NAVICULA-02

Dia akhir tahun 2013 band green grunge asal Bali Navicula memberi satu ledakan penuh cinta, yaitu mengeluarkan album baru nya yang ke-7 ber-title “Love Bomb” bagaimana isi album baru nya ini ? Ini dia wawancara  dengan mereka. Check this out !ledakan penuh cinta, yaitu mengeluarkan album baru nya yang ke-7 ber-title “Love Bomb” bagaimana isi album baru nya ini ? Ini dia wawancara  dengan mereka. Check this out !

Holaa Navicula.. selamat untuk album baru nya. Apa sih dibalik makna “Love Bomb” yang kalian jadikan sebagai nama album baru ?

Love Bomb kalau diterjemahin ke bahasa Indo memang jadi cheesy: Bom Cinta, hehehe…jadi biarin aja dia di Inggriskan, karena konotasinya jadi lebih keren.  Maknanya sih, setelah 17 tahun kita review ulang perjalanan Navicula, kita melihat ada banyak sekali ‘cinta’ yang kita masukkan ke dalam band ini. Cinta ini pula yang menjadikan band ini ‘sesuatu’. Kita juga benernya dari dulu banyak bercerita tentang cinta sih, cuma cinta dalam makna yang lebih besar. Bukan cinta picisan.

Jika ada yang belum tahu dan mendengar. Seperti apa ke-16 lagu yang ada di album baru nya ini ? Baik itu tema dan musikalitas nya ?

Yang jelas tetap kuat rasa Navicula nya. Begitu pula sound nya. Walaupun yang satu dibuat di studio legendaris di US, dan satunya di Bali, benang merah khas Navicula ini masih ada. Tema juga masih mengangkat isu lingkungan dan sosial.

Apa yang membedakan dengan album yang sudah dikeluarkan sebelum nya ?

Album ini dobel CD. CD 1 berisikan 5 lagu yang dibuat di Record Plants studio, di Hollywood dan CD 2 berisikan 11 lagu yang dibuat di dua studio di Bali, Antida studio dan Ian’s House studio. Di Hollywood, kita bekerjasama dengan Alain Johannes sebagai produser. Dia memang salah satu produser idaman kita, karena selera kita nyambung. Dia pernah terlibat menggarap musisi/band yang kita suka, seperti Chris Cornell (vokalis Soundgarden/Audioslave), Queens of The Stone Age, sebagai gitaris di super group Them Crooked Vultures (band yang beranggotakan Dave Grohl (Nirvana/FooFighter) dan John Paul Jones (Led Zeppelin), banyaklah kalo ngomong tentang dia. Google aja deh namanya,hehe. Proses rekaman dengan dia juga kita videokan sih, dalam film pendek bikinan Nuno Barbosa, filmmaker asal Portugal, bersama dengan Phillip Bloom, guru besar kamera DSLR. Video pendek ini bisa dinikmati di youtube, di search aja dengan ‘navicula recording in hollywood’. Di album ini kita bekerjasama dengan label VOLCOM Entertainment untuk perilisan. Soal packaging di edisi deluxe pertama 1000 pcs, kita bekerjasama dengan Komunitas Sapu, komunitas lokal asal Salatiga, untuk membuat kemasan dari bahan daur ulang Tetrapak dan band bekas. Untuk kertasnya pun kita memakai kertas yang bersertifikat ramah lingkungan.

Musisi siapa saja yang terlibat dalam album baru ini ?

Untuk bagian lirik, kita berkolaborasi dengan Kartika Jahja (Tika & The Dissidents) di dua lagu di album ini: Tomcat dan Days of War, Nights of Love. Sedangkan di beberapa lagu, Lakota Moira, mantan manager kita juga turut menulis sejumlah lagu yang berbahasa Inggris, seperti Love Bomb, Refuse To Forget, Harimau!Harimau! Alain Johannes selain sebagi produser di CD 1, juga bermain gitar dan keyboard di Days of War. Ian J.Stevenson, juga aktif terlibat sebagai creative advisor dan bermain keyboard di beberapa lagu. Deny Surya me-mixing hampir semua lagu di CD 2 dan masteringnyapun dia yang garap. Beberapa additional musician yang lain di lagu ini ada Eman (keyboard) dan Yoyok Harness (flute). Kita juga bawain cover lagu lawas band God Bless, yg judulnya Semut Hitam, yang mana royalty untuk lagu ini kami serahkan sepenuhnya untuk mereka. Ini wujud hormat kita pada orangtua sekaligus leluhur band rock Indonesia, alias ‘Bakti Guru Rupaka’ orang Bali bilang, hehe. Di CD 2 ada dua producer di sini, yaitu: Alan Abbott asal US, dan saya sendiri (Robi). Di CD 1 sebenarnya bukan cuma Alain sendiri yang bekerja, ada engineer hebat lain, seperti John Merchant, yang bekerja penuh di studio bersama kami. John adalah engineer hebat dan pernah mendapat nominasi Grammy sebagai produser. Dia pernah menggarap artis besar seperti Michael Jackson, Toni Braxton, Lenny Kravitz, David Foster, dll. Navicula beruntung sekali sempat mencicipi kerjasama dengan orang-orang hebat ini.

Apakah identitas Navicula yang sebenarnya, bisa terlihat di album ini ?

Identitas kita ada di setiap album. Ada 7 album yang pernah kita buat. Cuma di album Love Bomb, ada banyak hal-hal yang kita bisa capai dan proses yang menarik, yang tidak ada di album-album sebelumnya.

Menarik sekali, untuk pembungkus CD album baru kalian ini terbuat dari bahan recycle dari tetrapack dan ban bekas. Ceritain dong ?

