fithor-faris-1

“Rubah itu hewan liar, sebangsa serumpun anjing, perubahan itu liar biasanya pun digunjing.”

Penggalan lirik di single terbaru dari Fithor Faris ini menjadi kontemplasi yang seolah menjadi momok bagi setiap pelaku perubahan, sekecil apapun itu, perubahan bagi diri sendiri, teman, keluarga, lingkungan terdekat sampai yang terjauh. Teruslah berjalan karena kamu berada di jalur yang benar. Setiap perubahan pasti akan selalu menghadapi ketidak setujuan, karena dominasi “normal” yang terus diagung-agungkan dan menggerogoti akal sehat.

Lagu ini diciptakan sepotong demi sepotong selama kurang lebih satu tahun, melodik piano intens yang saling berlawanan arah ini sudah turun lebih dulu, nada-nadanya seperti panik, restless, menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada yang membahayakan. Namun vokalnya tak terpengaruh nada panik itu, Fithor Faris tampak tenang dalam menghadapi suasana itu, ia bernyanyi dengan gumam yang mungkin hanya mampu ia dengar sendiri dan berusaha untuk bisa keluar dari tegang itu. Terus bercerita tentang kehidupan yang setiap orang pasti memiliki sudutnya sendiri, sampai akhirnya di ujung lagu ia berkelakar.

“Norma hanya kedok semata, untuk mengenyangkan manusia.”

Adalah sebuah keputusan seorang manusia, yang punya pikiran, mampu bernalar tentang siapa, di mana, kenapa dan apa kita? Keputusan itu ada di tangan masing-masing manusia.

Rubah itu liar adalah single kedua, setelah sebelumnya mengeluarkan “I Am a Clown” beserta video klip yang digarap oleh Kedutaan Besar Bekasi. Album live sessionnya juga di riles sebelumnya, berisi 5 lagu yang direkam live di Kita Anak Negeri.

=======================================================================================

For More Info:

Instagram: @fithorfaris

Youtube: Kedutaan Besar Bekasi

Related Blogs

    Share