minikino-02
Kesan desa Pedawa di wilayah Bali sisi utara, yang pernah identik dengan tindak kekerasan kini kian memudar, tergantikan keramah-tamahan namun tetap dibarengi kreatifitas yang semakin berani dan eksperimental. Ini dibuktikan dari hasil workshop pembuatan film yang dilakukan oleh para remaja desa Pedawa. Workshop yang dilaksanakan dua hari berturut-turut dari tanggal 1-2 Juni 2019, dalam waktu total 30 jam semuanya berlangsung lancar dan menarik. Seluruh peserta antusias mengikuti kegiatan ini, selain menjadi pemain di dalam film, muda mudi desa Pedawa juga mengalami mulai dari menuliskan ide cerita, mengembangkan cerita itu sampai ke proses persiapan dan produksinya, bahkan hingga post-produksi.
image004
Workshop pembuatan film ini dilaksanakan secara swadaya oleh Minikino dengan menggandeng Kelompok Pencinta Alam Kayoman Pedawa, kelompok setempat yang aktif mendorong kegiatan-kegiatan kreatif di desa mereka. Kegiatan ini bertempat di rumah adat Bandung Rangki, Desa Pedawa, Buleleng, Bali. Minikino juga mengajak remaja Pedawa berkenalan dengan produksi film pendek dengan menggunakan teknik one-shot.
 
One-shot adalah sebuah teknik produksi film dengan cara sekali rekam sampai akhir film. Walaupun terkesan sederhana, namun menggunakan teknik ini para peserta benar-benar ditantang untuk merencanakan dan mempersiapkan dirinya dengan ide cerita, rencana blocking, serta hal-hal teknis lainnya dengan selengkap-lengkapnya. Karena, kalau terjadi kesalahan ketika proses rekam berjalan, maka adegan terpaksa diulang kembali secara keseluruhan. Proses pengeditannya pun akan mengedepankan teknik ini tanpa ada pemotongan, sehingga penonton dapat menyaksikan dan mengagumi kesinambungannya. One-shot adalah sebuah teknik yang sulit dan menantang tenaga dan kreatifitas semua yang terlibat. Mulai pengembangan cerita, kamera, perekam audio, serta kelihaian semua tim untuk mengatur adegan-adegannya. Semua peserta harus benar-benar memahami posisi mereka dan selalu bersiap untuk spontan mengatasi kendala yang tidak terkira sebelumnya.
 
image005
Fransiska Prihadi selaku direktur program Minikino menyampaikan “Tema one-shot ini memang secara sadar kami pilih, karena ingin menempa peserta untuk lebih serius, terutama di proses perencanaan dan persiapannya. Kalau ada yang cuma setengah-setengah, pasti merasakan akibatnya pada saat produksi.”. Tambah Fransiska, “Tentu saja pelatihan 30 jam ini hanya waktu yang pendek. Kami tidak mentargetkan sebuah hasil yang profesional, namun pengalaman ini dipastikan menjadi bekal berharga untuk semua peserta, kalau suatu hari mereka berinisiatif membuat produksi film lagi”
  image002
Workshop hari pertama diawali dengan pembekalan materi oleh Edo Wulia selaku direktur Minikino, menjelaskan tentang sejarah film pendek dan dasar elemen-­elemen di dalam film. Peserta juga diberikan informasi perkembangan film pendek di dunia saat ini, agar peserta menyadari apa yang mereka bisa lakukan dengan karya film pendek, dengan pemahaman yang lebih mendalam. Edo juga menyampaikan elemen-elemen dasar film, menekankan bagaimana elemen audio sangat berpengaruh di dalam film. 
 
