Album-Svara-Semesta

Ayu Laksmi meluncurkan album keduanya, Svara Semesta 2. Ia kembali mengajak pendengarnya memasuki dunia meditatif nan reflektif lewat musik etnik kontemporer yang kali ini banyak berbicara tentang perempuan. Sosok tangguh dalam kehidupan ini digali lewat lirik dan penggarapan musik secara apik. Ditransformasikan ke dalam peristiwa kekinian yang relevan dalam hidup keseharian.

Ayu Laksmi datang dengan membawa sentuhan baru, menyuguhkan proses kreatif yang sama sekali berbeda dibandingkan kala pertama ia menapaki jalur bermusik. Gebrakan itu diawalinya pada 2010, lewat kelahiran album Svara Semesta yang memberi warna baru pada dunia musik serta panggung pertunjukan Indonesia dengan gayanya yang khas.

Photo by Jose Riandi 4.jpg

Album itu mengusung syair-syair yang berasal dari kutipan karya sastra tua. Salah satu lagunya berjudul Sasi Wimba merupakan petikan dari kakawin Arjuna Wiwaha. Dalam keseharian tradisi upacara, kakawin ini dikenal sebagai sastra paling populer dibacakan dan dinyanyikan dengan gaya bernyanyi tradisi yang disebut pepaosan atau kini disebut sloka.

 

Pilihan Ayu Laksmi melibatkan kekayaan Bahasa Kawi dan bahasa daerah, elemen, simbol-simbol dari khasanah sastra klasik, pada akhirnya menjadi bagian dari daya tarik album Svara Semesta. Ayu Laksmi pun membawa kekhasan dalam setiap pementasannya, menampilkan fragmen dramatis dengan kehadiran bunga teratai, elemen asap harum, dan menciptakan aura meditatif.

 

Pada 2015, setelah berkelana dalam berbagai dunia panggung baik teater maupun film, Ayu Laksmi kembali meneguhkan dirinya di jalur musik etnik yang menghormati seluruh kekayaan kultural. Utamanya dari kekayaan syair yang dieksplorasi menjadi khasanah musikal. Hal ini terungkap lewat Svara Semesta 2, yang disuguhkan dalam 7 (tujuh) bahasa; Bahasa Indonesia, Inggris, Bali, Minang, Latin, serta Sansekerta dan Jawa Kuna

 

Jelajah Ayu Laksmi tak hanya pada wilayah yang berupa ajakan humanis, tetapi merambah pula pada sapaan suci, kepada kekhasan nyanyian-nyanyian dari liturgi yang khas. Dalam album keduanya ini, ada Btari Nini yang mengingatkan pada budaya Nusantara yang memiliki tradisi pemujaan kepada Dewi Sri, sang Dewi Padi. Dari bentangan tanah Sunda, Bali, Lombok maupun Aceh, tradisi penghormatan kepada padi ini memberi wilayah tata krama akan adanya kesantunan sikap dalam memberi dan menerima, serta memelihara.

 

Di khasanah kesetaraan, Ayu Laksmi memilih Daima, sebuah syair yang mengisyaratkan kerinduan pada kekuatan Ibu dari ranah Melayu, dalam hal ini Minang. Sawung Jabo juga menitipkan satu lagu berjudul Gumam Batin yang mengisahkan pengembaraan hidup yang dinamis.

Photo by Jose Riandi 3.jpg

 

Sementara lagu Kidung Maria dan Hyang, memberi penguatan bahwa spiritualisme sesungguhnya lembut dan feminin. Keharmonisan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa dikaji lewat Tri Hita Karana; yang mengingatkan bahwa masa depan adalah gambaran penghormatan kepada kelahiran. Pada lagu Reinkarnasi, lewat dinamika musiknya memberi kekuatan pesan bahwa pergerakan ke masa depan adalah kesiapan akan keterbukaan dan kerelaan menghadapi perbedaan.

 

Pada sisi yang paling mendalam, Ayu Laksmi menyelaraskan pentingnya komitmen untuk menghadapi perubahan dunia. Lagu Duh Atma, sebuah syair dari khasanah kakawin dengan Bahasa Kawi Muda, memberi isyarat akan komitmen, kesetiaan, dan keikhlasan menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Ini dapat pula setanding dengan Sasi Wimba, yang menjadi pertanyaan besar bagi para pencari kemuliaan hati dan hidup pada era manapun, bahwa yang mencari bayangan adalah bayangan itu sendiri.

