Foto Kabar Burung 3

Apa yang terjadi jika seorang temanmu mengatakan ‘Saya tidak mau terkenal, tapi dikenang.’ Ucapan spontan tersebut dilontarkan Kibar M. Pembela dalam salah satu sesi rekaman album Pesan. Barangkali ucapan tersebut kelak mencerminkan sesuatu yang hendak disampaikan Kabar Burung. Sebuah pesan yang terus-terang, sekaligus malu-malu.

Kabar Burung adalah kelompok musik tujuh personel, yaitu Kibar M. Pembela (Vocal dan Trumpet), Nalendra Yusa Faidil (Gitar), Juan Alberto (Backing Vocal dan Gitar), Cakra Gumilang (Bass), Ryan Rizki Ramanda (Drum), Danang Estu (Keyboard), dan Fachri Fajarudin (Biola). Format band yang cukup besar menjadi potensi kreatif bagi Kabar Burung selama proses menciptakan karya. Secara efektif, Kabar Burung mendapat dorongan kolektif tambahan saat membaurkan pelbagai gagasan dan selera ke setiap instrumen yang tersedia.

Berlatar dari perkawanan bersama, cikal bakal Kabar Burung sudah bermain musik sejak 2013 dengan penampilan di sejumlah acara musik. Namun, pada medio 2017, nama Kabar Burung dicetuskan dengan panggung pertamanya di Kedubes Bekasi. Kabar Burung diusulkan Kibar M. Pembela. Menurutnya, nama tersebut merupakan pencarian jawaban atas pertanyaan, “Dari mana kah ide suatu karya bisa muncul?” Ide, pada mulanya, adalah desas-desus—tidak ada yang bisa memastikan, kecuali manusia sendiri yang mencarinya melalui ‘praktik’ mengonkretkan ide tersebut. Kabar Burung adalah‘perkenalan di awal’, lantaran belum ada yang mengetahuinya. Artinya, musik akan memperkenal siapa mereka.

Foto Kabar Burung 5

Melalui album Pesan, Kabar Burung hendak menyapa pendengar musik tanah air dalam rangka perkenalan awalnya di gelanggang musik yang selama ini menjadi ekosistem—arena tempat setiap personelnya mencerap daya kreativitas masing-masing. Sudah tentu, Pesan merupakan wujud dari kehendak untuk berkarya. Merespon pernyataan dalam paragraf pertama, melalui Pesan, Kabar Burung sebisa mungkin menjadi dirinya sendiri. Itulah yang dimaksud dengan ‘dikenang’. Pesan adalah ‘proses menjadi’ bagi Kabar Burung: langkah awal yang menuntun ke langkah-langkah berikutnya.

Tema-tema dalam Pesan merepresentasikan kisah percintaan sepasang insan, relasi umum dari perkembangan hidup manusia dewasa, tapi Kabar Burung tidak membiarkan segala elemen yang tersedia di dalam musiknya menjadi picisan belaka. Penulisan lirik yang digarap Kibar M. Pembela (hanya Telepon dari karya Nalendra Yusa Faidil) menawarkan kebulatan sikap dari masing-masing subjek bermain di dalam lirik, sehingga kata ‘cinta’ atau ‘rindu’ tidak sebatas menjadi slogan yang terlalu dibesar-besarkan. Kuatnya aspek penulisan lirik juga ditopang komposisi musik yang padu dan anti-monoton.

Dengan kata lain, nyaris setiap progresi dalam sebuah lagu berkelindan dengan isian lirik yang dilantunkan. Instrumen bekerja mengisi, tidak sekadar bunyi, tetapi juga melodinya tersendiri, hingga seolah-olah menawarkan sesuatu yang otentik dan jalin-menjalin dengan instrumen lainnya. Selain itu, lagu-lagu di dalam Pesan menawarkan pecah suara vokal yang menyuguhkan harmoni. Suatu tawaran yang segar dari kecenderungan lagu pop mendayu-dayu dan bertele-tele. Pesan terdiri dari 9 track, yaitu (1) Telepon, (2) Adinda, (3) Bersua Denganmu, (4) Pesan, (5) Cemas, (6) Kamu Rahasia, (7) Tak Ada Kata, (8) Hujan, dan (9) Waktu, Kita, Rasa.

Simaklah, lagu-lagu Kabar Burung di dalam Pesan yang mendedahkan narasi tentang relasi dua manusia modern yang seolah merasa akrab, kendati satu dengan yang lain ternyata sudah terpisahkan, sekali pun rupa fisik saling berhadapan (Telepon). Atau manusia di zaman sekarang telanjur percaya konsekuensi bahwa teknologi menciptakan jurang komunikasi, dalam hal ini romansa kita (Pesan).

Jangan-jangan yang dibutuhkan manusia hari ini, kita, adalah suasana yang bersifat menenangkan untuk memulihkan batin/ruhani, mengisi kesepian atau kekosongan hati di suatu rentang waktu (Bersua Denganmu), seperti melalui cara memunculkan kembali pikiran tentang kenangan masa lampau (Hujan).Atau ternyata, memang tidak ada yang keliru atau perlu disalahkan dari masa lampau, semua bisa merambat menjelma sebagai masa kini yang hendak disambangi (Kamu Rahasia), sekali pun ada kegelisahan yang menanggung suatu ketidakpastian atas masa depan kebahagiaan (Cemas).

Kegelisahan itu sulit dihindari sebagai takdir yang nyata di hadapan mata (Adinda), kendati ketulusan menempuh nasib menghidupi masa depan kasih sayang genap ditetapkan (Tak Ada Kata). Pada momen itulah, kita seakan perlu untuk merenungi apa-apa yang telah terjadi. Pada momen itulah waktu menjelma ruang yang mengajak manusia memikirkan manusia lainnya secara sebenarnya untuk memikirkan ulang siapa ‘kita’ di antara ‘rasa’ yang mungkin pernah, saat ini ada, atau mustahil ada selamanya(Waktu, Kita, Rasa).

Jika tidak sibuk, kenanglah Kabar Burung melalui Pesan di platform digital streaming. Anda bisa berkorespondensi ke rabakngurub@gmail.com, atau Instagram: kabar.burung. Semoga Anda dan Kabar Burung dapat saling kenal. Semoga kita bisa saling mengenang.

 

================================================================================

For more info:

Instagram: @kabar.burung

Email: rabakngurub@gmail.com

 

 

Related Blogs

    Share