diskusi-15

pameran-16

Komunitas kini telah menjadi bagian dari kehidupan dan pembangunan kota. Dan ia kian menjadi unsur yang penting dalam menjembatani pemerintah, stake holder, serta masyarakat dalam berbagai isu-isu urban. Salah satu komunitas yang masih aktif dan masif bergerak ialah kolektif Hysteria. Sudah 13 tahun komunitas hysteria berkecimpung dalam berbagai isu-isu seni, anak muda, kampung dan kota. Sebagai laboratorium komunitas, Hysteria berkomitmen untuk terus melakukan hal-hal kecil secara laten dan konsisten. Hal ini telrihat dari cara kerja yang lebih dominan pada pendekatan kepada warga, membentuk jejaring warga dan juga menjadi jembatan bagi warga dengan stakeholder lain termasuk pemerintah dalam upaya membentuk wajah kota.

Untuk merayakan kiprahnya yang telah berjalan selama 13 tahun tersebut, hysteria telah melangsungkan kegiatan bernama Peka Kota Hub dengan dua rangkaian acara utamanya yakni diskusi panel atau Peka Kota Forum dan juga pameran yang telah dibuka pada tanggal 28 Oktober 2017 kemarin. Dua rangkaian acara tersebut, dikonsep dengan epik terkait dengan apa yang telah dilakukan Hysteria selama ini. Alhasil konsep tersebut dijadikan dasar dari tema-tema diskusi dalam Peka Kota Forum dan juga konten-konten yang divisualisasi untuk karya-karya yang ada dipameran.

Dalam perayaan ini, hysteria juga merangkum konten dari 8 kampung yang telah ia bentuk sebgaai jejaring. 8 kampung tersebut diantaranya Kampung Bustaman, Kampung Petemesan, Kampung Malang, Sendangguwo, Krapyak, Karangsari, Nongkosawit dan Kemijen. Hal ini juga bertujuan untuk media refleksi hysteria selama bekerja di kampungsehingga dapat memperbaiki cara ataupun menemukan cara baru dalam melakukan Komitmennya untuk kampung dan kota di Semarang. Seperti yang pernah disampaikan oleh direktur hysteria Adin bahwa event Peka Kota Hub ini juga untuk melihat Pekakota 5 tahun terakhir yang fokus pada isu kota terutama kampung. “Selain merayakan 13 tahun Hysteria, event ini juga ingin melihat ulang Pekakota 5 tahun terakhir yang fokus pada isu kota terutama kampung. Setelah 5 tahun akhirnya kami merintis jejaring 8 kampung yg menggunakan seni sebagai salah satu bagian aktivitas yg penting”. Ungkapnya saat koordinasi persiapan event 23 Oktober 2017 lalu.

Selain itu, acara ini dirasa mampu memberikan angin segar bagi para anak muda untuk lebih peduli terhadap kota. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Agus Maladi salah satu pemantik dalam Peka Kota Forum dengan sub tema  Peranan Seni dalam membentuk wajah gugusan kampung bahwa event semacam ini menjadi bukti bahwa sebenarnya ada yang peduli dengan kota Semarang, “Forum ini memberikan point bahwa kita peduli dengan Kota Semarang”. Paparnya saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi Pekakota Forum.

Dalam Pekakota Forum ada beberapa tema yang menjadi topik diskusi diantaranya Peranan seni membentuk wajah gugusan kampung, kelas kreatif dan masa depan tata ruang, Proyeksi Semarang dengan 4 subtema yaitu, kota berketahanan, Semarang kota fashion, pen goverment dan smart city, jalur gula dan potensi kota lama. Dalam acara diskusi panel yang diselenggarakan di Gd. Monodhuis dari jam 09.00 WIB – 17.00 WIB ini peserta diskusi mencapiai kurang lebih 150 orang. Tidak sedikit peserta yang merasa bahwa tema-tema diskusi yang diangkat oleh Hysteria dalam pekakota forum sangat menarik untuk dikaji. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu (25) salah satu peserta dari Komunitas Bojalali Heritage Society yang mengikuti diskusi dengan tema jalur gula dan potensi kota lama, bahwa diskusi tersebut cukup menarik karena membahas pabrik gula mulai dari revolusi industri di Eropa hingga berdampak pada perkmbangan pabrik gula di Hindia Belanda khususnya di Jawa. “Pendapat saya adalah acara kemarin cukup menarik terlebih mendatangkan narasumber selevel konservator internasional. Apalagi membahas tentang pabrik gula mulai dari revolusi industri di Eropa hingga berdampak kepada perkembangan pabrik gula di Hindia Belanda. Alangkah baiknya jika acara seperti itu berlangsung rutin setiap tahun dan mendatangkan para pakarnya. Hanya saja untuk penataan acara kemarin mohon untuk ditata sedetail mungkin”.Ungkapnya saat ditanya terkait diskusi panel yang ia ikuti 28 Oktober 2017.

Selain acara diskusi, pembukaan pameran juga dilakukan pada hari yang sama namun di tempat dan jam yang berbeda. Yakni di Gedung Widya Mitra dan di buka pada pukul 20.00 WIB. acara pembukaan pameran ini pun tak kalah meriah dengan kehadiran dari pemerintah kota dan juga dimeriahkan oleh Frau serta Figura Renata sebagai pengisi acara. dalam acara ii karya-karya yang dipamerkan mengambil konsep-konsep dari kegiatan yang telah dikerjakan hysteria hingga 13 tahun perjalanannya. Salah satunya adalah vernacular box yang memamerkan karakteristik karakteristik 8 kampung yang telah menjadi jejaring hysteria. Oleh karena itu, terlepas dari kemeriahan acara dan perayaan 13 tahunhysteria, acara tersebut benar-benar menjadi refleksi ulang bagi Hysteria ke depan. Melakukan jejaring kampung dan mengembangkan anak muda untuk lebih peduli dan mampu berkreasi untuk turut andil membentuk kota Semarang dan terutama kampung mereka sendiri.

===================================================================================

More info:

Instagram: @Pekakota

Related Blogs

    Share