Photo by Jose Riandi 5.jpg

 

Album ini diproduksi di Bali. Sebagian besar tema dalam album Svara Semesta 2 berkisah tentang pengagungan terhadap sosok yang tampak dan tak tampak. Karya yang terekam, terinspirasi dari langgam tradisi yang diinovasi dengan gaya nembang khasnya. Musik diaransemen dengan mengawinkan unsur timur dan barat, paduan bunyi tradisi dan modern, bersyair sastra kuno dan karya para sahabat sastrawan, diantaranya Cok Sawitri, Fajar Arcana, dan Alberthiene Endah.

 

Dari segi rupa, album didesain dengan memadukan konsep tradisi dan modern. Lukisan tradisi gaya Batuan karya I Made Moja yang menjadi sampul album ini menjadi penghormatan besar terhadap tradisi Bali. Penghormatan lainnya terhadap akar budaya yang memberi nafas dalam setiap karyanya juga ditunjukan dengan pengunaan aksara Bali. Lainnya, kehadiran fotografi karya Darwis Triadi dan Gusti Dibal seakan menegaskan, bahwa akulturasi dalam setiap daya penciptaan adalah sebuah keniscayaan.

 

Musisi senior Fariz RM pernah mengatakan, dalam kerja seninya, cara Ayu Laksmi menyampaikan kisah melalui musik dan lagu berani menabrak barikade serta aturan yang berlaku secara umum. Namun dengan kejujuran, keluguan, kesederhanaan, dan penjelajahan tanpa batas itulah, Ayu Laksmi bisa benar-benar mewakili imaginasi dan khayalan manusia yang memang tanpa batas.

 

Inilah yang ditawarkan Ayu Laksmi dalam Svara Semesta 2, sebuah karya yang diwujudkan bersama untuk dimiliki secara bersama. Melalui Svara Semesta 2 yang melibatkan See New Project dan Alm. Eko Wicaksono sebagai penata musik ini pula, Ayu Laksmi kembali hadir merefleksikan cintanya bagi hidup dan kehidupan yang menafasinya.

Photo by Jose Riandi 2.jpg

Ayu Laksmi memulai debut di panggung Nasional bersama dua saudaranya, Ayu Weda dan Ayu Partiwi, dengan memenangkan  BRTv (Bintang Radio Televisi) Bali pada 1983. Selanjutnya kelompok yang dikenal dengan sebutan “Ayu Sisters” ini mewakili Bali di Festival Nasional, meraih kemenangan sebagai Best Perfomers Tingkat Nasional. Itulah awal Ayu Laksmi, seniwati kelahiran Singaraja-Bali, 25 November 1967 melangkah ke panggung musik dan mendapat perhatian media, serta menjadi salah satu alasan ia didapuk sebagai vokalis group band SMA tertua di Bali, SMA 1 Singaraja (1984-1987).

 

Pada era itu, Kota Singaraja memang memiliki atmosfer yang mendorong proses kreatif masyarakat yang lebih ramah pada unsur seni modern. Bahkan bisa dikatakan melakukan pendobrakan dibandingkan wilayah lain di Bali. Kota Singaraja telah lebih dulu mengakrabi musik di luar jalur musik tradisi. Ayu Laksmi, yang tergabung dalam Group Labaronk, pada 1987 pun mencatatkan diri dalam All Indonesian Rock Festival – Log Zhelebour di Kota Surabaya & Malang.

 

Pada 1986, Ayu Laksmi menamatkan SMA. Sesuai “tradisi keluarga”, ia wajib melanjutkan ke bangku kuliah. Ibunya sempat berharap Ayu Laksmi kelak menjadi dokter. Namun Ayu Laksmi diterima di Fakultas Hukum Universitas Udayana, meski sesungguhnya bukanlah pilihan utama. Ia pun mengikuti panggilan hati sejatinya, yakni bergelut di dunia musik. Ia lalu sering tampil di berbagai pertunjukan musik di wilayah Jawa Timur, khususnya di Surabaya, mengikuti jejak kakaknya, Ayu Weda, yang juga sempat dikenal sebagai lady rocker. Selama beberapa tahun, Ayu Laksmi juga pernah menjadi vokalis utama dalam sebuah band rock perempuan di Jawa Timur.

