817319e8_Linkin-Park---Facebook-Linkin-Park

Menyikapi bisnis model musik yang berpindah ke wilayah unduh digital dan streaming, Linkin Park meminta bantuan Harvard Business School untuk memikirkan restrukturisasi strategi baru bagi band ini dan lingkup bisnis mereka.Penjualan album menurun sebanyak 14 persen, mengunduh turun 11 persen, dan hanya layanan streamingnaik 28 persen pada 2014. Pola ini akan mirip dan makin mendekati grafik naik untuk streaming di semester pertama 2015 ini. Teknologi telah memaksa seniman musik untuk benar-benar memikirkan kembali cara mereka dalam melakukan bisnis musik. Mereka semua sudah mencoba beradaptasi. Para seniman yang paling sukses di lanskap baru ini telah mulai melihat model bisnis baru dan industri baru untuk memperkuat merek mereka. Mereka memperluas cakupan penggunaan di wilayah teknologi, game, mode, dan konten gaya hidup lain yang menjadi platform hiburan. Menyikapi bisnis model musik yang berpindah ke wilayah unduh digital danstreaming, Linkin Park meminta bantuan pihak lain membantu memikirkan restrukturisasi strategi baru bagi Linkin Park dan lingkup bisnisnya. Harvard Business School dipilih untuk melakukan studi independen semester panjang pada bisnis band yang sudah menjual jutaan keping album ini. Berbagai studi mereka lakukan. Termasuk observasi bisnis inovator industri musik seperti merchandise dari Tyler, The Creator, usaha patungan dari Jay Z, atau teknologi dan investasi dari aktor Jared Leto. Mereka membongkar kekuatan kemitraan kreatif  yang dilakukan Trent Reznor dengan Beats Musik dan Apple Music, diversifikasi platform konten dari Pharrell, termasuk belajar dari perusahaan manajemen Beyonce, Parkwood Entertaiment. Pada fase ini,Kiel Berry dan Linkin Park akhirnya menemukan beberapa fakta menarik. Supaya bisa bersaing di industri musik, Linkin Park sebagai sebuah band dan merek menemukan hal-hal seperti ini:

• Membangun ekosistem berbeda dengan mitra baru yang tertarik untuk membeli produk mereka
• Menggunakan konten kreatif untuk berkomunikasi tentang produk mereka
• Pastikan bahwa etos merek jelas dan tercermin dalam setiap pihak yang akan diajak kerja sama
• Diversifikasi aliran pendapatan di beberapa bisnis untuk mengurangi risiko keuangan dan memperluas posisi merek
• Bermitra dengan masyarakat luas atau jaringan influencer global untuk bisa tetap menyadap tren budaya paling mutakhir

Pada akhirnya mereka membedah ekosistem Linkin Park untuk menjalankan visi jangka panjang yang baru. Mereka melakukan rekonstruksi ulang pada Machine Shop, yaitu bergerak menjadi bisnis model inovasi multicabang berdasarkan empat unit usaha: penyedia konten video, kemitraan merek global,merchandise, dan modal ventura.Dalam kasus ini kita melihat Linkin Park masih berkutat dalam bisnis musik, namun mereka menciptakan dan menjual musik dengan melibatkan banyak bisnis. Seperti  dalam waktu dekat, mereka akan bersiap-siap untuk tur lima kota di Cina pada musim panas tahun ini. Selain tur, Linkin Park berencana untuk bertemu dengan perusahaan teknologi, beberapa merek konsumen, dan perusahaan modal ventura untuk membahas peluang kemitraan bersama Linkin Park. Tentu saja mereka masih akan rock and roll di atas panggung dan bertemu dengan penggemar, seperti yang selalu mereka lakukan. Namun seiring dengan upaya terus membuat musik mereka menjadi semakin besar, nama Linkin Park tidak hanya bicara soal musik. Mereka telah berubah menjadi konsorsium bisnis yang lebar. Mengutip apa yang dikatakan Mike Shinoda: “Tujuan kami adalah untuk membangun sebuah tim internal dengan bakat dan talenta beragam, untuk mendukung upaya bisnis nontradisional band mengejar beragam peluang di tahun mendatang. Langkah ini memungkinkan kami untuk menjelajah bebas.  Bisnis kami sekarang beroperasi seperti startup teknologi.” Apa yang sudah dilakukan Linkin Park, Machine Shop, serta Kiel Berry adalah sebuah pemikiran yang menarik dan layak mendapat perhatian dan diadaptasi oleh band-band di Indonesia.

Related Blogs

    Share