Navicula, “Green Grunge Gentlemen” asal Bali merilis video klip “Harimau! Harimau!” yang disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri oleh Greenpeace Indonesia di saluran Youtube mereka pada hari Selasa, 1 Juli 2014. “Harimau! Harimau!” adalah satu dari 16 lagu yang mengisi “Love Bomb”, album ketujuh mereka yang dirilis pada akhir tahun 2013 lalu.

111111

Seekor ‘harimau’ kebingungan di belantara kota, mencari suaka di antara keserakahan manusia yang merampas rumahnya.

“Do you care I’m longing for home?
As I face the future all alone..”

Ya, lantunan yang menghentak dan berteriak ini sesungguhnya adalah sebuah kisah sedih tentang harimau-harimau Sumatera terakhir di muka bumi ini. Salah satu data Greenpeace Indonesia yang ditampilkan dengan apik dalam video ini menyebutkan bahwa saat ini jumlah harimau Sumatera yang tersisa hanya kurang dari 400 ekor saja. Nyaris punah adalah status yang kini disandang oleh mantan raja hutan ini. Sendiri, tanpa rumah dan cinta.

 KITA SEMUA SALING TERHUBUNG

Apa betul yang terancam hanya harimau? Sikap ingin merebut atau memperluas lahan terus-menerus dengan tujuan ekonomi semata adalah ancaman bagi kita sendiri di masa depan.”

Pernyataan yang dilontarkan oleh sang sutradara Riri Riza di sela pengambilan gambar video klip ini, benar adanya. “Harimau! Harimau!” memang tidak semata membicarakan soal satwa langka, spesies yang nyaris punah. Kerusakan masif hutan sebagai habitat harimau, ekspansi gila sawit dan kertas yang menjadi biangnya, keserakahan segelintir manusia dan ketidakpedulian manusia lainnya adalah sebagian dari kompleksitas yang melatarbelakangi ditulisnya lagu ini oleh Robi (vokalis Navicula) pada tahun 2009.

122

Membawa auman “Harimau! Harimau!” lebih lantang lagi, Navicula juga menandatangani Tiger Manifesto dalam rangkaian kampanye Protect Paradise yang diluncurkan oleh Greenpeace Indonesia untuk menyuarakan penyelamatan hutan dan harimau Sumatera, November tahun lalu.

 LINGKUNGAN DAN POLITIK

Video klip yang diproduseri oleh Greenpeace Indonesia ini juga akan diputar di konser tunggal Navicula di Taman Baca Kesiman, Denpasar pada tanggal 5 Juli 2014. Setelah pertunjukan tunggalnya Navicula akan mengajak penonton untuk nobar debat calon presiden putaran terakhir dengan tema pangan, energi, dan lingkungan.

“Siapa yang menjadi presiden sangat menentukan tingkat kerusakan lingkungan di Indonesia. Dari beberapa diskusi dengan kawan-kawan LSM, sangat disayangkan bahwa laju deforestasi di Indonesia cukup tinggi di 10 tahun terakhir. Misalnya, informasi dari pihak Greenpeace yang tahun lalu merilis laporan deforestasi sepanjang periode 2003-2013 dalam buku Menuju Nol,” kata Robi.

11111111

Navicula tidak sedang latah menyikapi pemilihan presiden Indonesia yang diadakan minggu depan. Namun nyata bahwa politik adalah salah satu faktor penentu kualitas lingkungan hidup. Kebijakan atau ketidakbijakan politis mengenai lingkungan hidup menjadi kunci, dan mengawal kebijakan politik menjadi perlu dilakukan dalam usaha penyelamatan lingkungan hidup.

Moratorium hutan yang ditandatangani oleh Presiden SBY pada tahun 2011 ternyata tidak membawa perubahan bagi kondisi lingkungan Indonesia. Luas hutan moratorium sendiri malah berkurang hingga 7 juta hektar hingga saat ini (lihat: Luas Hutan Moratorium Terus Menyusut – Ekuatorial), dan mencapai puncak akselerasinya pada tahun 2012. Menyadari eratnya keterkaitan antara peran eksekutif politik dan kualitas lingkungan hidup, menjelang pemilu presiden 2014-2019 Greenpeace Indonesia meluncurkan kampanye 100% Indonesia yang mendesak para calon presiden untuk berkomitmen 100% kepada penyelamatan lingkungan hidup.

“Tingginya korupsi dan lemahnya implementasi hukum juga menjadi masalah kunci bagi deforestasi di Indonesia. Bahkan kabar terbaru laju deforestasi di Indonesia sudah melampaui Brazil, atas hutan Amazon-nya. Jadi kita merasa isu ini sudah menjadi hal yang sangat urgent bagi Indonesia. Siapapun yang dipilih jadi presiden, saya berharap untuk menempatkan isu ini dalam agenda penting, demi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial,” lanjut Robi.

Navicula juga telah menyaksikan sendiri sebagian kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia lewat Tur Kepak Sayap Enggang bersama Greenpeace pada tahun 2012 lalu. Tidak hanya habitat spesies-spesies payung seperti orangutan, harimau, dan gajah, deforestasi juga merampas rumah dan menyulut kekerasan terhadap masyarakat adat di sekitar hutan.

Video Klip Navicula – Harimau! Harimau! (a tale of the last Sumatran Tiger) :

Mari peduli.
Karena kita, terhubung dengan mantan raja hutan ini.

photo & teks by Sumber


Related Blogs

    Share