 

Tahun 1988, ketika tengah asyik ber-jam session di sebuah acara live music di Elmi Hotel Surabaya, Ayu Laksmi dipertemukan dengan seorang pencari bakat bernama Tamam Husein. Tamam Husein-lah yang kemudian membawa Ayu Laksmi memasuki dapur rekaman di Team Record Jakarta dengan produsernya, Jan Djuhana.

 

Pada 1989, Ayu Laksmi mulai menapaki dunia industri musik dan mencuri perhatian dengan menjadi salah satu penyanyi soundtrack film legendaris di era tersebut, Catatan Si Boy 2. Ia pun mulai hadir dalam lingkungan para pemusik handal seperti  Harry Sabar dan Ekki Soekarno, dan dalam asuhan Titik Hamzah membentuk Trio Cute. Selanjutnya, ia meluncurkan single yang terdapat dalam album Indonesia’s Top 10 – Tak Selalu Gemilang – Didi AGP. Tak lama berselang Ayu Laksmi meluncurkan solo Album Istana Yang Hilang (1991) – Raidy Noor – produksi Team Record.

 

Kehadiran Ayu Laksmi di belantara musik industri tiba-tiba lenyap begitu saja. Pada 1990 Ayu Laksmi merasa tidak lagi memiliki hasrat mengikuti dinamika gerak industri musik Jakarta dan memutuskan kembali ke Bali. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum UNUD sembari mengisi waktu menjadi pengamen dari kafe ke kafe, hotel ke hotel, bersama Soul Island Band. Hingga pada 1997, Ayu Laksmi memutuskan bertualang di dunia pertunjukan, dengan kapal pesiar menembus lautan Karibia. Pengembaraannya ini memperkaya pengalamannya berhadapan dengan audien asing bersama musisi-musisi senior. Diantaranya, Tropical Transit yang dikomandani oleh Riwin, salah satu anggota Pahama. Dengan paras wajahnya yang khas, tak jarang ia dikira berdarah Amerika Latin.

 

Sepulang perjalanan melaut, Ayu Laksmi berproses dan berpikir ulang tentang tujuannya di dunia musik. Pada 2002, ketika Bali masih dicekam kedukaan akibat guncangan bom di daerah Kuta, Ayu Laksmi terdorong melakukan kontemplasi. Ia pun turut dalam program Bali for the World, bagian dari kegiatan pemulihan Bali, dengan membawakan petikan teks Kakawin Arjuna Wiwaha, Sasi Wimba.

 

Momen ini pula yang membawanya bertemu dengan seorang intelektual Bali bernama Sugi Lanus dan memperkenalkannya pada dunia rima dan irama dari khasanah sastra klasik Nusantara. Masih bergabung bersama kelompok musik Tropical Transit, pada 2004, ia menapaki panggung world music. Ajang ini mengenalkan Ayu Laksmi pada proses pemanggungan yang berbeda, disebabkan keperluan mengenalkan world music ala Bali.

 

Kejutan itu masih akan diingat ketika dalam siaran Nasional, TVRI Bali menampilkan Ayu Laksmi dengan Sasi Wimba berkolaborasi dengan  para penari dari Maha Bajra Sandhi serta penari kondang, Alm. Nyoman Sura. Lagu Sasi Wimba membawa Ayu Laksmi pada proses menemukan kecirian baru, kekhasan dalam mengeksplorasi teks-teks kuno.

 

Kesan religius menarik langkah Ayu Laksmi pada 2006 dalam Album Nyanyian Dharma yang dimotori Dewa Budjana, dengan menyumbangkan lagu Tri Kaya Parisudha. Namun sejatinya Ayu Laksmi tidak membatasi diri dalam satu kecirian pilihan genre musik. Pada 2007, Ayu Laksmi justru tampil di panggung bergengsi Java Jazz dan Soundrenaline pada 2008 .

