endah-and-rhessa

Duo pasutri akustik, Endah N Rhesa, akan menjadi bagian dalam perhelatan seni dan budaya yang diadakan selama 18 hari di Darwin Festival 2015, Darwin, Australia dari 6 – 23 Agustus mendatang. Dalam kesempatan  mengharumkan nama Indonesia, mereka akan melangsungkan konser sebanyak dua kali, masing-masing pada 15 dan 16 Agustus. Dari 27 titik yang digunakan sebagai perayaan festival di kota Darwin, Endah Widiastuti dan Rhesa Aditya akan mempertunjukkan performa mereka di panggung Bamboo Stand dan The Lighthouse. Penampilan Endah N Rhesa di festival yang telah ada sejak 1978 ini merupakan kedua kalinya mereka hadir di benua Australia, sebelumnya pada 2014 di Sydney. Selain itu, Endah N Rhesa akan berkolaborasi dengan Sweet Jean, duo pengusung musik folk asal Melbourne yang telah terbentuk sejak 2010. Beranggotakan Sime Nugent yang memainkan gitar akustik dan Alice Keath yang mengirinya dengan gitar elektrik, Sweet Jean memiliki format akustik yang hampir mirip dengan Endah N Rhesa. Endah N Rhesa yang telah memiliki koleksi 3 album ini akan menambah daftar penampilan mereka di luar Indonesia. Sebelum Darwin Festival 2015, mereka telah meninggalkan jejak di Indie Asia. Esplanade Singapore 2009, KinestAsia Singapore 2010, Marketplace of Creative Arts Kazakhstan 2011, Midem Conference & Festival 2013 di Perancis, dan Music Matters Live Singapore 2014.

d836bffe_Endah-N-Rhesa-650

Tawaran untuk bermain di Darwin Festival datang dari Andrew Ross selaku pimpinan proyek festival. Ross yang pernah mengerjakan Indonesian Performing Arts Market di Indonesia pada 2013 lalu, tertarik dengan budaya Asia, khususnya Indonesia. Selain membawa Endah N Rhesa, Ross akan mengajak koreografi seni tari asal Maluku Utara, Indonesia yang bernama Cry Jailolo karya Eko Supriyanto. Pementasan Cry Jailolo di Darwin Festival 2015 merupakan pergelaran perdana dalam kancah internasional. Setelah itu, Cry Jailolo akan melakukan tur keliling dunia. Ross juga menyindir sedikit pemerintah Indonesia yang terlalu berfokus pada budaya Korea. Ia menyatakan, “Kementerian sewaktu saya bekerja di Indonesia terlalu berfokus pada kesuksesan Korea di musik pop internasional, dan mereka hanya bisa berkata, ‘K-Pop sangat besar, bagaimana kita bisa memiliki

Related Blogs

    Share