Mella-Jaarsma-mencoba-menghangatkan-es-krim

Pengunjung mengisi buku tamu dan mendapatkan es krim cone berwarna pink. Selanjutnya, mereka dipersilakan menuju ruang pamer. Sebelum sampai ke ruang pamer, pengunjung melewati sebuah lorong. Sepanjang lorong terdapat set, kursi, hairdryer, lengkap dengan tata lampu, juga juru kamera yang siap merekam adegan. Berbekal es krim, pengunjung terlihat bingung akan melakukan apa. Tidak ada informasi khusus baik dari poster maupun panitia.

Suasana-pameran-di-DGTMB

Tak jauh dari lorong, seorang pria gondrong dengan perawakan kecil asik memantau, lalu berucap, “Silakan manfaatkan alat sesuka hati. ” Pria itu bernama FJ Kunting (33), seniman yang berpameran memenuhi undangan DGTMB Versus Project ke 15. Suasana itu menjadi potongan malam pembukaan pameran pada Jumat (31/6) bertajuk “Matahari 12089”. Judul diambil dari jumlah matahari yang berhasil FJ Kunting kumpulkan selama hidupnya dari lahir sampai hari pameran berlangsung. Ia juga menghadirkan title “Self Diagnose #2”, diambil dari studi hariannya terkait performance art. Lokasi pameran bertempat di Daging Tumbuh Shop, Jalan Kadipaten Kidul, No. 28, Yogyakarta.