Setelah itu, workshop dilanjutkan dengan pemberian materi dari Made Birus selaku direktur eksekutif Minikino. Made Birus menyampaikan teknik produksi one shot serta memutarkan beberapa film hasil workshop Minikino terdahulu, yang juga menggunakan teknik one-shot. Hal ini memberikan referensi kepada para peserta tentang bagaimana teknik one-shot di dalam film, dan hasil yang ingin didapatkan. Para peserta juga diajak melakukan simulasi produksi untuk memahami tugas masing-masing dan blocking adegan. Sebelum istirahat, diskusi pengembangan penulisan cerita juga disambut dengan antusias. Setiap peserta saling menanggapi untuk memasukkan idenya ke dalam rencana cerita film.
 
image006
image008
Gede Patra Santika, salah satu peserta one-shot filmmaking workshop menyatakan semangatnya, “Saya senang sekali bisa ikut karena selain menambah wawasan saya juga mendapat banyak hal baru, apalagi ini workshop film yang pertama kali pernah saya ikuti.”
 
Workshop hari pertama ditutup dengan menonton layar tancap bersama. Setelah matahari terbenam, layar tancap ini digelar untuk umum. Lebih dari dua ratus warga desa Pedawa dan desa-desa tetangganya berduyun-duyun hadir, menikmati film-film pendek pilihan. Film-film pendek yang diputar sangat beragam, mulai dari komedi hingga horor dan juga dokumenter. Ada pun film-film yang diputar antara lain seluruh program Indonesia Raja 2015 , serta seluruh hasil workshop one-shot Minikino yang sudah pernah dilakukan tahun 2016 lalu, serta 2 film karya dari desa Pedawa sendiri yang berjudul Tangtu Kepunaan dan Seletin Luun Paguan, yang disutradarai Made Suisen. Yang unik dari 2 film karya desa Pedawa ini adalah, mereka memakai bahasa asli Pedawa yang memiliki perbedaan dari bahasa Bali lainnya. Sebuah karya dari wilayah Bali utara juga ikut ditampilkan, berjudul Atma Tulah  yang disutradarai Pasek Taksu North Bali.
 image010
Menurut Sudarmaja selaku perbekel desa Pedawa, kegiatan workshop ini sangat bagus, selain mendorong kreatifitas warga desa khususnya anak muda, kegiatan seperti ini juga secara tidak langsung mengikis anggapan masyarakat tentang desa Pedawa dulu.
 
Wayan Sukarta selaku pemilik rumah adat tempat dilaksanakannya workshop, menambahkan, “Jika terus kegiatan-kegiatan seperti ini dilakukan, anak muda Pedawa akan memiliki lebih banyak lagi pilihan kreatifitas untuk berkegiatan.”. “Di desa ini kan ada kelompok olahraga dan beberapa kegiatan pemuda”, tambahnya lagi dengan bersemangat.
 image009
Pada akhirnya workshop ini berhasil menyelesaikan dua film pendek. Masing-masing film dengan judul Ara Ngidang Naanang (Tak Bisa Tahan) dan Salah Tampi (Salah Paham). Kedua film pendek hasil peserta workshop tersebut menggunakan bahasa asli Pedawa. Dijelaskan oleh salah satu pengurus Kelompok Pencinta Alam Kayoman Pedawa, I Made Suisen yang juga akrab dipanggil I Bonk, “Kedua film ini sengaja menggunakan bahasa asli Pedawa, selain untuk tujuan memperkenalkan bahasa ini untuk penonton lebih luas, tujuannya juga ingin memotivasi generasi muda Pedawa untuk menghargai kembali bahasa Pedawa agar nanti tak hilang ditelan jaman.”
 
Minikino dan Kelompok Pencinta Alam Kayoman Pedawa menutup dua hari workshop dengan menonton bersama hasil film karya para peserta workshop. Komentar-komentar spontan terjadi di sela-sela pemutaran film, sesekali tertawa girang karena melihat ekspresi wajah mereka sendiri di layar. Selain itu keluarga dari para peserta workshop yang hadir pun tampak berbahagia dan terharu melihat wajah anak cucu mereka di layar. Peserta senang, panitia senang, penonton pun senang. Sebuah pengalaman yang hanya bisa diwujudkan melalui niat dan kerja nyata untuk menciptakan kebersamaan, dan semua ini dimungkinkan melalui semesta aktifitas film pendek.
image003
image013 image012
=====================================================================================
For more info:
Instagram: @minikinoevents


Related Blogs

    Share