Holaspica

Sore itu, wangi daratan masih berada di bawah mata kaki. Akupun menggigil kedinginan mengetahui keinginan bawah sadarku lebih kuat daripada ketakutan itu sendiri. Kini, ombak kecil sudah menghapus habis pasir di mata kaki. Kita tidak lagi berfikir dua kali. Kulihat dayung dan perahu sudah menunggu. Kita akan naik.. ke laut

Holaspica merupakan solo project dari singer-songwriter yang bernama Virdyas Eka Diputri, yang biasa disebut Ved. Musiknya bernapaskan prosa melankolis, dengan nuansa laut di malam hari. Solois yang berasal dari Lampung dan sempat berlayar ke Yogyakarta ini, merangkum jatuh bangunnya berjuang di industri musik dan pergerakan sosialnya kedalam sebuah mini albumnya yang berjudul “Naik ke Laut”. Dalam album ini, Holaspica menganalogikan kisahnya seperti perjalanan seseorang menuju laut lepas, hal itu tertera dalam single yang berjudul sama, “Naik ke laut”. Single yang dirilis ini mewakili definisi kutipan seorang Ahli Geografi dari Nubian “venture to the sea of darkness just to see what it might contain” yang mengajak secara eksplisit pendengarnya untuk berani mengambil resiko terbesar demi sebuah impian.

Musisi yang menjadi line-up di Urban Gigs (22/10/16), Artjog9 (2016) dan Asean Literary Festival 2015 ini menceritakan pengalaman pribadinya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kampung Teluk harapan, Lampung, yang ternyata menyatu dengan Lokalisasi. Ia yang awalnya tertarik dengan kehidupan nelayan menemukan sebuah kenyataan yang miris bahwa di sana banyak anak putus sekolah hasil lokalisasi yang tidak mengetahui siapa ayahnya, dirawat oleh para nelayan. Kemudian pengalaman dari penyuka Edgar Allan Poe ini, dituangkan ke dalam single pertama yang easy listening namun bermakna dalam dan dibalut lirik yang ringan. Pada dasarnya lagu ini merupakan penghargaan terbesar sekaligus ajakan bagi mereka yang sadar akan “suara” nya, imajinasinya, mimpinya, dan gagasannya, untuk diwujudkan lalu dibagikan, hingga setiap usaha dan gelombang yang dilewati membentuk cerita kasihnya sendiri dan tidak ada yang sia-sia.

Aransemen dalam single berdurasi lima menit ini pun terkesan “unik” karena menyisipkan suara alam khususnya lautan seperti ombak, angin, kecipakan dayung perahu hingga distorsi badai yang tenang. Perpaduan itu dipilih karena ia menginginkan agar pesan atau energi single tersebut dapat merasuk ke dalam sukma pendengar.

Lagu “Naik ke Laut” dipilih sebagai pembuka dari single-single lain yang akan memiliki benang merah cerita berurutan. Seperti halnya, cerita ketika perahu akan berangkat, lalu membutuhkan dayung untuk sejenak maju perlahan, bertemu gelombang, menjebak angin, lalu terakhir dan menjadi penutup, cerita mengenai ajakan untuk pulang dan bersandar, yang tentunya akan melengkapi album yang akan segera beredar pada akhir tahun 2017 nanti.

Prosa (Naik ke Laut)


Suara ombak menciptakan ketenangan tersendiri. Meski sebentar lagi laut nan gelap siap melahapmu.

Setidaknya suara deru itu mendempul celah imajinasi liar tentang kehampaan air laut dan kegundahan ikan-ikan pemangsa.

——-

Kesan ‘sendiri’ menciptakan horor kelabu. Seperti pasir yang berserakan diinjak telapak kaki. Atau kitalah hantu yang tidak berhasil dielakinya?

Ada perbedaan antara mata di kaki dan mata di wajah. Kaki punya kekuatan dan wajah miliki ketakutan. Mata kaki berlagak lebih berani. Bahkan ketika nanti, kamu sudah berada diujung pasir menghadap ke pantai. Ia buktikan ia mampu mengusir ketakutan konyol itu

Beda dengan mata wajah yang selalu berfikir berulang. Hingga menyisakan keraguan. Tidak lebih tidak kurang. Jadi, setelah ini, kan ku percayakan mata kakiku lebih dari apapun.

——————-

Sore itu, wangi daratan masih berada di bawah mata kaki. Aku pun menggigil kedinginan mengetahui keinginan bawah sadar ku lebih kuat daripada ketakutan itu sendiri.

Kini ombak kecil sudah menghapus habis pasir sebatas mata kaki. Kita tidak lagi berfikir dua kali. Kulihat dayung dan perahu sudah menunggu. Saatnya kubulatkan tekad dan mengikuti mata kakiku berangkat.

Naik. Kita akan naik.. ke laut.

 

Lirik (Naik Ke Laut)

Bila yang baik tak mau bicara

Yang buruk tertawa

Melihat semua

Bila yang baik

Tak turun ke bawah

Siapa buktikan, siapa mendengar?

Bila dirimu tak mau berdiri

Meski engkau tau, dia butuh kursi-kursi

Bila semua mencoba menutup mata

Yang baik tersingkir

Coba berfikir!

Naik ke laut

Siapkan perahu

Dayung dan ingatan

Pasti kan bicara

Naik ke laut

Siapkan perahu

Dayung dan ingatan

Pasti kan bicara.. uoo..

=========================================================================

Holaspica

Twitter : @holaspica

Instagram : @holaspica

Related Blogs

    Share