1Jangan menipu diri sendiri; jangan berpikir bahwa Anda “menerima” lukisan oleh mata Anda saja. Tidak, tanpa Anda sadari, Anda menerimanya melalui kelima indra.

Wassily Kandinsky “Concrete Art” (Art and Its Significance)

Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tahun 2013 sebagai perayaan 40 tahun hubungan diplomatik antara Korea dan Indonesia. Sebagai program pertukaran budaya tahunan melalui seni media baru dan instalasi, tahun ini merupakan kali ke-4, dengan memperkenalkan seni kontemporer terbaru dari para seniman muda dan berbakat dari kedua negara.

Bertajuk ‘Dialogue with the Senses’ (Dialog dengan Pancaindra), program tahun ini bertujuan mengeksplorasi ‘pengalaman sensorik’ dan signifikasinya dalam perjalanan hidup kita. Sepanjang sejarah, ‘Indra’ fisik telah didevaluasi oleh ‘alasan’ abstrak, meskipun fakta menyatakan bahwa indra adalah langkah pertama yang memungkinkan kita untuk terhubung dengan dunia luar. Pameran ini juga mempertanyakan supremasi yang selama ini diberikan kepada ‘penglihat’ dalam mengapresiasi seni, dan mengembalikan kedudukan indra fisik lainnya seperti pendengar, pencium, perasa dan peraba sebagai dasar nalar yang sama pentingnya.

Hidup di era media digital, kita mengalami para indra bekerja bersama-sama sebagai satu komponen yang saling memicu. Melalui pengalaman sinestesia semacam itu, kita tidak hanya mengamati fenomena di sekitar melalui satu jenis indra saja, namun secara aktif memanfaatkan seluruh indra tubuh untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Fenomena tersebut juga terjadi ketika kita menjumpai budaya baru, dan dalam hal ini, para seniman pameran ini mengajukan satu cara untuk menghargai budaya lain melalui pengalaman sensorik yang dirangsang oleh karya mereka.

Pameran ini menampilkan 9 seniman dari Korea dan Indonesia. Seniman Indonesia, Elia Nurvista, memamerkan penafsiran ulangnya atas sejarah kolonial yang terkait dengan ‘gula’ ke dalam bentuk instalasi patung. Manis dan juga pahit, karyanya dapat dikecap oleh pengunjung, sebagai satu langkah untuk mengenal sejarah yang tidak mereka ketahui.

Seniman Korea, Park Seung Soon menghadirkan seni media bagi para pengunjung untuk bermain berbagai instrumen tradisional Indonesia melalui interaksi dengan air dalam mangkuk kaca.

Diadakan di Galeria Fatahillah, Kota Tua, Jakarta pada tanggal 21 Oktober hingga 3 November, pameran ini akan menyuguhkan ragam seni dua negara yang menggabungkan teknologi mutakhir. Selain itu, pameran ini juga akan menjadi kesempatan baik untuk mempertimbangkan kembali peran penting ‘indra’ dalam mengalami dan mengenang budaya Korea dan Indonesia.

Untuk jadwal dan informasi lebih lanjut, silakan cek www.arcolabs.org

Sekilas tentang Pameran

Didukung oleh

Kedutaan Besar Republik Korea Pusat

Kebudayaan Korea untuk Republik Indonesia

Penyelenggara

ARCOLABS

Pusat Seni dan Manajemen Komunitas ini didirikan pada tahun 2014. ARCOLABS memiliki misi meningkatkan kreativitas dan inovasi melalui berbagai program berbasis praktik, di antaranya pameran seni visual, proyek pengembangan komunitas, lokakarya, riset pelajar/mahasiswa serta program akademis maupun non-akademis lainnya.

Kurator

Jeong-ok Jeon adalah kurator dan dosen Korea yang tinggal di Indonesia. Jeon telah mengurasi dan mengurus berbagai pameran seni di sejumlah kota, termasuk Seoul, Paris, Venesia, Brisbane, Bangkok, Washington, D.C. dan Jakarta. Dengan minat atas seni media baru dan interaktif, ia telah mengurasi beberapa pameran berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Pameran terakhirnya, ‘Visualizing the Invisible’ diadakan sebagai bagian dari konferensi Data for Life 2016 di Pacific Place, Jakarta. Paralel dengan pameran ‘Dialogue with the Senses’, ia juga mengerjakan rangkaian Animamix Biennale Jakarta, bertajuk ‘Myth and Science’ (Mitos dan Pengetahuan), yang diselenggarakan oleh Art:1 New Museum pada bulan Desember 2016. Jeon memiliki gelas master dalam Ilmu Serat dari Perguruan Tinggi Seni dan Desain Savannah, Amerika Serikat dan gelar sarjana dalam Seni Serat dari Universitas Wanita Ewha, Korea.

