YAMKO-RAMBE-YAMKO-FINAL-COVER

Apakah kamu pernah sudah pernah mendengar lagu Yamko Rambe Yamko ini? Di balik nadanya yang ceria dan penuh semangat, lagu ini ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Lagu ini sesungguhnya bercerita tentang pertikaian yang terjadi di dalam negeri pada masa penjajahan. Melalui lagu ini, sang pencipta lagu pun ingin menularkan semangat rela berkorban hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan persatuan Indonesia.

 

Meski penjajahan terhadap Indonesia sudah lama berlalu, tetapi semangat lagu ini rasanya harus kembali dikumandangkan. Semangat untuk mempertahankan persatuan Indonesia dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Semangat untuk menyadari bahwa keberagaman yang dimiliki bangsa ini dapat dijadikan sebagai satu kesatuan yang indah. Semangat untuk menyatukan bangsa dan bukan memecah belah atas nama perbedaan.

 

Dengan semangat itu pula lah, Nino Gracia memutuskan untuk memilih lagu Yamko Rambe Yamkosebagai single lagu daerah terbarunya setelah Ampar-Ampar Pisang dan Rambadia. Ia ingin menularkan semangat persatuan dan perjuangan yang terdapat dalam lagu ini kepada seluruh masyarakat Indonesia. Nino juga mengajak Indra Bekti untuk bersama-sama menularkan semangat persatuan yang terkandung dalam lagu ini.

 

Jatuh Cinta pada Papua

Tidak hanya lagu Yamko Rambe Yamko, Nino juga jatuh cinta dengan segala hal yang berhubungan dengan Papua dan ingin mengenalnya lebih dalam. Ia sangat mengagumi pahlawan-pahlawan asal Papua seperti Frans Kaisepo, yang kini wajahnya diabadikan dalam uang kertas Rp 10.000 cetakan terbaru. Ia juga mengagumi Silas Papare, pahlawan Papua yang membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Ia berjuang untuk membebaskan Papua dari kecaman Belanda dan bergabung dengan Republik Indonesia.

 

Hal lain yang membuat Nino terpesona adalah tas tradisional masyarakat Papua, yaitu Noken. Tas yang terbuat dari serat kulit kayu dan dibawa menggunakan kepala ini dimanfaatkan oleh masyarakat Papua untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian, dan barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya tersebut, pada 4 Desember 2012, Noken pun ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia.

 

Satu lagi yang membuat Nino penasaran dengan Papua, yaitu Tarian Pesta Ulat Sagu khas suku Asmat, yang memiliki makna pengucapan syukur atas limpahan Tuhan terhadap hasil panen sagu yang melimpah. Tarian ini biasanya dilakukan sebelum dan sesudah masa panen. Suku Asmat percaya, tarian ini dapat menyenangkan hati Tuhan yang telah memberikan mereka rezeki melimpah. Jika melihat dan mengalami langsung perjalanan ini, Nino yakin kita bisa belajar mengenai perjuangan, kebersamaan, persatuan, saling menghormati, dan pentingnya bersyukur kepada Sang Pencipta atas apa yang kita miliki.

“Indra Bekti & Nino Gracia – Yamko Rambe Yamko”

 

Instagram : @ninogracia
Twitter : @ninogracia


Related Blogs

    Share