IMG_1235 IMG_1237 IMG_1273 IMG_1291 poster-PKB-les-grandes-personnes

Setelah meramaikan pawai pembukaan yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo dan tampil di panggung terbuka Ksiraarnawa, Art Center dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, Les Grandes Personnes kembali hadir menghibur penikmat seni di Bali pada perhelatan PKB ke-39.

Pertunjukan Les Grandes Personnes tahun ini terbilang istimewa dibandingkan tahun sebelumnya. Boneka raksasa dari Prancis ini akan berkolaborasi dengan Barong Ket dari Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, Desa Pengaji, Payangan, Gianyar. Menurut Amandine Salmon, direktris Alliance française Bali, dalam konferensi pers yang berlangsung di Urban Cafe pada hari Senin, 3 Juli 2017, penampilan kolaborasi ini adalah agenda kesenian tahunan yang diadakan oleh Kedutaan Besar Prancis, Institut Français d’Indonésie dan Alliance française Bali. Konferensi pers kali ini jgua dihadiri oleh Dewa Rai Budiasa dan Dewa Putra Diasa dari Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, serta Pauline De Coulhac, sutradara pertunjukan dari Les Grandes Personnes, ditemani 3 seniman Les Grandes Personnes lainnya : Stefano Emili, Nicolas Vuillier, dan Caroline Brillon.

Pertunjukan kolaborasi ini akan menampilkan sebuah cerita panggung bertajuk ‘Les Touristes’ atau ‘Wisatawan’ pada hari Kamis, 6 Juli 2017 pukul 19.30 WITA di Kalangan Madya Mandala, Art Center. Pertunjukan ini adalah perpaduan dua budaya, Prancis dan Indonesia yang diwakili oleh Bali. Boneka raksasa dari Prancis berperan sebagai turis yang sedang berlibur di Bali dan terkagum-kagum melihat keindahan Pulau Dewata. Dalam perjalanan wisata itu, mereka menyaksikan pertunjukan Barong Ket. Mereka pun larut dalam cerita peperangan antara kebaikan (Barong) dan kejahatan (Rangda).

Setelah memeriahkan PKB di Bali, Les Grandes Personnes juga akan tampil di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2017 di Car Free Day kawasan MH Thamrin dan 13 Juli di Kawasan Kota Tua. Setelah itu Les Grandes Personnes akan mengakhiri turnya di kota Surabaya pada tanggal 16 Juli 2017.

 

Pentaskan Kritik untuk Pariwisata Bali

Dalam kolaborasinya kali ini, Les Grandes Personne dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana tidak sekadar mementaskan seni hiburan untuk publik Bali. Pementasan bertajuk ‘Les Touristes’ atau ‘Wisatawan’ adalah pementasan yang sarat pesan. Menurut Pauline De Coulhac, sutradara Les Grandes Personnes dalam konferensi pers pada tanggal 3 Juli 2017 di Urban Cafe Renon, pementasan yang akan mereka persembahkan adalah krtitik atas pariwisata Bali, terutama mass tourism yang kian menjadi-jadi di Bali. Baginya, turis tak boleh hanya jadi konsumen yang berkunjung dan membeli, tapi juga bertanggungjawab untuk turut memahami budaya dan adat di tempat yang mereka kunjungi. Nicolas Vuillier, salah satu seniman Les Grandes Personnes, boneka raksasa yang mereka gunakan, yang tingginya sekitar 4 meter adalah metafor bagi membludaknya jumlah turis yang memenuhi Bali.

 

Sejalan dengan Tema PKB ke-39

Dewa Rai Budiasa dari Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana menegaskan bahwa kelompok Les Grandes Personnes adalah kelompok seniman yang tidak hanya fokus pada aspek kesenian yang mereka tampilkan, tapi juga memberikan perhatian pada kelestarian lingkungan. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat boneka raksasa, adalah bahan-bahan daur ulang yang ramah lingkungan. “Aksi dari Les Grandes Personnes sangat sesuai dengan tema PKB ke-39 yakni Melestarikan Air Sumber Kehidupan. Dengan memberdayakan sampah atau barang bekas, kita turut berpartisipas dalam menyelamatkan kelestarian air di sekitar kita.” tuturnya. Pauline juga menambahkan bahwa Les Grandes Personnes dari tahun ke tahun selalu melakukan riset untuk memperbaiki penampilan mereka, baik dari segi cerita maupun dari aspek penggunaan material untuk membuat boneka raksasa. Riset itu mereka lakukan tiap kali berkunjung ke negara-negara tempat mereka melakukan pementasan.