Tempat

Galeria Fatahillah

Jalan Fatahillah No. 3

Kota Tua, Jakarta

Tanggal

Pertemuan media :  Jumat, 21 Oktober 2016 / 16.00 – 18.00 WIB

Pembukaan : Jumat, 21 Oktober 2016 / 19.00 – 22.00 WIB

Pameran : 22 Oktober – 3 November 2016

Jam operasional pameran : 09.00 – 19.00 WIB

Pameran ini tidak memungut biaya dan terbuka untuk umum setiap hari

Tur Pameran

29 Oktober 2016 / 11.00 – 12.00 WIB

30 Oktober 2016 / 11.00 – 12.00 WIB

Informasi lebih lanjut:

Bebby (+62 812 8185 1165)

Lokakarya Seni bagi Kanak-kanak oleh rurukids

22 Oktober 2016 / 11.00 – 14.00 WIB

» Anamorphic dengan Anang Saptoto

Dengan menggunakan teknik ilusi visual untuk menciptakan gambar, anak-anak diundang untuk berpartisipasi dalam karya sang seniman

30 Oktober 2016 / 11.00 – 13.00 WIB

» Miniatur makanan dari tanah liat

Anak-anak dan orang tua akan mengolah tanah liat untuk menciptakan miniatur makanan populer Indonesia dan Korea

30 Oktober 2016 / 14.00 – 16.00 WIB

» Scrapbook dari obyek temuan

Anak-anak dan orang tua akan membuat scrapbook untuk mengekspresi pengalaman seharihari

Informasi lebih lanjut: Daniella (+62 857 7856 7210)

Lokakarya Seni bagi Remaja oleh Serrum And Plus

23 Oktober 2016 / 09.00 – 13.00 WIB

» Photo woven image

Kombinasi dua foto berbeda untuk menciptakan gambar hibrida

23 Oktober 2016, 14.00 – 18.00 WIB

» Experimental tapestry Menenun menggunakan peralatan tak bermesin untuk bereksperimen dengan bermacam tekstur

29 Oktober 2016, 09.00 – 18.00 WIB »

Visual mapping

Menciptakan proyeksi berbagai pola dan bentuk obyek sehari-hari

Informasi lebih lanjut: Wahyudi (+62 813 8744 8515)

Mengenai Seniman dan Karyanya

Choi, Suk Young

Interactive SeeSea Drawing (2016)

Kertas, spidol warna, sensor, tata bunyi, komputer, proyector, pemindai Ukuran bervariasi

Interactive Seesea Drawing dirancang untuk merangsang anak-anak menjelajahi lautan dengan impian tak berbatas. Mereka ditemani oleh kawanan bawah laut yang terancam punah, yang hidup kembali melalui goresan tangan mereka. Sebagai bentuk permainan baru, pengunjung menyaksikan gambar mereka menjadi hidup dan berenang di lautan melalui bentuk seni media ini.

Suk Young Choi lahir di Seoul, 1972. Ia mengembangkan ketrampilan seni melalui profesi seniman jalanan, fotografer, videografer dan kini sebagai seniman media baru. Ia juga seorang seniman realitas maya (virtual reality) yang menciptakan karya baru melalui pemahamannya atas orang-orang.

Ia membentuk kelompok seniman ‘Gam-Sung Nol-ee-teo (Emotional playground/tempat bermain emosional)’. Dimana ia selalu menantang dirinya sendiri dan dunia seni dengan kolaborasi antara seni dan teknologi, serta melalui sejumlah proyek yang memperkenalkan cara baru untuk memahami seni. Saat ini, ia sedang mengerjakan realitas maya, fasad interaksi media serta proyek robot.

