DJENKSINTERVIRE

Setelah malang-melintang di jagat musik selama 10 tahun, akhir nya band yang menamakan aliran nya Dirty Reggae ini, mengeluarkan debut album nya juga, yang bertitel sesuai nama nya yaitu “D’jenks”. Dan, ini dia wawancara  dengan band asal Jakarta yang menganggap bahwa reggae bukan hanya Bob Marley atau merah kuning hijau saja. Cekidot!

Haloo D’jenks bagaimana kabar kalian ?

Kabar Baik om 😀

Bagaimana launching album kalian kemarin ?
Sukseskah ?

Sukses banget om, meskipun hujan deres semua tetep nyanyi bareng di tengah hujan, salut!

Okay, kita bicara tentang album barunya neh, kenapa setelah 10 tahun band ini berdiri, baru di akhir tahun 2013 kalian mengeluarkan album ?

Karena namanya manusia banyak cobaan kehidupan disana sini, banyak juga yang susah untuk berkomitmen dan jalan bareng, sampai akhirnya satu persatu lagi diciptakan, dan album dirilis, album ini merupakan symbol semangat yang gak pernah padam, jangan pernah menyerah dalam menjalani sesuatu.

Ceritain dong sedikit tentang album baru nya ini ?

Proses rekaman album sendiri dimulai sejak tahun 2007 – 2012 di Harper Studio, Tebet, Gedhang Studio dan di Black Studio, Panglima Polim. Proses pengerjaan mixing dan mastering sendiri dilakukan oleh Bambang Hari Permana, seseorang engineer berbakat dibalik beberapa rilisan lokal seperti Payung Teduh, Sore dan Pandai Besi. Ada 8 Track ada temen-temen juga yang bantu untuk ngisi-ngisi seperti Reno Pratama dari Renprats and Soul Brothers, Agustinus Pandji Mahardika dari Pandai Besi, dan Willy dari Delerium Tremens.

Seperti apa isi album kalian ini ?

Kita mengklasifikasikannya sebagai ‘dirty reggae’ soul reggae dibalut dengan raw distorsi, ditambah attitude punk rock. Karena awalnya D’jenks adalah anak2 punk, jadi gak bisa dipungkiri jiwa punk rocknya masih terasa, Jadi distorsi punk rock bercampur soul, funk, sesekali celoteh nakal ala Benyamin S. Jadi reggae itu gak cuma ‘encet encet’ bob marley dan merah kuning ijo.

Band apa saja yang mempengaruhi dalam pembuatan album ini ?

Banyak sih, mulai dari The Clash, Toots and The Maytals, John Holt, Peter Tosh, Scientist, Dead 60’s The Aggrolites, hingga Iwan Fals dan Benyamin S.

Bagaimana strategi penjualan album kalian ini ?

Mungkin penjualan sekarang masih lewat direct selling dan pre order by email, Tapi ada juga yang masuk toko cd, kita bekerja sama dengan Pavilion Records untuk mendistribusikan ke toko dan distro.

Sejauh mana dan seberapa penting kalian menggunakan media social untuk band inidan album barunya ?

Sangat penting, disaat orang mulai apatis dan tak perduli dengan keberadaan musisi dan rilisan fisik, hingga toko cd tutup. Promo social media sangat membantu kehidupan musisi, dengan menggunakan internet musisi bebas berpromo kemana saja, bisa mengundang orang untuk dating ke gig dan terjadi pembelian rilisan secara langsung, jadi bisa sedikit memangkas budget promo.

Selain format CD reguler, D’Jenks juga akan merilis edisi istimewa yang sangat terbatas, edisi apakah ini ?

Semacam boxset, isinya kaset, dan beberapa merchandise D’jenks Collector Series, dirilis hanya 100 buah dan diantar secara langsung oleh personil D’Jenks, jadi bisa membangun kedekatan personal dengan pembeli, syukur-syukur dapet jodoh juga ye gak.

Jika ada yang belum tahu D’jenks, band apakah ini? Dan siapa sajakah didalam nya ?

D’Jenks adalah band reggae huru hara dari pinggiran Jakarta, berisi 6 orang anak muda ugal2an.
Anggi Mahendro R: Gitar Elektrik, Gitar Akustik dan Vokal tambahan di Ganja Feelin’.
Bayu Satria: Keyboard, Hammond, Perkusi, Gitar, Vokal latar.
Christo Putra: Drum, Perkusi, Bass, Ukulele, Vokal latar
Rama Adhitya: Gitar, Perkusi, Vokal latar
Rizki Aditya: Bass dan Vokal latar
Mr. Rumput: Vokal

Terakhir, deskripsikan dengan tiga kata tentang “Reggae” menurut kalian?

Rebel, Freedom, Happiness.

teks Adamxhole photo Courtesy of D’jenks
Share