 

Tentang Les Grandes Personnes

Les Grandes Personnes terbentuk pada tahun 1998, di Kota Aubervilliers, dekat Paris, Prancis, tepatnya di Villa Mais d’Ici, area pengembangan kebudayaan. Les Grandes Personnes memadukan seni patung, seni visual dan seni pertunjukan. Kelompok seni ini memulai kreasinya dengan membuat boneka raksasa dengan merefleksi seni patung dan seni rakyat. Boneka raksasa tampil sebagai obyek naratif yang menyampaikan cerita kepada penontonnya.

Selama hampir dua puluh tahun, Les Grandes Personnes telah berpartisipasi di berbagai festival dan parade di Prancis dan luar Prancis. Bagi mereka, patung adalah titik temu dalam sebuah kolaborasi. Les Grandes Personnes tertarik pada proyek interaktif dengan seniman lain. Ada dua aktivitas utama, yaitu membuat boneka raksasa dan menulis cerita sebagai pertunjukan teater maupun parade.

Beberapa kreasi mereka di antaranya: Le Fleuve (2003), parade di Burkina Faso; pertunjukan wayang dan topeng raksasa, Une grande famille (2005), juga di Burkina Faso; Giant Match: Meet my in-laws (2010), dibuat di Johannesburg, Afrika Selatan untuk perayaan FIFA World Cup; Ancestors (2012), sebuah pertunjukan saat festival teater di Grahamstown, Afrika Selatan dan Kokenchen et Potorik, tampil di Haiti pada tahun yang sama. Mereka juga membentuk puluhan asosiasi boneka raksasa ini di berbagai negara, mulai dari Boromo di Burkina Faso hingga Valparaiso di Chile.

Tim Les Grandes Personnes terdiri atas para seniman dengan bakat dan keahlian masing-masing, seperti penulis, pelukis, pematung, perancang busana, dalang dan penulis skenario.  Teknik pembuatan boneka raksasa sederhana dan mudah dipelajari. Boneka tersebut terbuat dari kertas. Terkadang mereka juga memanfaatkan kertas daur ulang.

 

Tentang Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana

Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana terbentuk pada tahun 1996, oleh tiga bersaudara di Jero Pengaji, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Pembentukan komunitas ini bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan tradisi Bali, khususnya tari dan musik.  Nama Yasa Putra Sedana terinspirasi dari nama tiga bersaudara yaitu : Dewa Rai Budiasa (Yasa), Dewa Putra Diasa (Putra) et Dewa Gede Setiawan (Sedana). Interpretasi lainnya dari nama Yasa Putra Sedana adalah karya masyarakat untuk mencapai kemakmuran. Anggota komunitas ini adalah masyarakat Desa Pengaji dari berbagai generasi yang memiliki semangat yang sama dalam berkesenian.

Pada tahun 2011, Komite Festival Folklor Dunia di Montoire, Prancis, mengundang komunitas ini untuk berpartisipasi dalam 5 festival di Prancis, yaitu Bray Dunes (Nord Pas de Callais), Puy en Velay (Auvergne), Montignac (Dordogne), Felletin (La Creuse), Montoire (Loire et Cher) dan 1 festival di Belgia (Bonheiden).

Di Bali, komunitas ini kerap tampil dalam upacara keagamaan di desa, juga acara-acara seremonial tingkat regional dan nasional. Sejak tahun 2013, komunitas ini telah tampil untuk grup turis yang tertarik pada budaya Bali di panggung terbuka Jero Pengaji.  Televisi Prancis, France 5 pernah meliput kegiatan komunitas ini pada tahun 2015 dalam program «Échappées Belles ».

Related Blogs

    Share