===============

Kim, Hyung Joong

Jangdna (2015)

Media campuran, audio-visual, instalasi interaktif

Ukuran bervariasi

Alam adalah data, data adalah alam”. Saya sangat meyakini bahwa semua hal di dunia ini terhubung melalui data untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan yang kita tempati sekarang. Saya selalu menggunakan daya imajinasi untuk mengetahui hubungan antara hal-hal, baik material maupun imaterial. Melalui Jangdna, saya ingin menghubungkan ritme musikal dan suara manusia dengan konsep DNA. Kata ‘Jangdna’ sendiri merupakan kombinasi antara kata ‘Jangdan’ yang berarti ritme tradisional Korea, dan ‘DNA’. Saya pikir hal ini menarik untuk mengembangkan ritme tradiosional dengan menggunakan suara manusia. Ketika pengunjung mengatakan sesuatu pada mikrofon, piranti lunak menciptakan sel visual berdasarkan analisa data frekuensi suara tersebut, yang saya sebut DNA dari ritme. Setelah sel terbentuk, ia akan mulai terhubung dengan sel lain hingga berkembang menjadi ritme baru.

Hyung Joong Kim adalah seniman Korea dengan latar pendidikan video dan filosofi yang menetap di Seoul dan Daejeon. Karya-karya audio-visual eksperimentalnya dimulai dari pemetaan bunyi dan visual atas data biologis nyata seperti rangkaian DNA. Saat ini ia sedang bekerjasama dengan laboratorium bioanalisis di Korea Research Institute of Standards and Science, untuk menghubungkan seni dan sains.

===============

Lee, Hye Rim

Obsession/Love Forever (Obsesi/Selamanya Cinta) (2007)

Instalasi 8 kanal animasi 3D dengan bunyi

2 menit (tiap kanal)

Obsession/Love Forever memberikan dorongan untuk memahami visi kontemporer akan kecantikan dengan menelaah saling silang antara kontruksi industri mode terhadap norma dan mitos kontemporer yang diciptakan oleh budaya maya dan permainan komputer.

Proyek ini merupakan lanjutan dari karya TOKI/Cyborg Project (2003-), yang masih berlangsung, yang mempertanyakan peran teknologi baru dalam pembuatan dan representasi citra. Tubuh karakter digital bernama TOKI yang dipotong menjadi beberapa bagian, dan berpose malu-malu dalam botol parfum, merupakan produk kecantikan dan komoditas yang menggabungkan kekuasaan dan rayuan. Animasi bagian tubuh tersebut mengolok obsesi atas keindahan tubuh wanita yang diciptakan oleh motivasi ereksi penis dalam budaya dan permainan maya, dengan mereferensi kontribusi penting dari mitologi kontemporer, psikoanalisis, teknologi, sibernetika, estetika, operasi plastik, fenimisme, konsumerisme dan erotisisme.

Tiap animasi tidak hanya menanggapi hasrat dan fantasi seksual lelaki, namun juga fantasi wanita untuk menyajikan tubuhnya sebagai komoditas. Tiap kanal bermain dengan dan menekankan batas tipis antara dominasi dan nafsu, khayalan dan rasa takut, kelahiran dan kematian.

==============

Hye Rim Lee adalah seniman Korea New Zealand yang saat ini bekerja di Seoul, New York dan Auckland. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Seni Elam (Elam School of Fine Arts) pada tahun 2003. Melalui kreasi dan pengembangan karakter animasi bernama TOKI, ia membahas perubahan peran wanita, khususnya wanita Asia, dengan memusatkan perhatian pada teknologi baru dan penciptaan mitos kontemporer, yang berujung pada memuncaknya minat atas konsumerisme Barat dan kecantikan idaman.

Karya-karyanya dipamerkan di New York, Eropa, Asia dan New Zealand termasuk lebih dari 200 pameran tunggal dan kelompok. Ia menerima berbagai hibah dan karyanya telah menjadi bagian dari koleksi seni ternama serta koleksi pribadi di berbagai negara dunia.

===============

Park, Seung Soon

Aquaphonics V2 (2015)

Instalasi bunyi, aliran air, sensor, pipa pvc

70 x 70 x 70 cm

Seung Soon mengerjakan “3.0 Generation of Music” (Musik Generasi ke-3), yang didefinisikannya sebagai “sebuah generasi dimana musik tidak hanya didengarkan oleh publik tetapi juga diciptakan oleh publik”. Sebagai komposer musik elektronik ‘Radiophonics’, ia menciptakan sejumlah musik berdasarkan konsep fisika alam semesta, fenomena alam dan filosofi kontemporer. Sebagai seniman media baru, ia mengembangkan beberapa antarmuka dan instalasi menggunakan air, cahaya dan bunyi untuk menciptakan musik –tidak hanya bagi musisi namun juga bagi para pengunjung. Karya terbarunya ‘AQUAPHONICS V2’ merupakan antarmuka baru dalam pertunjukan musik, yang dimainkan dengan cara mengendalikan kecepatan laju cairan dalam beberapa pipa.