Yaa asik aja. Daripada kita cuma ngomongin doang recycle-recycle, trus sebagai band, apa cara riil yang kita bisa terapkan di sini…yaaa, bikin album cover dengan bahan recycle. Kebetulan kita juga ada hubungan dekat dan ketertarikan dengan komunitas-komunitas yang memanfaatkan bahan daur ulang. Salah satunya yang karya-karyanya nyangkut di kita adalah karya-karya dari Komunitas Sapu. Setelah beberapa kali bertemu di Bali dan Salatiga dalam kegiatan workshop atau pameran, akhirnya kita deal kerjasama bikin cover album Deluxe Edition. Sedangkan untuk artwork masih kita serahkan kepada seniman langganan kita, Zion Lee, dan layout dikerjakan oleh Lakota Moira.

Apakah ide ini pernah dilakukan oleh band lain ? Atau mungkin Navicula yang pertama kali nya ?

Ide membuat CD pack dari bahan daur ulang mungkin banyak yaa, terutama di luar negeri. Tapi dari bahan recycle Tetra Pak dan ban bekas, setau saya sih baru kita. Atau mungkin udah ada tapi nggak keekspos, entahlah…Tapi yang penting kan ada yang melakukannya dalam tindakan nyata…Semakin banyak yang melakukan ini semakin bagus, menurut saya.

Lingkungan, sosial dan politik sudah pernah kalian angkat sebagai lagu. Ada konteks lain nggak yang ingin kalian buat, dan perlu dibuat?

Ada banyak. Ada banyak sekali ide atau topik yang bisa diangkat jadi karya. Itu semua tentang waktu, tenaga, dan kesempatan. Cuma saat ini isu lingkungan masih menjadi fokus kita, karena kita merasa isu ini sangat urgent untuk saat ini. Apalagi usaha dan kebijakan pemerintah Indonesia untuk melindungi lingkungan hidup di Indonesia masih sangat minim. Hal ini erat kaitannya dengan isu keadilan sosial.

Berbicara tentang Bali dan lingkungan nya sekarang, bagaimana wajah Bali 10 tahun kedepan jika dibiarkan pengusaha dan penguasa berkongsi tanpa memikirkan dampak kedepan nya ?

Saya yakin pemerintah dan pengusaha tahu seperti apa dampaknya ke depan, cuma mereka nggak mungkin beberkan ini ke publik karena ini aib. Masyarakat kita justru harus lebih pintar dan kritis melihat hal ini. Jangan mau di bodo-bodoin terus. Kita tak bisa meramal 100% akurat untuk masa depan. Cuma untuk masalah pengrusakan lingkungan di Bali demi mengejar target pertumbuhan ekonomi yang berkiblat ke mass tourism, saya pikir itu kurang bijak. Itu akan merubah konsep pariwisata dan tata ruang di Bali secara signifikan. Bali ini ‘Desa Besar’! Lestarikanlah konsep ini sebagai pondasi pengembangan Bali. Apalagi kalau kita berpikir untuk bisnis pariwisata jangka panjang, dimana konsep industri pariwisata di Bali adalah pariwisata alam dan budaya. Gimana mau mendukung konsep ini kalau alamnya (baca: aset utamanya) kita rusak. Yang jadi arsitek alam (landscape: sawah, desa, irigasi, dll) yang laku dijual utk turis siapa? Yang jadi arsitek budaya Bali yang notabene sebagian besar adalah budaya pertanian (agrikultur: tumpek, pura ulun danu, subak, sajen, hari baik,) siapa? Kaum Petani lah arsiteknya! Menurut saya alam dan budaya Bali jadi seperti ini, adalah akibat peran kuat petani/budaya agrikultur di Bali. Nah, seharusnya agenda utama pemerintah, jika mau serius melestarikan konsep pariwisata alam dan budaya ala Bali, yaa… harus memasukkan pelestarian agrikultur ke dalam agenda utama. Bukannya menjual lahan dan pesisir Bali melulu untuk infrastruktur pendukung seperti hotel dan restaurant. Kecuali Bali mau ikut-ikutan mengekor konsep pariwisata Singapura atau Dubai, yang memang jual produk pabrikasi semacam Disneyland karena dari sononya emang nggak punya asset alam dan budaya. Kalau mau tahu isu ini lebih dalam, sering-sering aja bergaul dan diskusi dengan WALHI Bali atau aliansi ForBali. Kelompok ini sangat konsisten dan militan untuk isu lingkungan di Bali saat ini. Tapi pintar aja nggak cukup. Yang terpenting setelah anda punya ‘knowledge’, tanyakan lagi pada hati nurani, dan memutuskan apa yang kita bisa perbuat untuk Bali tercinta. Menurut kita, Navicula sudah ikut terlibat membawa nama baik industri kreatif Bali ke lingkup nasional dan internasional. Yang penting kita ‘give’ aja dulu, memberi aja, gak usah pusing sama pamrih yang akan Bali berikan untuk kita. Give more, take less!

Terakhir, untuk pembaca Mave nih. Ada pesan yang ingin kalian sampaikan ? Untuk album baru ataupun yang lain ?

Ingin mendukung kreativitas Navicula? Beli album baru kita, dijamin ngga rugi, hehehe. Itu bukan cuma album, tapi juga kristalisasi keringat kita selama 17 tahun nge-band. Oya…dan jangan lupa kunjungi situs kami di : naviculamusic.com. Matur suksma, Mave!

Rebel, Freedom, Happiness.

Email hello@naviculamusic.com
Twitter @naviculamusic
Facebook Facebook.com/naviculamusic
teks Adamxhole 
Interview Gede Robi Supriyanto – Vokalis/Gitaris Navicula. // Twitter @robinavicula @naviculamusic  
photo Courtesy of Navicula
Share