DISTORSI AKUSTIK

Rampung merilis mini album Pu7i Utomo tahun 2016 lalu dalam format cakram padat, digital dan beberapa video lirik dikanal youtube mereka, pun diambil dari album yang sama. Kali ini grup musik Distorsi Akustik merilis single yang berjudul Mesin Pemahat Waktu. Sebuah lagu yang masih berada dalam deretan mini album Pu7i Utomo.
Dalam bentuk video musik, single Mesin Pemahat Waktu dirilis beberapa waktu lalu dikanal youtube mereka. Konsep video musik ini tentang sebuah perjalanan spiritual seseorang, hingga jiwa yang terlepas dari raga menuju nirwana. Dalam video musik yang berdurasi lebih kurang lima menit ini, tidak ada kesan seram dan menakutkan yang muncul, justru tampil dengan anggun dan elegan. Digarap oleh Videografer dari Nonadeca Film, Fajar Kajabu berkolaborasi dengan Fotografer Imam Supriono dari (Malakala Collective, Local Magz, Nggosv Wear) dan seorang make up artis Kartika Rona, pendiri Rona Make Up Artis. Video musik ini di garap di beberapa tempat di Semarang, seperti Tempat Pemakaman Umum Kedungmundu, Pantai Marina dan Hutan Wisata Tinjomoyo. Turut mengundang Adheniar Juliane Maeda, untuk ambil bagian sebagai talen model dan olah gerak.
Video musik ini kerjasama kedua kalinya kami, setelah sebelumnya sempat bekerjasama dengan Nonadeca Film di acara gelaran Iwot Creative Lab Acoustic Jam, sengaja dipilih lagu Mesin Pemahat Waktu, karena lagu tersebut berisi peringatan buat kami bahwa tidak ada pesta yang tidak berakhir, pun sebagai selebrasi 11 tahun Distorsi Akustik berdiri, buah dari perjalanan yang cukup panjang yang kami lalui. Dalam hidup sangat terbiasa jika kita melalui senang, dan sedih sebuah sinergi apik yang disuguhkan Semesta. Namun yang sedikit membuat saya kecewa adalah dalam kurun waktu itu hanya sebuah mini album dan beberapa single saja yang kami hasilkan, sungguh kami benar – benar kurang produktif, sibuk memburu panggung lalai dalam berkontemplasi untuk berkarya, maafkan kami” ujar Ragil Pamungkas.
Mesin Pemahat Waktu sendiri adalah lagu untuk mengenang gitaris mereka yang terlebih dulu berpulang, Puji Utomo. Sebuah komposisi musikal yang cukup ramah ditelinga,  namun berisi petuah mengorek gelisah. “Apa yang tersisa dari manusia jika kemanusiaan itu hilang?. Bagi kami hidup bukan hanya sekedar mengerucut pada persoalan lamanya durasi hidup semata, namun apakah hidup itu sendiri bisa berfaedah bagi manusia lain dan Semesta dalam laku tindakan kita manakala diberi anugrah kehidupan. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat yang ditimbulkan dari masa lalu, dan apa yang terjadi hari ini akan berpengaruh pada kehidupan kita esok hari. Dan “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan”, saya mengutip dari Novel Bumi Manusia milik
Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis yang menginspirasi karya – karya kami “. Jawab Taufik Adi, basis yang sempat tergabung dalam formasi kolektif Black Metal lawas dari Semarang, Godless.
Tak ada yang berubah dalam formasi sindikat pengusung Post Grunge dengan balutan nuansa ambient dan indie pop asal Semarang ini. Terakhir bergabung Muhammad Fajar Pandu Dewanata yang juga adalah gitaris dari unit pop punk New Face New Wave dan Pyong Pyong, didaulat pada posisi squencer dan keyboard. “Didalam kepercayaan Jawa dan Hindhu kita mengenal sosok yang bernama Batara Kala, anak dari Dewa Siwa digambarkan sebagai raksasa yang begitu menyeramkan, dan apabila waktu kita sudah usai didunia fana ini Sang Kala akan menjemputnya. Namun Dia tidak segan – segan untuk membinasakan apabila ada yang keras kepala ingin hidup lebih lama. Pesan moral yang kami dapat adalah waktu tidak bisa diulangi, maka pergunakan dengan baik. Berikan manfaat bagi sesama dan Semesta sebelum waktu direnggut dari kita. Saya percaya dengan jargon “Dunia sementara, Akhirat selamanya”. Namun semasa kita hidup semestinya yang kita wariskan pada anak cucu kita kelak adalah sesuatu yang baik. Saya begitu percaya, Dunia tidak butuh orang sukses, Dunia hanya butuh orang baik. Karena “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)” jawab Hersandi Dipta mengutip sebuah hadits.
=================================================================
DISTORSI AKUSTIK
instagram: @Distorsiakustik


Related Blogs

    Share