sampai sosial politik. Erie Setiawan disini lebih membahas mengenai konten dan wacana yang dihadirkan oleh Aris Setyawan melalui buku ini. Sedangkan Dewi Kharisma Michellia lebih mengarahkan diskusi pada gaya bahasa dan pengemasan sebuah tulisan. Titah AW sempat menghadirkan topik menarik mengenai jurnalisme seni kontemporer yang kemudian direspon Erie Setiawan dengan penjelasan mengenai tulisan seni dan aplikasi yang digunakan Aris Setyawan dalam buku ini. Satu hal menarik lain adalah menyoal aktualitas konten, mengingat esai-esai di PIAS ditulis berdasarkan pengamatan terhadap fenomena yang sedang booming di satu waktu. “Meski kutulis di tahun 2012, esai di buku ini aku kira tetap relevan untuk dibaca sekarang. Karena realitas adalah pengulangan tanpa henti, jadi membaca buku ini akan tetap membantu pembaca untuk melihat fenomena hari ini dengan kacamata yang lebih jelas,” jelas Aris Setyawan.

Hujan yang turun di tengah sesi bedah buku ini justru menggiring penonton untuk makin merapat masuk ke area pendopo. Menambah keintiman dan antusiasme terhadap sajian diskusi malam itu. Hampir 1,5 jam sesi diskusi buku PIAS, acara pun dilanjutkan dengan penampilan musik. Fajar Merah yang datang dari Solo tampil mengenakan kaos merah. Menyanyikan beberapa lagu, termasuk “Bunga dan Tembok”, koor dari penonton menggema menyanyikan syair-syair Wiji Thukul. Kejutan menyenangkan hadir saat Sisir Tanah maju ke panggung. Tak tertera di poster, Sisir Tanah ternyata sudah menyiapkap penampilan istimewa di acara rilis buku PIAS ini. Tiga lagu dibawakan dengan ciamik. Sebagai pamungkas, Bagus Dwi Danto (Sisir Tanah) mengajak Fajar untuk berduet lagu barunya yang berjudul “Lagu Bahagia”. Suasana mencair dan hangat meski gerimis mengguyur di luar pendopo. Di luar, dua buah stand terlihat saling berseberangan, satu milik Warning Books yang memajang buku PIAS dan beberapa merchandise. Satu lagi milik komunitas ACI (Akademi Cafe Indonesia) yang melakukan live sketch selama acara berlangsung. Acara selesai dan pengunjung pun pulang, kebanyakan dengan mampir terlebih dahulu untuk mendapatkan buku PIAS di lapak Warning Book.

Berisi 44 tulisan, Pias merupakan buku pertama karya Aris Setyawan yang diproduksi hasil kerjasama Warning Book dengan  Tan Kinira. Sesuai dengan peran Aris yang bergerak di berbagai bidang: etnomusikolog; pimpinan redaksi media seni dan budaya Serunai.co, serta penabuh drum band Aurette and The Polska Seeking Carnival, tulisan-tulisan Aris dalam Pias pun membahas banyak bidang dan tidak terlalu spesifik membahas satu tema tertentu.

Gelaran malam itu terlihat asik, jauh dari kesan kaku yang biasa distereotypekan kepada acara berbasis buku. Semangat kolaborasi yang diusung WarningBook tergambar dari banyaknya teman-teman komunitas maupun penampil yang ikut mewujudkan acara ini. Santai namun berisi.

Untuk saat ini, Pias bisa didapatkan melalui penerbit Warning Book (Perum Aph Seturan Baru A19, Yogyakarta). Atau untuk yang di luar Yogyakarta dapat memesan ke nomor 082135249330. Dalam waktu dekat, Pias juga segera tersedia di toko-toko buku. Acara peluncuran Pias tanggal 27 Maret nanti gratis dan terbuka untuk umum.

================================================================================

Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya

Contact : 082135249330

Related Blogs

    Share