Pada pameran ini, ia menghadirkan karya seni media baru ‘SYMPHONIE AQUATIQUE’, yang terdiri dari sejumlah mangkuk kaca berisi air dan tiap mangkuk air tersebut memiliki sensor yang terhubung dengan berbagai bunyi-bunyian instrumen tradisional Indonesia. Pengunjung dapat bermain dengan menyentuh air dan melihat pantulan riak air pada dinding selagi mendengarkan irama musik. Karya ini akan memberikan pengalaman layaknya sebuah simfoni dalam akuatik.

===============

Seung Soon Park adalah komposer musik elektronik (alias Radiophonics) yang melahirkan beragam karya media baru dan juga salah satu pendiri kolektif seni ‘IDEAN’. Ia mengeksplorasi interaksi manusia dengan alam atau semesta melalui musik.

===============

Anang Saptoto

Keren dan Beken (2016)

Karpet

Tampilan di SongEun Art Space, Seoul, Korea

Selama periode 2013 – 2016 ini, saya sering bereksperimen dengan pendekatan anamorphic atau biasa disebut proyeksi perspektif. Pendekatan ini memainkan jarak pandang dan perspektif, sekaligus menyajikan ilusi optik sebagai efek yang dapat dinikmati pada bentuk karya manapun.

Biasanya saya mengolah gambar dari dokumentasi personal, kliping surat kabar dan arsip mengenai peristiwa lampau. Media yang sering saya pakai di antaranya adalah mural di dinding, lantai hingga di atas atap. Selain itu saya juga mengaplikasikan anamorphic dalam bentuk karya-karya drawing di atas kertas, fotografi, cetak digital dan kolase karpet. Saat ini saya sedang melakukan ujicoba dengan menggunakan bahan dasar tegel atau keramik untuk menyajikan anamorphic baik di dalam maupun luar ruangan.

Saya kira, mendaur dokumentasi atau arsip sebagai bahan awal adalah suatu hal yang strategis untuk menjembatani antara sejarah dan batas-batas ingatan seseorang hingga pendayagunaan agar tidak dilupakan begitu saja.

==============

Anang Saptoto lahir, tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ia menamatkan studi dari Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Yogyakarta (2000-2005) serta Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2002-2009). Tergabung sebagai anggota Ruang MES 56 (2002-sekarang) serta sempat aktif di Komunitas Peta Hijau Yogyakarta (2003-2008).

Selalu tertarik untuk mengerjakan proyek, dengan rekan lintas disiplin, yang menghubungkan seni dan lingkungan sosial. Ia juga membuat proyek kolektif seperti “Bukuku Bukutulisku”, “POOP Together We Found” dan “Video Report”.

Mendirikan studio desain grafis bernama Minimi Studio di tahun 2009.

===============

Elia Nurvista

Rerasan Jaman (2015)

Permainan monopoli, swakelola

Ukuran bervariasi

Praktik arstistik saya beririsan antara seni dan eksplorasi sosial, dimana akan terus saya kembangkan dan eksperimentasikan untuk terus didorong dan diuji coba batas-batasnya. Saya tertarik pada bentuk- bentuk kerja yang memiliki sikap kritis dan dapat memancing imajinasi kita akan dunia yang lebih baik.

Saya memiliki beberapa karya yang fokus pada makanan dan pangan. Ketertarikan saya pada makanan muncul dari kegiatan memasak dan makan. Menurut saya kegiatan ini memiliki spektrum yang sangat luas untuk membicarakan berbagai hal, mulai dari personal hingga politis.

Dalam pameran ini, saya tertarik untuk membahas tentang gula, dan melihat lagi di balik komoditas yang manis ini perihal sejarah kolonialisasi hingga tenaga kerja dan ekstraksi material dalam konteks kehidupan saat ini.

===============

Elia Nurvista lahir, tinggal dan bekerja di Yogyakarta dan memperoleh gelar Sarjana Seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2010. Elia tertarik mengeksplorasi berbagai medium dengan pendekatan interdisiplin, khususnya yang berkaitan dengan persoalan makan dan pangan. Melalui makanan, ia ingin melihat lebih dalam persoalan kesenjangan kuasa, sosial dan ekonomi.

Elia telah berpartisipasi dalam beberapa program residensi dan pameran, termasuk “Koganecho Bazaar” di Yokohama (2012), program “Politics of Food” di Delfina Foundation (2014), London dan “Choreographer’s LAB” di Künstlerhaus Mousonturm, Frankfurt (2016).

