monitaHai..” Begitulah Monita Tahalea menyapa dengan lagu pertamanya di album “Dandelion” yang mulai disuguhkan kepada pencinta musik sejak tanggal 18 Januari 2016. Ini adalah album keduanya, setelah album “Dream, Hope, & Faith” yang diproduksi oleh Indra Lesmana di tahun 2009 dan dirilis tahun 2010.

There are always reasons – Selalu ada alasan untuk berpikir positif tentang apapun yang dialami dalam hidup ini. Demikian pula ketika Monita mulai menggarap materi album keduanya. Di delapan dari Sembilan lagu di album “Dandelion”, ia terlibat pembuatan musik atau liriknya. Hanya lagu “I’ll Be Fine”, satu-satunya lagu berbahasa Inggris di album tersebut, Monita mempercayakan kepada Marco Steffianodan Gerald Situmorang untuk urusan musik, dan Joshua Kunze yang menulis liriknya bersama Marco. Semua lagunya menitipkan perenungan dan sikap optimis untuk menyambut hari.

Monita Tahalea melihat kehidupan dengan unik. Ia tidak memulainya ketika pagi, tapi ia merenungkan dan mempersiapkan diri ketika senja, saat langit berwarna jingga keemasan. Sepi menjadi bagian dari proses merenung di dalam diri dan itu tak menjadi duka yang menimang hati, namun menjadi rencana untuk melangkah berbuat lebih banyak lagi karena keyakinan janji Sang Pencipta untuk selalu mendampingi setiap insan.

Sejak awal, Monita dihadapkan kepada pilihan yang membuat ia harus memikirkan dengan bijak dan mengambil keputusan. Pada tahun 2005, Monita berkesempatan untuk kuliah di University of Queensland, Australia, namun pada saat bersamaan ia juga mengikuti Indonesian Idol musim yang kedua. Pilihannya untuk terus mengikuti Indonesian Idol menjadi pilihan yang tepat. Bukan sekedar Monita berhasil menjadi semi-finalis, tapi di ajang itulah ia bertemu dengan para juri yang dikemudian hari membuka perjalanan karirnya sebagai musisi.

Album pertama yang melibatkan Monita Tahalea adalah album kompilasi bersama peserta Indonesian Idol 2005, yang kemudian segera disusul keterlibatannya di album Andre Hehanusa, “Secret of Love”, dalam lagu “Satu Kata”. Pada tahun 2006, masih bersama dengan kawan-kawannya di Indonesian Idol, Monita Tahalea tampil di ajang festival jazz terbesar di dunia, Jakarta International Java Jazz Festival 2006, yang juga menampilkan musisi Amerika, Dave Koz dan Vinny Valentino.

Pada tahun-tahun berikutnya, Monita Tahalea melaju dengan layar yang terkembang. Tidak saja tampil di berbagai panggung musik bergengsi, pada tahun 2007 Monita Tahalea dilibatkan dalam album “Kemenangan Hati” milik salah satu juri Indonesian Idol 2005, Yovie Widianto.

Setelah ikut dalam album kompilasi dari peserta Indonesian Idol 2004 – 2007, “Kembali Satu” yang mempertemukan kembali dengan Indra Lesmana, juga merupakan juri Indonesian Idol, Monita akhirnya membuat album solo pertama di tahun 2009. Album “Dream, Hope & Faith” yang diluncurkan pada tahun 2010 diikuti penampilannya di panggung sendiri di ajang Jakarta International Java Jazz Festival 2010.

Tahun 2011 menjadi tahun yang istimewa, karena Monita Tahalea berhasil meraih gelar sarjana Desain Grafis dari Universitas Trisakti, sementara karir bernyanyi semakin lengkap dengan membentuk Monita Tahalea Kwartet yang tampil secara regular di Red White Lounge. Kehadirannya kembali di panggung Jakarta International Java Jazz Festival 2012 disambut hangat oleh Java Jazz Goers, hingga memenuhi ruang pertunjukan.

Monita Tahalea banyak terlibat berbagai proyek bermusik, termasuk album EP, “Songs of Praise” (2013) yang diproduksi Indra Lesmana dan Hanny Lesmana, album music untuk film “Adriana”, dan lagu untuk film “Filosofi Kopi” yang berjudul “Filosofi & Logika”.

Dandelion

Tanaman ini dianggap gulma atau tumbuhan liar yang sering dianggap tidak penting, bahkan mengganggu. Tumbuhan asli Asia dan Eropa ini begitu mudah menyebar ketika bunganya tertiup angin. Tumbuhan ini juga banyak ditemui di padang rumput di Amerika Utara. Menurut penelitian medis, akar dan daun Dandelion atau di Indonesia dikenal sebagai Randa Tapa kini berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit karena kaya kandungan vitamin A, vitamin B6, vitamin C, zatbesi, kalsium, serta magnesium. Bagus untuk empedu dan hati manusia.

Album “Dandelion” didukung oleh musisi Gerald Situmorang (gitar), Indra Perkasa (bas akustik), Jessilardus Mates (drums), Yoseph Sitompul (piano/keyboard), Ricad Hutapea (flute/saksofon), Dika Chasmala (biola), Rachman Noor (cello), Sri Hanuraga (piano), Jordy Waelauruw (trumpet), Gabriela Cristy (vokal), dan saudara-saudaranya Michelle Tahalea yang bersama Monita menggarap desain dan layout, serta Randy Tahalea, ilustrator di album “Dandelion” yang dikemas cantik. Albumnya sendiri diproduseri oleh Monita Tahalea dan Gerald Situmorang. Album yang sarat dengan “vitamin” musisi dan tenaga kreatif muda yang menjadikan sajian keseluruhannya menyehatkan pencinta musik.

Melalui album “Dandelion”, Monita Tahalea ingin menyebarkan spirit kemanapun pendengarnya berada. Cinta dan kesempatan selalu menghadirkan pilihan. Optimis karena selalu ada alasan mengapa berbagai hal tersebut hadir di hadapan setiap manusia di dunia. Bertanya untuk memastikan pilihan, bukan terhenti dan tak berbuat apa-apa. Karena apapun yang kita pilih, selalu ada alasan mengapa setiap kita hadir dalam kehidupan.

Monita Tahalea meniupkan spirit layaknya menyebarkan benih Dandelion. Meniupnya dengan segenap cinta.

Related Blogs

    Share