Malam Duduk Bersama 3 Half Eleven PM Duduk Bersama 3

Bukan hanya perkara menikmati musik dan puisi, ada kalanya keluh kesah juga rasa syukur dituntaskan pada malam-malam di akhir pekan. Ya, Duduk Bersama #3 yang dihelat pada Jumat malam, 2 Oktober 2015 di Alive Fusion Dinning boleh lah jadi medan selebrasi di akhir pekan, orang-orang datang sebagai pengunjung café sekaligus menyaksikan sajian musik dengan racikan lirik yang puitis.  Langit Jogja malam itu sedang bercerah ria, setidaknya keceriaan langit Jogja tumpah pada jiwa mereka para pengunjung, atau bisa saja karena tanggal muda, tapi apa mau dikata kamuflase ‘gagal’ sedaging jomblowan yang pandai merawat harapan dan penantian masih saja kentara aslinya. Hehehe, sabar ya.

Tak perlu ditahan, tak perlu dipikirkan terlalu dalam, selain bisa bikin urat tawa tegang ada pula godaan manis dari duo pengendali mic, perkenalkan Kukuh dan Fabiola, sah!!! Acara dibuka dengan sambutan oleh Huhum Hambilly sebagai Ketua-nya para panitia Duduk Bersama #3, “Duduk Bersama sebagai ruang alternatif berbagi karya musik dan puisi serta satu lagi upaya mengapresiasi ruang seni musik, rupa dan karya sastra”, Huhum Hambilly di Duduk Bersama #3. Semoga usaha Bung, selamat sampai tujuan! Amin.

Tepat jam setengah delapan malam, penampilan Kopibasi membuka deretan para penampil. Mungkin apa yang dinanti dari seorang musisi di atas panggung adalah kebiasaan-kebiasaannya yang berarti memberi warna khas di setiap penampilannya. Boleh jadi ini misi baik yang dibawakan Kopibasi, puisi “Aum Kapak Bapak” karya Rabu Pagisyahbana yang dibacakan oleh Kopibasi mengaum ke hilir bermuara di telinga pengunjung. Berikutnya, lagu “Doa Ketika Bepergian” dengan nada-nada sederhana dan belaian melodis dari harmonika menambah khidmat suasana doa-doa. Lagu-lagu seperti “Kosakatarsis” , “Cukup Pagi yang Telanjang” dan puisi yang digubah menjadi lagu “Surat Kopi” karya Joko Pinurbo bisa jadi nomor andalan dari Kopibasi untuk berbagi kegelisahan-kegelisahan basi hingga akhirnya para pendengar ditawari sebuah konklusi.

Penampil selanjutnya adalah Bella Rosailly, senyum ramah dari mbak yang satu ini bikin mata kepincut manut nyaksikan pembacaan puisi yang diberikan olehnya. “Dzikir” karya Zamawi Imron dibacakannya dengan apik, repetisi banyak dilakukan sebagai upaya mengejar nuansa dzikir. Hom pim pa!!!

Siapa bisa menculik Minggu Pagi!? Mungkin demikian kiranya kegelisahan awal Yusuf Safary bersama Dhila Totoy, maka lahirlah Minggu Pagi dari rahim kegelisahan itu. Sah-sah saja bila pengunjung Alive Fusion Dinning bersorak sorai menyambut Minggu Pagi pada panggung Duduk Bersama #3 karena siapa sangka yang dihadirkan Minggu Pagi adalah musik puitis penuh nuansa pagi hari. Nuansa pagi itu disajikan Minggu Pagi dengan musik yang fresh layaknya pagi, harmoni denting-denting  mayor dengan suara bening  sang Vokalis Dhila Totoy ditambah lagi ritme akustik dari gitar yang ditukangi Yusuf Safary, didapuk sebagai pemetik gitar, Haji Egi Azwul sukses memberi kicau-kicau melodis pada malam itu. Lagu-lagu andalan mereka seperti “Selamat Pagi”, “Kampung Halaman”, “Mimpi“, “Sore” dan “Adakah Aku” dialirkan begitu saja dengan segar dan manis, pengunjung keranjingan betapa akhir pekan terasa begitu dekat berkat Minggu Pagi. Sukses.

