poster-pasar-keroncong-2016 thumbnail

Keroncong berkembang seiring dengan pertumbuhan kota-kota di pulau jawa pada abad ke 16, berakar dari musik fado yang dibawa para pelaut portugis ke Indonesia. Di tanah air musik keroncong berevolusi dengan masuknya berbagai unsur tradisional maupun unsur lain yang pada akhirnya membentuk musik Keroncong menjadi salah satu kesenian Indonesia. Keronocng menjadi salah satu Melting port, pertemuan gaya eropa, melayu, arab dan tentu saja gaya indonesa yang multi kulture. Fleksibilitas dan keterbukaan akan budaya lain menjadikan Keroncong mempunyai berbagai ragam gaya seperti seriosa, stambul, langgam, beat dan lain sebagainya. Ini menjadikan banyak jenis lagu akan tetap dinamis saat dibawakan dengan ritme Keroncong. Dan inilah yang membuat banyak kalangan meyakini keroncong akan langgeng sepanjang jaman.

Kotagede yang merupakan satu kota yang berdiri di abad 16 tentu saja tidak lepas dari sejarah panjang Keroncong, bahkan keroncong sangat berkembang di Kotagede. Bahkan di sinilah lahir dan berkembangnya keroncong pada abad XX. Di Kotagede ini pula keroncong berkembang secara beragam mulai dari moor, stambul, keroncong beat yang terpengaruh The Beatles hingga dangdut. Potensi berkesenian keroncong yang sangat besar juga terbukti dengan banyaknya grup keroncong yang masih eksis sampai sekarang.

Tahun ini Pasar Keroncong Kotagede digelar untuk kedua kalinya dengan 3 panggung di seputaran pasar kotagede yaitu Panggung Sayangan yang berada di Barat Pasar Kotagede, Panggung Sopingen di barat daya Pasar dan Panggung Loring pasar berada di tepat utara pasar kotagede. Pasar Keroncong Kotagede akan dimulai pukul 19:00 WIB dan dibuka oleh Slamet Raharjo dan akan menampilkan 16 Orkes Keroncong dari Bandung, Malang, Semarang dan tentu saja Orkes Keroncong Kotagede. Event Pasar Keroncong Kotagede diharapkan tak hanya menjadi satu bentuk pementasan bersama, inilah satu event dimana pelaku maupun penikmat keroncong bisa saling berinteraksi. Suatu proses yang bagus tidak bisa dilakukan dengan cara instan dan proses alamiah inilah yang diharapkan terjadi di acara ini.

Dengan tagline “Keroncong Jiwa Raga Kami” Pasar Keroncong Kotagede tidak hanya menampilkan orkes mendayu dan menjadi klangenan orang tua, event ini juga mementaskan orkes keroncong anak muda. Satu bukti bahwa keroncong juga banyak disukai kaum muda, dengan berbagai gaya dan aliran yang itu akan memperkaya ragam keroncong.

16 Orkes Keroncong akan menyajikan berbagai gaya dan aliran yang berbeda layaknya sebuah pasar dengan berbagai aktifitasnya. Penonton diberi keleluasaan untuk memilih orkes yang diminati di 3 panggung berbeda. Tak hanya panggung pertunjukan pengunjung juga akan disuguhi karya kreasi tim artistik yang nantinya akan memperkental nuansa Kotagede sebagai ibukota Keroncong.

Penampil Pasar Keroncong Kotagede 2016 :
Oppie Andaresta
Woro (Diatas rata-rata)
Syaharani
Subarjo HS
Yati Pesek
Retno Handayani

OK Rinonce
OK Swastika Muda
Jempol Jenthik Orkes Keroncong
Gambang Semarang Art Company
OK Lolycong
OK Smindo
OK Kos Atos
OK Irama Tongkol Teduh
OK Wurlitheng

Orkes Keroncong Kotagede :
OK Cahaya Muda
OK Chandra Kirana
OK Erwina
OK Irama Guyub
OK Pesona Irama
OK Sarlegi
OK Sukanada
OK Timpasko

Kotagede sebagai salah satu kawasan cagar budaya tentu saja sangat pas sebagai tempat penyelenggara Pasar Keroncong ini. Musik Keroncong, bangunan tradisional, keguyupan masyarakat dan tentunya makanan tradisional kotagede pastilah suatu perpaduan yang sangat pas.

Instagram : pasarkeroncong

 

Related Blogs

    Share