13584309_792200660915589_1939675935_n.jpg

Kisah tentang permulaan

Buktu (Buk-Tuu), sebuah kata yang berasal dari bahasa batin yang berarti sebuah tempat utuh, bulat, namun tanpa dasar. Seperti limbo yang direpetisi dengan kesadaran absolut. Buktu adalah momen bebas makna yang biasanya memunculkan perasaan gelisah. Kata Buktu dapat dipakai untuk menggantikan momen abu-abu yang dirindukan, seolah memelihara konflik kebingungan  personal. Contohnya:

Jana ada di antara lembah. Ketika masa lalu menghempasnya untuk bersungkur diantara ceruk kematiannya sendiri, ia bergetar hebat memutar kenangan dengan kecepatan cahaya. Jana berada di tepian kisahnya, menatap ceruk lembah dengan senyum paling satir,”hidup selalu menawarkan celahnya untuk diumpati. Begitu genit, tragedi dan komedi sublim dalam setiap cerita manusia”, Jana menatap tubuhnya sendiri, dari kaki hingga ujung hidungnya. Lambat laun ia bergelinjang, menggabungkan tangis dan tawa di waktu yang sama. Sebuah momen Buktu yang terlampau intim. Kemudian ia terjun bebas, menghampiri dirinya senddiri yang menunggu diluar dimensi.

Jana adalah setiap orang yang diam-diam mencintai kebingungannya sendiri. Seseorang dengan rasa cinta mendalam terhadap kegilaannya sendiri. Momen buktu Jana bisa terjadi pada siapapun. Momen buktu kadang sesederhana seorang yang tersenyum sebelum memutuskan membeli kemeja kotak-kotak atau kemeja polos merah marun. Momen buktu bisa serumit ketika kau tiba-tiba memiliki hasrat meminum racun serangga atau menjalani hidup dengan sikap lebih angkuh. Momen buktu bisa sebiasa ketika ia bertemu dengan dua pilihan: bergerak atau diam.

Waktu menyediakan buktu sebagai padang lamun dihidup yang lajurnya terlalu rapi. Setelah mengalami buktu, seseorang bisa berdiam diri, berlari, tertawa, menyeringai, meyelam, menghancurkan diri, berdoa, atau cukup tersenyum. Bahkan terkadang, melintas begitu saja. Sejak awal, pikiranlah yang menentukan laku yang dipilih ketika bertemu dengan buktu.

Dan sebagai permulaan mengenal momen buktu, mulalilah dengan mencintai rasa resah.

Related Blogs

    Share