IMG_3529Jakarta International Java Jazz Festival 2016 kembali hadir pada 4-6 Maret 2016. Mocca sendiri dijadwalkan tampil di gelaran festival jazz terbesar di Indonesia pada 5 Maret 2016. Tentunya bakal ada kejutan yang disiapkan Arina, Toma, Riko, dan Indra untuk penampilan mereka di Jakarta International Java Jazz tahun ini.

Yap, sebuah single baru berjudul “When We Were Young” akan mereka suguhkan bagi Swinging Friends yang hadir di Java Jazz nanti secara perdana. Single ini menceritakan tentang sebuah perjalanan hidup yang menceritakan tentang hari kemarin saat masa muda dan apa yang akan kita lakukan bersama setelah tua nanti.

Kejutannya tak hanya sampai di sana, di single ini suara manis dan tinggi Arina akan berbaur dengan suara dari Vicky Mono, vokalis band metal Burgerkill. Berangkat dari rasa penasaran akan suara vokalis band metal, menjadikan Mocca mantap memilih frontman band cadas asal Bandung ini dan membuat sebuah kolaborasi yang amat baru bagi Mocca.

“Di single baru, kita mencoba bekerja sama dengan orang orang di luar lingkaran Mocca secara musikal. Sebenarnya kita penasaran sama suara vokalis band metal, kalau nyanyi clean seperti apa? Nah, ternyata dijawab dengan baik oleh Vicky. Sekaligus mengeksplor juga Vicky yang frontman Burgerkill kalau di bawah bendera Mocca akan jadi seperti apa” tutur Riko Prayitno.

Vicky sendiri mengaku senang dapat ikut berpartisipasi dan menjadi bagian sejarah perjalanan Mocca. Mencari range vokal yang tepat dan menyelami swing feeling menjadi tantangan yang dianggap menarik vokalis cadas ini.

“Menyanyikan genre musik yang teman-teman Mocca mainkan itu seperti sederhana tetapi sulit untuk menyelaminya karena banyak sekali teknik-teknik baru yang gue tidak tahu tapi itu sangat menarik sekali, ini juga alasan utama mengapa gue mau diajak kerjasama teman-teman Mocca karena gue yakin banyak hal-hal baru yang bakal didapat,” ujar Vicky.

Selain itu, kolaborasi ini juga dianggap sebagai salah satu yang bisa membuka pandangan bahwa musik itu luas dan bisa dipadupadankan. “Selama masih dalam garis movement yang serumpun dan visi misi bermusik yang sama, kolaborasi adalah bukan pilihan yang keliru. Musik bagi gue merupakan dunia yang lapang tanpa harus terkotak-kotak oleh pembagian genre,” pungkasnya.

(angga badilz)

Related Blogs

    Share