 

Seirama dengan kegaduhan itulah, diam-diam Ayu Laksmi mengundurkan diri dari semua  komunitas grup musik. Perlahan mengurangi kegiatan bermusik di panggung, memasuki studio musik pribadi, tanpa beban memproduksi albumnya sendiri. Saat itu ia pun berpikir untuk bekerja layaknya orang pada umumnya, dengan membangun usaha event organizer dan mengisi waktunya bekerja pada Pemerintah Daerah Bali sebagai konsultan seni pertunjukan.

 

Namun justru pada tahun yang sama, Ayu Laksmi tak dapat menghindari proses kreatif bermusik. Film Under The Tree garapan Garin Nugroho memerlukan musik khas dalam premiere-nya. Ayu Laksmi pun menggubah Sasi Wimba untuk mendukung pelepasan film itu di Jakarta International Film Festival dan Tokyo International Film Festival.

 

Gubahan yang tak sengaja itu mendorong Ayu Laksmi melakukan proses persiapan Album Svara Semesta. Terdiri atas 11 Lagu, Svara Semesta diluncurkan tahun 2010, yang sekaligus menjadi kali pertama baginya membentuk kelompok musik sendiri dan diberi nama sama dengan albumnya, Svara Semesta.

 

Takdir memang seolah telah menorehkan jalannya bagi Ayu Laksmi. Perjalanan bermusiknya ternyata tak lepas dari dorongan kebutuhan pembuatan soundtrack film, yang pada akhirnya menjadi bagian dari proses pematangan gaya bermusiknya. Tercatat Ayu Laksmi menyumbang ilustrasi musik pada film dokumenter Bali is My Life – AVB (Kim Kindersley), Eclipse Soma Helmi, Barong Landung – TVRI Bali, dan Duh Atma dalam film dokumenter Ngurah Rai.

 

Tarikan dunia proses kreatif membawa Ayu Laksmi kembali pada pertemuan dengan sastrawan, pembuat film, dan musisi handal. Berselang antara tahun 2010 hingga hari ini, Ayu Laksmi mencoba berbagai ruang proses yang memberi varian baru. Diantaranya, membacakan cerpen karya  Leila S Chudori berjudul Pulang dan menjadi salah satu pengisi suara dalam audio book kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma membacakan cerpen Seruling Kesunyian. Penjelajahan lain ini mengasah pengalaman dalam memahami musik dan sastra, bahwa keduanya tidaklah berjauhan, bahkan dapat seiring.

 

Tidak mengherankan jika musisi kawakan Sawung Jabo lantas menitipkan satu lagu dalam Album Svara Semesta 2 berjudul Gumam Batin. Wartawan Kompas, yang aktif dalam kegiatan seni, Putu Fajar Arcana, juga menyumbang syairnya berjudul Hyang. Ayu Laksmi dengan terbuka menerima kontribusi itu karena sejak pertama kali diperkenalkan dengan teks sastra kuno oleh Sugi Lanus, Ayu Laksmi mendapatkan pemahaman baru mengenai suara-suara yang tersimpan dibalik rangkaian huruf. Yang meski tak dipahami maknanya, ketika diucapkan memiliki kekuatan bunyi yang menggetarkan.

 

Suara selalu mendekatkan getaran hati. Dan Ayu Laksmi meniti jembatan hubungan-hubungan dengan berbagai pihak, melalui suara-suara yang diheningkannya dalam perenungan mengenai keharmonisan dan rasa kasih dalam menjalani proses berkarya, yang semoga tak berkesudahan.

Filmografi

  1. Under the tree, sutradara Garin Nugroho (2008)
  2. Ngurah Rai, sutradara Dodid Wijanarko (2013)
  3. Soekarno, sutradara Hanung Brahmantyo (2014)
  4. Jejak Dedari, sutradara Erwin Arnada (2014)

Diskografi

  1. Istana yang Hilang (1991), music director/ arranger Raidy Noor
  2. Svara Semesta (2010), music director/ arranger Alm. Eko Wicaksono
  3. Svara Semesta 2 (2015), music director/ arranger See New Project & Alm. Eko Wicakson

Penghargaan dan Pengakuan

 

2013            :    Duta Gema Perdamaian Bali.

2012            :    Nominasi 5 Album Terbaik kategori Desain Grafis AMI Awards.

