ALBUM-RETRORIKA-METROPOLITAN

Alfon Kriswandru, Bondan Jiwandana, Yusti Enan, Bagas Raharjo, dan Yudha tidak pernah menyangka band mereka yang awalnya hanya sebatas band side project ini pada akhirnya merilis single yang diikuti mini album karya mandiri. Sebelumnya, lagu-lagu yang mereka ciptakan tidak pernah dibawakan di atas panggung, karena pada awalnya Korekayu yang terbentuk tahun 2012 ini adalah band tribute yang membawakan lagu-lagu dari Naif, The Beatles, dan Mocca. Setelah 2 single dirilis dan diperkenalkan ke masyarakat luas, Korekayu memutuskan untuk menjadi band yang melangkah sedikit lebih serius untuk membuat karya sendiri.

 

Korekayu mengusung musik pop bernuansa retro yang mereka labeli dengan oldies pop. Influence dari musisi-musisi seperti Naif, The Beatles, dan Frank Sinatra sangat kental tercium di musik yang mereka mainkan. Layer guitalele yang hangat namun menggelitik, diimbangi dengan harmonisasi tiga vokalis menjadi ciri khas yang melekat kuat sebagai karakter Korekayu.

 

Lagu-lagu Korekayu yang sudah diciptakan pada akhirnya diwujudkan menjadi sebuah mini album berisi 5 lagu yang dirilis dalam bentuk fisik (CD) pada tanggal 1 Februari 2016. Album tersebut bertajuk Retrorika Metropolitan yang menceritakan seluk beluk kehidupan kota tinggal mereka, Yogyakarta yang kian hari semakin beranjak menjadi kota yang metropolis. Kegelisahan mereka akan kemajuan yang baik di satu sisi dan buruk di sisi yang lain ini dituangkan ke dalam 5 lagu dalam mini album ini. Mereka merasa terjebak  dalam gaya hidup metropolis di sekitar mereka yang cenderung mengarah ke hedonisme. Hal ini menginspirasi lima pemuda ini untuk membagi cerita kehidupan yang mereka jalani dengan sederhana namun membahagiakan, dan tidak perlu terbawa arus kota yang metropolis dan mahal untuk menjadi bahagia.

 

Tidak membutuhkan waktu lama mini album dikerjakan. Single pertama Jingga Senja dan Lalu Lalang Manusia yang di garap pada bulan Agustus 2015 dan dirilis pada bulan September mendapat respon yang cukup positif. Diikuti single kedua, Di Bawah Tangga yang dirilis pada bulan November di tahun yang sama, mereka memperkenalkan musik mereka kepada khalayak melalui akun media sosial Soundcloud dan dapat diunduh gratis.

 

Bondan dan Alfon menciptakan lagu Di Bawah Tangga pada tahun 2013 berdasarkan pengalaman band ini yang berawal dari jamming bersama di sebuah komunitas dimana mereka dipertemukan, tepatnya di bawah tangga kantin Realino, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Lagu ini bertempo cepat dari lagu lain dalam mini album ini dengan nuansa riang dan semangat melalui berbagai layer vokal di tengah iringan guitalele.

 

Jingga Senja dan Lalu Lalang Manusia menceritakan tentang kebahagiaan sederhana seorang pegawai kantoran yang pulang kerja dan menyempatkan diri menikmati indahnya alam di tengah taman kota. Dia yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan mempunyai sebuah ritual sederhana untuk menjadi bahagia, yaitu menikmati senja di akhir pekan.

DSC_6967

 

Lagu Seorang Anak Lelaki tercipta sebagai bentuk apresiasi kepada seorang nenek tua yang masih bergulat dengan realita jalanan sebagai penjual koran di perempatan traffict light Demangan, Jl. Gejayan, Yogyakarta. Beliau sekarang seharusnya duduk tenang di rumah menikmati masa tuanya, terpaksa harus bekerja seorang diri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam lagu Seorang Anak Lelaki sosok nenek tua tersebut diibaratkan sebagai anak lelaki. Sari dan Terus Bernyanyi adalah dua lagu terakhir dalam mini album ini yang menceritakan tentang romansa anak muda yang kerap dijumpai alam kehidupan sehari-hari personil Korekayu.

 

Mini album yang dijual eksklusif sebanyak 100 keping ini dikerjakan secara independent tanpa label. Kelima lagu direkam di Interest Studio oleh Dinata Billy. Packaging mini album ini dibuat dengan kemasan yang tidak biasa, yaitu cover yang terbuat dari kayu. Keistimewaan lain adalah hampir 80% isi dari mini album yang dijual berbarengan dengan merchandise ini dikerjakan secara handmade dengan ciri khas sablonase. Sablonase yang dieksekusi oleh Martinus Gobeer yang juga berperan selaku produser mini album ini digunakan untuk CD, kaos, cover CD, sticker, dll. Hal ini dilakukan atas dasar semangat independent dan mengentalkan aroma “jadul”.

================================================================================

Korek Kayu

Twitter: https://twitter.com/korekayu_


Related Blogs

    Share