Pada tahun 2015, Elia menginisiasi sebuah kelompok kajian makanan bernama Bakudapan bersama beberapa mahasiswa Fakultas Antropologi Universitas Gadjah Mada. Melalui Bakudapan, mereka melakukan berbagai riset makanan yang berkaitan dengan konteks sosial-politik dan budaya.

===============

Fajar Abadi

Rasarumah (2016)

Instalasi media campuran

Ukuran bervariasi

Ukuran bervariasi Saya tertarik untuk mengolah keterkaitan antara bau dan ingatan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, saya menemukan bahwa bebauan memiliki dampak atas bagian otak tertentu yang memicu perasaan yang acak, terlupakan atau bahkan penuh kasih sayang.

Berada jauh dari keluarga untuk waktu yang lama kerap membuat saya merasa rindu rumah, dan obat terbaik bagi saya adalah dengan memasak masakan rumahan. Tiap masakan secara unik dibentuk oleh bahan-bahannya yang kemudian menghasilkan rasa tertentu, dan juga bau. Dengan memilih dan membuat masakan rumahan tertentu, saya bertujuan menggugah perasaan berada di rumah.

Dalam karya ini, saya menyajikan masakan Korea Doenjang jjigae (semur pasta fermentasi kedelai) dalam sebuah ddukbaegi (mangkuk tembikar) dan masakan Indonesia sup ayam dalam mangkuk ayam. Masakan tersebut, yang biasa disajikan di banyak rumah tangga, menandakan keintiman antara anggota keluarga. Perbedaan dalam posisi duduk antara kebudayaan yang berbeda juga turut diilustrasikan pada penopang mangkuk-mangkuk tersebut.

==============

Fajar Abadi Ramadhan Dwi Putra lahir di Jakarta, Indonesia pada tahun 1985. Bercita-cita menjadi seniman ketika duduk di sekolah menengah pertama, dan membayangkan seniman adalah seorang pandai rasa. Rasa dalam Bahasa Indonesia adalah kata untuk menyatakan kualitas indrawi, perasaan hati serta pemikiran. Karya seni baginya mencakup puisi, pertunjukan panggung, menari, menggambar juga nyanyian.

Pada saat Sekolah Menengah Atas, bersama teman-temannya mendirikan kelompok teater, serta berkeliling membacakan prosa dan sajak ke sekolah-sekolah sekitar. Sebelum kuliah di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung Studio Patung pada tahun 2003, ia pernah berkuliah di Politeknik Pajajaran, Bandung dan mengambil Jurusan Penyiaran Radio.

===============

Heri DonoThe

Trio Angels (Tiga Bidadari) (2014)

Kaca serat, bubur kertas, perangkat mekanik

40 x 60 x 20 cm (3 buah)

Bidadari dalam karya saya tidak berhubungan dengan isu agama tertentu, tetapi merupakan simbol inspirasi. Inspirasi selalu menuju ke masa depan, seperti halnya dengan perjalanan imajinasi, fantasi, intuisi, dan persepsi manusia.

Karya ini terinspirasi oleh film Charlie Angels, dimana 3 perempuan superhero sanggup melawan musuhnya dengan gagah berani dan kelihaian/ketrampilan yang luar biasa. ‘Bidadari’ adalah ‘inspirasi’ itu sendiri. Dalam agama Hindu terdapat 3 dewa yang berperan penting di dalam kehidupan. Dewa Brahma (dewa pencipta), Dewa Wisnu (dewa pemelihara) dan Dewa Syiwa (dewa pemusnah/pelebur). Seperti halnya di dalam ‘dialektika’ Hegel tentang Tesis, Antitesis dan Sintesis merupakan pernyataan apakah kehidupan tersebut merupakan suatu sistem yang selalu abadi ataukah perubahan yang terus menerus di dalam perubahan kehidupan di muka bumi ini.