2011            :    Nominasi 10 Musisi Terbaik versi Majalah Tempo.

2010            :    20 Album Terbaik versi Majalah Tempo .

2009            :    10 Orang Terindah di Bali oleh pendengar Hard Rock Radio FM Bali.

2008            :    Nominasi Pemeran Utama Wanita Festival Film Indonesia.

2008            :    Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Tokyo International Film Festival dalam film Under the Tree.

2005            :    Duta Lingkungan Hidup Bali

 

dan lain-lain

Sekilas Tentang Svara Semesta

Didirikan Ayu Laksmi pada tanggal 25 September 2010, bertepatan dengan Hari Suci Sarasvati untuk mengawal dirinya saat peluncuran albumnya; Svara Semesta. Seiring waktu, kelompok musik yang mulanya tak bernama ini semakin kokoh dalam formasinya. Adanya loyalitas, total dedikasi, didukung keahlian serta keragaman selera musik yang dimiliki para musisi menambah kekuatan serta keyakinan dari Ayu Laksmi. Dengan demikian ia mendeklarasikan Svara Semesta bukan hanya sekedar judul album, tapi juga menjadi sebuah grup solid yang memiliki komintemn menyuarakan cinta kepada siapa saja dan dimana saja. Empat tahun berlalu. Kini Svara Semesta berkembang menjadi sebuah komunitas.

Visi Misi: Berbagi Cerita

 

Ayu Laksmi adalah seniman yang berpihak pada kualitas karya. Jika melihat karya seni dan pemanggungannya, visi dan misi Ayu Laksmi dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

  • Mengembalikan makna cinta dalam kedudukannya yang mulia. Cinta sebagai energi utama dalam kehidupan, terpaku agung dalam setiap karyanya,melebur segala perbedaan hingga dapat melahirkan harmoni hari ini dan esok nanti.
  • Menghadirkan simbol-simbol cinta kasih akan merekatkan jarak dengan siapa saja, hingga tumbuh rasa memiliki, dan mampu hadir sebagai sebuah gerakan kebudayaan melalui jalan kesenian.
  • Memperkenalkan  konsep kehidupan Tri Hita Karana  kepada  masyarakat dunia  melalui karya seni karena bersifat universal dan adaptif sekaligus berbagi  kisah pengalaman hidup kepada masyarakat, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, interaksinya dengan semesta alam, maupun komunikasi dialogisnya dengan Sang Pencipta.

 

Live Theatrical Music Performance

Ayu Laksmi-Svara Semesta: Love@1Point

Titik Communiactions didukung Djarum Bakti Budaya mempersembahkan Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi – Svara Semesta: Love@1Point. Dalam pertunjukan ini, simbol-simbol cinta hadir dalam berbagai bentuk dan persilangannya.

 

Manusia memiliki kemampuan mengenali suara-suara di dalam dirinya. Tuhan melalui semesta senantiasa berinteraksi dengan manusia dengan berbagai tanda. Suara adalah salah satunya. Proses pembacaan kehidupan inilah yang pada akhirnya menempatkan manusia pada posisi apa di dalam kehidupan.

 

Jika Tuhan memiliki rasa cinta, maka secara takdir, manusia memiliki rasa yang sama dalam menciptakan keharmonisan hidup. Mencintai sesama, alam, dan semua yang hidup yang merupakan misi yang diemban manusia di muka bumi ini. Cinta hadir dan mengalir, serupa aliran jernih yang membawa kebebasan nurani untuk meneguhkan kemanusiaan. Ketika agama, suku bangsa, bahasa, dan berbagai keberagaman masih menimbulkan pergesekan-pergesekan, maka cintalah yang akan menyatukan.

 

Cinta hanyalah sebuah titik yang tak berbatas; hadir dan memancar hingga ke bagian-bagian tersembunyi dalam diri. Memahami cinta serupa memahami hidup dan kehidupan, manusia dan kemanusiaannya. Cinta adalah ruang jelajah yang maha luas, peleburan absurditas dan kesederhanaan. Kepedulian adalah cinta, kebencian adalah cinta, kekhawatiran adalah cinta; menggugah kesadaran akan kebersamaan dan membangun daya hidup dalam semesta kehidupan.