Panggung belum sempat sepi, Secangkir Senja menghampiri,  penonton pun meriah kembali. Lagu pertama dari Secangkir Senja, mencoba membungkus kembali “Bunga dan Tembok” dari Fajar Merah. Bisikan terompet bersama suara mantap  para vokalis. Ada saja suara lembut itu muncul lewat duo vokalis perempuan, ada saja emosi yang menyertai lagu tersebut, biar lah lirik-lirik Wiji Thukul memukul telak batin para pengunjung, menolak lupa!! Secangkir Senja bisa dimana saja, musik mereka adalah dunia damai yang hidup bersama, tanpa terikat ruang maupun waktu, buktikan saja lewat hadirnya synthyzer, terompet dan nada-nada ethnic yang dilantunkan dengan aroma bossas. Jangan hanya dengar musiknya yang indah dan nyaman, ada pula lirik-liriknya seperti “rumah baruuu..” yang harum kemewahan idealis tentang rumah dan penghuninya. Secangkir Senja dengan musik kontemporer yang dibawakan mampu berbagi senja kepada para pengunjung, banyak menebar hangat, menepikan kesepian.

Di ujung acara, layaknya malam yang semakin tua dan dewasa, Half Eleven PM punya banyak asam dan garam untuk ditakar, ditimbang lalu dibagi dengan pengunjung. Lagu-lagu Half Eleven PM yang berasa minor dan gotik dengan lirik-lirik dari ruang-ruang psikologi disuarakan dengan solilokui dan dialog-dialog serta musik yang syahdu. Iyoy pada gitar dan Alit dengan warna suara yang tajam rasanya memang paduan tepat menyampaikan nuansa gotik, “Silent to Listen” sebagai senjata andalan, sungguh panggung Duduk Bersama #3 dibuatnya ladang lirik-lirik berbuah dari kegelisahan-kegelisahan berkena dari fenomena diskriminatif. Lagu berikutnya yang tak kalah menariknya, “Delusion” yang bercerita kurang lebih tentang mimpi,  wahana imajinasi yang lebih indah. Di lagu ini lagi-lagi suara tajam Alit menusuk, apalagi petikan gitar Iyoy yang sedikit keras memberikan lagi kesan kejenuhan . Fortissimo! Lagu-lagu yang diciptakan Half Eleven PM merupakan sebuah karya sekuel, itu lah mengapa rasa dan aromanya tak jauh berbeda begitu pun liriknya yang banyak bercerita tentang diskriminasi sosial. “Inspirable” dan “Roar of The Moon”, dua lagu pamungkas karya mereka yang dibawakan begitu rapih, sederhana saja namun apik, mungkin Half Eleven PM punya hadiah khusus untuk Rarya, celloist yang malam itu berteman dengan mereka di panggung Duduk Bersama #3.

Duduk Bersam #3 ditutup dengan Jam Session yang dimeriahkan oleh para pengunjung. Bolehlah standing ovation angkat topi lagi kopi untuk mas dan mbak MC yang punya stok semangat yang banyak dan mumpuni. Dengan banyaknya pengunjung yang hadir khusus untuk menyaksikan para penampil Duduk Bersama #3 layaklah acara tersebut sukses mewujudkan harapan dari list-list tujuan Duduk Bersama #3, hadir sebagai ruang berbagi karya musik dan puisi. Menilik dari beberapa review Duduk Bersama ternyata konsep yang dibawakan, mini konser keliling warung kopi di luasnya Jogja-pun memberikan fenomena-fenomena monumental di setiap edisinya.

Jika menoleh ke arah kalender beberapa bulan yang lalu pada gelaran yang sama, Duduk Bersama #1 dan #2 terhitung sukses, dalam hitungan bulan, pengunjung dan apresiator acara tersebut menunjukan progress yang lumayan signifikan. Kiranya, identifikasi yang kualitatif itu dapat didaya-juangkan menjadi data-data kuantitatif, sehingga progresnya dapat dilihat dengan jelas, selain upaya dokumentatif ‘kan lumayan itung-itung sinau nyekripsi apalagi belio para panitia sekilas duakilas terlihat  memang mahasiswa jadul  yang cinta kampus.

 

(Galih Fajar)

Related Blogs

    Share