pamflet-coming-R1

Didasari oleh keinginan luhur untuk berbangsa dan bernegara yang baik meskipun dalam artian sebenarnya pun bangsa dan negara ini tidak berharap kepadanya, Muhammad Nauval Firdaus aka Deadnauval, seniman muda asal Malang bekerja sama dengan Widandari Art Foundation berencana menggelar pameran tunggal pertama miliknya dalam waktu dekat. Pameran bertajuk “Menjagal Kewarasan” ini dihelat pada akhir Juli 2017 di lokasi yang masih dirahasiakan sampai ada pengumuman lebih lanjut dari pihak berwajib yang pastinya bukan si penulis. Sebagai sedikit bocoran, lokasi akan berada di dalam lingkaran Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Di dalam dunia yang terlihat “baik-baik” saja ini, mengutip pernyataan Joshua Oppenheimmer dalam satu wawancara dengan Warn!ng Magz ini, persepsi akan keadaan yang seakan dibentuk menjadi “wajar” dan “baik” agaknya perlu dipertanyakan kembali. Isu-isu sosial seperti modernisasi, konsumerisme, pendidikan hingga lingkungan semakin hari semakin sering menghiasi berita-berita di berbagai pemberitaan. Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang menjadi latar belakang kegelisahan lelaki yang pernah mengikuti pameran “Thursday Noise #2” di Qubicle Jakarta pada tahun 2016 ini; di mana ia melihat semakin sedikit orang yang berani mempertanyakan hal-hal tersebut pada hari ini, setidaknya di lingkungan sekitar dirinya. Dengan kata lain, ia menyampaikan bahwa orang-orang cenderung tidak mau riskan dalam melihat sebuah persoalan.

Jalan melalui diskusi atau dialektika yang dibangun mungkin seringkali hanya berujung pada obrolan warung kopi tanpa realisasi, sehingga butuh cara lain yang lebih riil dalam pewujudan semua itu. Menyalahkan sistem, norma, aturan atau apapun yang menyebabkan terciptanya berbagai kesenjangan akan isu-isu di atas juga bukan merupakan solusi yang bisa diambil begitu saja. Pada titik ini, Nauval berpendapat bahwa lebih baik ia berkaca pada dirinya sendiri terlebih dahulu, “menyembelih” kesadaran, melewati batas-batas kewajaran yang “dibentuk” masyarakat banyak atau invisible hands untuk mendefinisikan seorang manusia “normal” dan akhirnya menemukan jawaban berbagai kegelisahan tersebut di dalam dirinya sendiri. Pada akhirnya, produk-poduk dari pengolahan tersebut didokumentasikan dalam karya rupa yang akan dipamerkannya nanti.

“Ya, selain itu juga sebagai tanggung jawab sebagai seniman rupa, harus berkarya,” begitu kata inisiator NoFlag Temple, sebuah komunitas seni di Malang ini. Ia menambahkan bahwa sebagai generasi baru, ia mempunyai tanggung jawab agar karyanya menjadi sumbangsih budaya terhadap tanah air yang telah menjadi wadah eksistensi jiwa raganya selama 22 tahun ini. Terakhir, ia juga berharap karya-karyanya dalam pameran ini akan memberikan sebuah alternatif pemikiran dan persepsi baru kepada para penikmatnya yang pada akhirnya, membuka kesempatan untuk berdiskusi tentang isu-isu sosial yang diusungnya.

Muhammad Nauval Firdaus, lahir 22 tahun yang lalu,  merupakan seorang seniman muda asal Kota Malang. Ia biasa ditemukan di pojokan Abank Coffee, Mertojoyo Malang. Ia merupakan seorang inisiator dan motor penggerak komunitas Taring Family dan NoFlag Temple. Beberapa pameran pernah ia ikuti baik sebagai partisipan hingga kurator. Tercatat, ada “Bahagia Art Exhibition #1” di tahun 2012; “Pameran Seni FIB” dan “November Art”, “Getting Old” dan “Typeface Exhibition” di 2013; “Breed” di tahun 2015, hingga puncaknya ikut berpartisipasi di kontes poster dan pameran “Thursday Noise” milik Jimi Multhazam (The Upstairs) di tahun 2014 dan 2016.

Selain itu, sebagai desainer grafis paruh waktu, beberapa karya dari Nauval pernah melanglangbuana di mana-mana, dari sampul buku hingga cover band. Di antaranya: desain sampul buku puisi “Imaji”, novel “Gagak”, buku puisi “Amatir” dan “Asmoro Werno” (2012), poster “Hari Bumi” dan mural “One Billion Rising Malang” (2013), “Barokah69 Clothing Company” Mural Ingat Sejarah hingga 10 tahun Munir Menolak Lupa (2014), ilustrasi “Selamat Ulang Tahun Wiji Thukul”, desain flyer pameran seni rupa “Art for Nature” dan ilustrasi “Hoax Fingerboard”, “Blackmouth Clothing Company” untuk logo dan ilustrasi hingga “Festival Merah Hitam” tahun 2016. Wish Me Luck, Deathwish sampai The Pronks juga pernah mendapatkan jasa pemuda ini untuk sekedar mendesain cover hingga kaos mereka.

Selain sibuk dalam dunia perupaan, Nauval juga sering menggeluti dunia seni lain. Tercatat ia pernah menjadi anggota Sanggar Teater Kalam MAN 1 Malang tahun 2011, di mana ia menjadi tim artistik di sana. Lalu, mempunyai proyek bernama Deathwish dan Lyvor Mortys yang fokus untuk mewadahi kegelisahan-kegelisahan dirinya akan “Duniawi yang gini-gini aja” (catchphrase miliknya sendiri juga). Untuk mendengarkan kedua proyek ini, cukup search saja di Soundcloud masing-masing.

=============================================================================

Widandari Art Foundation

 

Related Blogs

    Share