IMG_3087Tanpa memandang suku dan asal-usul seseorang, setiap manusia mengalami tahap-tahap peningkatan kebutuhan atau pencapaian dalam kehidupannya masing-masing. Salah satunya adalah kebutuhan aktualisasi diri (self actualization), yang meliputi kebutuhan memenuhi keberadaan diri (self fulfillment) dengan memaksimumkan penggunaaan kemampuan dan potensi diri.

Sebagai seorang perupa, Ajay merasa penting untuk unjuk kemampuan dan potensi yang dimiliki pada publik sebagai arena aktualisasi diri tersebut. Di samping aktualisasi diri tadi, tuntutan arus globalisasi yang semakin tinggi secara tersirat membuat persaingan juga semakin gila. Maka dari itu, show to the public dapat menjadi salah satu jalan untuk ikut bersaing dan muncul di permukaan.

Ajay Ahdiyat (Azhar Natsir Ahdiyat) lahir pada tanggal 25 Februari 1995 di Kuningan. Ajay tertarik dengan dunia seni rupa sejak kecil, terutama ketika kuliah di Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2013 sampai 2017, kemudian melanjutkan ke jenjang magister di Program Studi Desain FSRD ITB. Saat ini, Ajay merupakan bagian dari komunitas Pohonpensil yang bergerak di bidang art movement di Bandung.

IMG_3050

Ajay beberapa kali mengikuti pameran seni rupa di tingkat nasional dan internasional, seperti Outline-Indonesia Drawing Festival 2015 di Bandung dan International Communication Design Exhibition 2016 yang diselenggarakan oleh CDAK di Korea Selatan.

Kini Ajay mencoba untuk memberanikan diri memamerkan karya-karyanya sendiri. Didukung oleh ruang alternatif ‘Temporal Platform Bandung’ dan Maternal Disaster, Ajay akan menyelenggarakan pameran tunggalnya yang bertajuk ‘SURÉ’ pada tanggal 24 Februari-10 Maret 2018 di Temporal Platform Bandung (Maternal Disaster Flagship Store, 2nd Floor, Jl. Wira Angun Angun No. 4B Bandung Jawa Barat).

Karya-karya digital drawing yang dibuat dalam rentang waktu 2017 akhir – 2018 awal ini mengambil beberapa prinsip surealistik sebagai tantangan baru baginya dalam berkarya. 11 karya yang ditampilkan dengan medium cetak digital di atas akrilik transparan menjadi alternatif lain dalam penyajian karyanya, juga sebagai bagian dari representasi konsep-konsep yang hendak Ajay sampaikan pada khalayak. Objek-objek metaforik kemudian memungkinkan munculnya multi-interpretasi bagi penikmatnya.

“Pada karya-karya yang saya buat sedikit-banyak mengangkat persoalan-persoalan, baik yang ada pada diri pribadi maupun lingkungan. Mempertanyakan kembali hubungan dan pandangan pribadi dengan alam sekitar, pribadi dengan orang lain, dan pribadi dengan diri sendiri. Saya merasa, pribadi saya terlalu sibuk melihat apa yang ada di luar, sehingga lupa untuk melihat ke dalam (diri sendiri). Hal tersebut kemudian mempengaruhi kekaryaan saya sejauh ini. Setelah berusaha mencoba untuk lebih banyak melihat pada diri ini, kata yang muncul adalah “kebingungan”. Semuanya seakan susah untuk diwujudkan menjadi suatu hal yang ‘real’. Maka dari itu, kecenderungan sureal menjadi pilihan baru saya untuk memvisualisasikan bagaimana hubungan dan pandangan diri saya dengan hal-hal yang ada di luar diri. Tujuannya kemudian adalah dari ‘kebingungan’ tadi, dapat menjadi sebuah ‘keyakinan’ (sure) pribadi melihat ke dalam diri. Dengan capaian itu, diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam mengaktualisasikan diri.” Jelas Ajay.

Pada pembukaannya, kurang lebih puluhan pengunjung dari berbagai kalangan datang untuk mengapresiasi pameran ini. Ajay berharap peristiwa ini dapat menjadi perjalanan berharga dalam hidupnya dan catatan sejarah pribadi Ajay sendiri, tercatat sebagai peristiwa seni di wilayah yang lebih luas, serta mampu menginspirasi banyak orang untuk terus berkarya.

IMG20180226122705

Related Blogs

    Share