 

Makna cinta inilah yang ditampilkan dalam Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi – Svara Semesta: Love@1Point, Sabtu (21/2) di Gedung Kesenian Jakarta. Komposisi pertunjukan musik dibangun dari lagu-lagu Ayu Laksmi yang terangkum dalam album Svara Semesta –yang telah diluncurkan pada akhir 2010 silam, juga dalam album Svara Semesta 2 yang peluncurannya ditandai dengan pertunjukan ini.

 

“Rasa Indonesia” terasa kental dalam karya seni kontemporer Ayu Laksmi, yang disajikan dalam ragam bahasa seperti Bahasa Jawa Kuna, Indonesia, Bali, Padang, Inggris, hingga Latin. Banyak lirik lagunya yang terinspirasi dari kearifan lokal Indonesia. Pilihan juga sentuhan yang diberikan dalam komposisi musiknya, pun banyak berbicara tentang keberagaman.

 

Karya-karya Ayu Laksmi disajikan dalam kesederhanaan namun menyasar jauh pada kedalaman makna: hening cinta. Tiada sekat, tanpa batasan. Karya musikalnya seolah mengajak pendengarnya untuk melepas sekat-sekat yang tercipta tanpa sengaja oleh perbedaan untuk menciptakan harmoni kehidupan, yang dimulai dari harmoni dalam diri sendiri.

 

Kesederhanaan memang begitu terasa: entah itu secara lirik maupun musikalitas ataupun kekuatan bunyi. Namun, sesuai pandangan Fariz RM, cara Ayu Laksmi menyampaikan kisah melalui musik dan lagu dalam Svara Semesta adalah dengan menabrak barikade dan aturan yang berlaku secara umum. Tapi dengan kejujuran, keluguan, kesederhanaan, dan penjelajahan tanpa batas itulah akhirnya Ayu Laksmi bisa benar-benar mewakili imaginasi dan khayalan manusia yang memang tanpa batas.

 

Love@1Point menghadirkan “buku” sebagai konsep pertunjukan sehingga menekankan sebuah “pembacaan” yang lebih luas. Segala dimensi, berlangsung dalam ruang buku dengan segala tafsir dan wacana yang berkelindan. Tak sekedar bermusik, pertunjukan saling berkolaborasi dengan berbagai unsur seni lainnya untuk membawa penonton masuk ke dalam dimensi yang diciptakan. Membawa kekhasan dalam setiap pementasan, menampilkan fragmen dramatis dengan kehadiran bunga teratai, elemen asap harum, dan menciptakan aura meditatif.

 

Selain musik bergenre world music, unsur sastra akan demikian kental dalam pertunjukan. Teks dan narasi yang menguatkan pertunjukan disusun Cok Sawitri, sementara tata suara dipercayakan kepada Hindarko. Untuk “menghidupkan” panggung, tata cahaya didesain Ignatius Sugiarto. Sebagai respon era teknologi, melibatkan visual mapper bernama Dunnie Djanuartha. Sementara keberadaan properti tidaklah sebatas “media bermain” semata, namun juga menjadi simbol-simbol yang hadir memperdalam nilai pertunjukan. Inilah yang diwujudkan Gusti Dibal dalam kreasi artistiknya.

 

Bentuk pertunjukan musik teatrikal semacam ini memang lekat dalam diri Ayu Laksmi bersama komunitasnya, Svara Semesta yang digawangi oleh oleh Rico Mantrawan (keyboard), Doddy Sambodo (bass), Gede Yudhana (gitar), Ajat Lesmana (perkusi dan didgeridoo), Afan Latanete (multi perkusi), Gustu Brahmanta (drum), serta Made Subandi, Nyoman Suwida, Nyoman Suarsana, dan Wayan Sudarsana (gamelan Bali). Satukan Cinta untuk Dunia, I Niang-Niang, Perjalanan Bunyi, hingga Tri Sakti merupakan beberapa pertunjukan yang digelar sebagai pengagungan atas nama cinta.

Dalam Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi – Svara Semesta, Love@1Point, pertunjukan berdurasi selama kurang lebih 120 menit ini juga didukung penari maestro Bulantrisna Djelantik.

Photo by Jose Riandi 1.jpg

Related Blogs

    Share