Suasana-pembukaan

Lokasi terbagi menjadi dua ruang, pertama untuk perform, kedua sebagai galeri. Selain itu, tempat tersebut berfungsi sebagai toko yang kebanyakan berisi barang karya seni. DGTMB Versus Project sendiri merupakan sebuah ruang berekspresi bagi seniman muda berbakat. Gelaran acara berkesinambungan, dimana tiap perhelatan selalu berupaya menampilkan pameran yang lebih menarik dari sebelumnya. Kunting mengadirkan kembali adegan pecah balon yang ia beri judul “Konstruksi Konflik” secara live. Mulanya, ia duduk di sebuah kursi dengan telanjang dada. Selanjutnya, ia mengambil balon, dirangkulnya benda tersebut, lalu sebuah hairdryer ia arahkan ke balon. Beberapa detik kemudian, “Dor!” meledak. Ia mengulangnya kembali berkali-kali, namun dengan memasang mimik muka beragam. Sesekali seolah sangat menyayangi balon tersebut, terkadang cuek, berikutnya ragu. Seketika balon meletus, ia kaget, bisa juga tidak sama sekali. Balon dapat meletus dalam waktu cepat, terkadang lama. Bambang ‘Toko’ Wicaksono yang pada malam itu membuka pameran melihat adegan tadi sebagai sesuatu yang menarik, “Performance Kunting tidak hanya mengetes sejauh mana tubuh bereaksi terhadap respon dari luar, tetapi mencoba sejauh mana alat itu. Balon dan hairdryer bekerja. Pada titik tertentu memang akan terjadi letusan, namun tidak bisa diprediksi dari awal kapan meletus. Saya pikir kemudian itu yang menjadikan perasaan penonton larut dalam performance-nya.” Sebelumnya, Bambang ‘Toko’ telah melihat karya tersebut ketika menyeleksi karya dalam pameran ArtJog 2015, Infinity In Flux, karya Kunting lolos seleksi dan dipamerkan. “Malam ini saya senang dapat melihat langsung. Ada sensasi yang berbeda ketika melihat langsung dibandingkan menonton di video. Memang video bias dibuat kapanpun, namun tiap momen jelas terasa berbeda. Itulah mengapa perlunya dokumentasi dalam karya performance art. Sebelumnya, tidak pernah terbayang hingga akhirnya saya mencobanya malam ini. ”Seremonial pembukaan pameran dilakukan Bambang ‘Toko’ dengan aksi serupa. Pameran resmi dibuka ketika balon meletus, “Dor!” Di ruang pamer terdapat beberapa karya. Ada rambut dibungkus dengan plastik, berupa gulungan rambut, barangkali hasil rontokan, tertera catatan tanggal yang ditampilkan dengan cara random. Ada karya berupa buku sejumlah 30 dengan menghadirkan sampul dari karya fotografi. Melalui teknik transfer images terlihat jelas Kunting banyak mengeksplor tubuhnya dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar. Wajah ditumpuk batu, wajah dililit meteran, menggunakan pernik berbahan tutup botol,menata gaya rambut dan sebagainya. Di sudut lain, terpasang karya video berjudul “Primer”, berupa korek api gas yang dinyalakan dalam gelap dengan mengambil jeda waktu tertentu. Sesekali api menyala, namun kebanyakan adalah percikan-percikan api. “Ada eksplorasi momen art yang sangat berbeda. Jadi tubuh tidak hanya menjadi bagian sepintas. Tubuh menjadi media yang sangat luas dalam karya-karya Kunting. Itu yang sangat kuat. Eksplorasi yang dialakukan secara tidak langsung bias menjadi kesadaran bahwa sebenarnya apa yang dihadirkannya adalah sesuatu yang sangat simpel, tetapi pemaknaan yang diaberikan begitu dalam. Misal, karya yang ditampilkan dari rambut. Lihat bagaimana dia mendata, menyimpan memori dan mengupas perjalanannya lewat bahasa rambut. Sangat melekat dari sisi performance.” Ucap Eko Nugroho selaku Kurator pameran dan tuan rumah DGTMB. Eko melihat gelaran Versus Project oleh FJ Kunting telah membuka kembali ruang-ruang performance art. Karya–karya yang Kunting tekuni sampai saat ini adalah sesuatu yang sebetulnya tak bisa dinilai dengan harga. Kekuatan momen menyatu menjadi sangat kuat bahwa itu karyanya. “Saya berharap lebih banyak memantau untuk melihat perkembangan medan kesenian. Wacana acara seni yang sebelumnya memang sudah terbuka menjadi lebih terbuka dan semakin banyak peluang. Kita nggak pernah tahu. Kekaryaan seperti kita bernafas. Saya salut dan optimis buat aktifitas kesenian Kunting.” Tutup Eko di akhir jam pameran. Bagi Kunting, gelaran malam itu adalah kesempatan menawarkan “Self Diagnose” untuk kedua kalinya. Pameran menjadi sebuah rangkuman proses, pencarian simbol, ungkapan, performance art, bersumber dari studi harian yang telah ia lalui. Kunting mengemasnya dalam wilayah ekspresi. Materi pameran merupakan hasil temuan beberapa idiom yang ia bangun juga berbagai dokumentasi dari apa yang telah ia gugurkan dan hasilkan. Ia tampilkan kembali karyanya dengan maksud agar apresian tahu live-nya seperti apa, lalu bisa interaktif mencoba. Sesederhana seperti apa yang telah Kunting lakukan sejauh ini. Disinggung soal es krim, ia menjawab “Es krim terkait wacana global warming. Benda yang kita hasilkan menciptakan suatu panas. Aku mencoba menawar kangagasanku melalui perfom untuk apresian mencobanya. Untuk karya korek, aku membayangkan tentang suatu krisis api, dimana dari percikan pengapian itu menjadi wacana umum. Aku tawarkan kembali ke wilayah primer.”Seniman FJ Kunting telah mengawali kiprah kesenian semenjak tahun 2004. Menyusur berbagai wilayah, dari lukis, mural, musik, puisi dan kegiatan aktivisme. Serius menekuni performance art semenjak 2010. Seringkali aksinya ditawarkan di ruang alternatif, seperti gelaran sastra di warung kopi dan panggung musik oleh komunitas subkultur. Ia memiliki wilayah pergaulan luas. Kita banyak menjumpai karya performance-nya berasal dari material teman-teman sekumpulan, seperti liriklagu, puisi dan gimmick panggung. Malam pembukan pameran itu ia mengambil kesan bahwa pameran dilaksanakan agar pengunjung bisa menikmati live performance lewat solo eksebisinya. Baginya, pameran ini juga merupakan daily study-nya.

Related Blogs

    Share