===============

Heri Dono merupakan salah satu seniman kontemporer Indonesia generasi akhir 1980-an yang dikenal oleh komunitas seni kontemporer internasional. Sejak awal karirnya hingga kini, ia telah berkeliling dunia untuk melakukan pameran dan lokakarya. Heri Dono dikenal melalui karya instalasi yang merupakan hasil dari eksperimentasinya atas teater rakyat Jawa: wayang. Dalam pertunjukan wayang sejumlah elemen artistik –seni visual, nyanyian, musik, penceritaan, mitos filosofi kehidupan, kritik sosial dan humor– melebur menjadi kesatuan yang koheren untuk menyajikan pertunjukan sederhana yang terdiri dari berbagai elemen multimedia yang rumit. Lebih lanjut hal ini didukung oleh latar pertunjukan wayang yang menyediakan ruang bagi interaksi sosial penontonnya. Instalasi Heri Dono merupakan contoh terbaik atas usaha kreatif merevitalisasi praktik seni tradisional Indonesia. Dalam banyak karyanya, Heri Dono secara efektif menggunakan potensi performatif dan interaktif sehingga karyanya dapat berdialog secara intens dengan penontonnya.

===============

Ricky “Babay”

Janitra Illogical Room (2016)

Instalasi video

Ukuran bervariasi

Saya hidup di antara perubahan budaya digital. Manipulasi, surealis, abstrak bahkan sekarang kehidupan nyata dan kehidupan virtual menjadi kabur. Perubahan sosial, gestur baru dan banyak lagi kejadian menarik yang dihasilkan oleh dunia digital. Karya saya membicarakan apa yang telah dilakukan oleh budaya digital di dunia ini. Memberi batas dunia nyata dan dunia virtual.

Bagi saya, seni itu adalah gagasan, masalah medium dan bagaimana sebuah karya mendistribusikan sesuatu. Bagaimana karya itu menyentuh seseorang, membuat bahagia atau masuk dalam kesadaran. Buat saya, seni adalah pilihan hidup, untuk melihat dan menggambarkan kehidupan.

Gagasan-gagasan karya saya dipengaruhi kehidupan saya di tengah-tengah kemajuan teknologi yang masif. Teknologi yang saya maksud adalah internet dimana kini semua orang terkoneksi: memudahkan komunikasi dan cepat. Alih-alih membuat saya senang, hal ini membuat saya resah. Seperti selalu ada yang tidak beres, karena tidak semua yang cepat itu baik. Peribahasa klasik “pelan tapi pasti” tetap terbukti di jaman serba cepat ini.

Bereksperimen pada medium bentuk dan bunyi dalam mentransformasikan gagasan dalam berkarya memberi spontanitas estetika dalam karya saya.

===============

Lahir di Bogor, Jawa Barat, Ricky Janitra pernah menjalani pendidikan Grafis Murni di Institut Kesenian Jakarta. Tinggal di Jakarta, ia sekarang bekerja sebagai seniman dan penampil audiovisual.

Pameran Terdahulu

bawahDengan memperkenalkan seni kontemporer terbaru dari Korea dan Indonesia, Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia telah memperkaya pertukaran budaya yang dinamis antar kedua negara, yang telah terus menerus dikembangkan selama lebih dari 40 tahun.

Rangkaian pameran pertama di tahun 2013, “Ordinary Negotiation” (Negosiasi Biasa) diselenggarakan sebagai perayaan atas 40 tahun hubungan diplomatik Korea dan Indonesia. Kala itu, pertukaran budaya antara kedua negara terpusat pada budaya populer seperti K-Pop dan KDrama, ataupun warisan tradisional. Maka, pameran tersebut bertujuan untuk memperluas lingkup pertukaran budaya dengan memperkenalkan seni kontemporer yang menggabungkan media baru dan teknologi kepada pengunjung lokal.

Pada tahun 2014, pameran bertajuk “Typotopia” memusatkan diri pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan estetik. Para seniman menggunakan Hangeul (abjad Korea) atau abjad Latin/Romawi sebagai elemen dasar kekaryaan mereka. Selain mempromosikan seni berbasis media dan teknologi, pameran tersebut juga mengundang ahli tipografi, perancang grafis serta seniman multimedia untuk memperlihatkan interpretasi dan pendekatan yang beragam.

Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, pameran “New.Future” (Masa Depan.Baru) di tahun 2015 berusaha untuk menampilkan ketertarikan yang berbeda antara dua kurator seni kontemporer. Kurator Indonesia, dalam pameran ini, memperkenalkan seniman Indonesia muda dan berbakat, sementara kurator Korea mengajukan bagaimana seni berkomunikasi dan berinteraksi dengan pengunjung, baik secara fisik maupun psikologis. Partisipasi pengunjung menjadi sangat penting dalam melengkapi karya-karya yang dipamerkan.

www.arcolabs.org
Facebook : Arcolabs-Center for Art and Community

Twitter : @arcolabs

Instagram : @arcolabs.surya

Related Blogs

    Share