DJAMUR3

Bertajuk “BerekreARTion“, Komunitas Djamur melali* sambil berkesenian. Gobleg Cafe di Semarang dan Alive Fusion Dining di Jogja yang beruntung menjadi daerah jajahan mereka kali ini. Ternyata rasa lelah setelah tur sama sekali tidak melunturkan “kegilaan” mereka menjawab pertanyaan – pertanyaan yang MAVE lontarkan.

Halo Djamur! Bagaimana kabarnya setelah kembali dari tur Jogja dan Semarang kemarin? Ada yang masih jetlag nggak?
Berhubung pameran kemarin berjalan dengan lancar, kabar kita baik sekali.

Bagaimana respon khalayak disana terhadap seni khas anak -anak Djamur ?
Mereka sangat mengapresiasi, baik di Semarang ataupun di Jogja. Dua-duanya asik banget.

Setelah Semarang dan Jogja, kota mana lagi yang akan kalian sambangi?
Sepertinya tahun ini kami akan berbuat ulah di kota sendiri dulu. Setelah itu baru merencanakan untuk keluar kota atau keluar negeri, dan kalau memungkinkan sih bisa keluar planet seperti mengadakan pameran di bulan, Pluto, atau Mars. Kan keren tuh? Biar gaul.

Amin. Mave doain semoga cepat terlaksana. Tapi sebelumnya, bagaimana sih sejarah terbentuknya Komunitas Djamur ini?
Jadi awalnya bumi terbentuk dari berbagai unsur termasuk tumbuhan. Setelah kepunahan dinosaurus, Tuhan menciptakan manusia yang pintar dan kiranya bermanfaat bagi alam semesta. Tapi ternyata lama kelamaan manusia terlalu pintar sampai ingin melebihi Tuhan. Bahkan kemudian merekalah yang menciptakan tuhan itu sendiri. Mereka menjadi brutal dan merusak bumi ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia adalah produk paling gagal di alam semesta. Akhirnya pada tahun 2007 tepatnya tanggal 27 Desember di Bali, sekumpulan produk gagal itu membentuk komunitas yang tidak begitu penting bernama Djamur, jadi dapat disimpulkan Komunitas Djamur adalah sekumpulan produk gagal yang diciptakan tuhan untuk berkesenian. Sampai sekarang yang masih aktif masih 17 orang saja, yang semuanya adalah seniman yang kurang meyakinkan.

Jika berbicara soal seni mural, masih banyak kalangan yang menganggapnya sebagai vandalisme. Bagaimana tanggapan Djamur terhadap statement ini?
Tanggapan kami ya sah saja ada beberapa kalangan yang memiliki persepsi seperti itu. Namanya juga seni public ya konsekuensinya harus menerima tanggapan apapun dari masyarakat pastinya. Tapi kami akan selalu berusaha untuk memasyarakatkan seni.

Bagaimana suka duka Djamur selama berkesenian di dalam komunitas ini?
Suka duka pasti banyak. Yang paling berkesan sampai sekarang yaitu saat kumpul bareng teman-teman sambil ngemural di Jalan Nakula, Seminyak tepatnya. Mungkin itu mural terbesar dari kami dan itu sangat menyenangkan. Mudah-mudahan kedepannya bisa membuat karya yang lebih besar lagi. Sedangkan pengalaman yang paling tidak menyenangkan, mungkin yang juga sering dialami seniman public atau sebut saja seniman jalanan ya harus siap menghadapi cuaca seperti hujan, badai, banjir, panas, dan Satpol PP tentunya.

Keanggotaan Komunitas Djamur terbuka untuk publik atau tidak?
Untuk bergabung di Komunitas Djamur gampang. Kami selalu welcome bagi semua seniman, yang penting sering ngumpul sama kami, tahu siapa kami, apa misi dan Visi kami, tahu bagaimana cara kita bergerak, dan suka membantu nenek menyebrang jalan. Ya silakan saja asal
jangan hanya mengaku sebagai bagian dari Djamur tapi kenyataannya nggakk pernah ikut ngumpul dan berkarya. Karena kedekatan Djamur sudah seperti keluarga bagi setiap anggotanya. Agar lebih dekat dan akrab jangan lupa follow IG kita ya sis @djamur_komunitas. Salam seni!


Related Blogs

    Share