1“Dunia Milik Kita” merupakan album perdana Dialita yang berkolaborasi dengan musisi muda. Setelah melalui proses rekaman pada bulan Maret atas dukungan dari Indonesia Visual Art Archive (IVAA), pada 17 Agustus lalu album ini sudah resmi dirilis digital secara unduh bebas di http://yesnowave.com/yesno083/. Kini, album ini secara resmi dirilis dalam bentuk CD tanggal 20 September oleh Cakrawala Records. Selain lagu, di dalam CD terdapat booklet yang berisi tulisan pengantar dari Ita Fatia Nadia, sejarah atau kisah-kisah dibalik lagu, not angka lagu, biografi pencipta lagu, dan resep masakan pangan liar yang dibuat oleh Bakudapan Food Study Group. CD didistribusikan di beberapa kota, seperti: Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, dan Malang. Pemesanan bisa juga melalui alamat email venti.wijayanti@gmail.com.

Album ini bertujuan sebagai “silent monument tragedi 1965”, yaitu sebuah monumen yang akan mengingatkan kita untuk menyampaikan kepada publik tentang kebenaran sejarah masa lalu dan mencegah terjadinya peristiwa serupa oleh karena ketidaktahuan sejarah. Lagu-lagu Dialita diciptakan oleh tahanan politik saat dipenjara dan ada juga yang diciptakan saat sudah bebas di masa rezim Orde Baru. Pada masa Orde Baru situasi politik berada dalam tekanan dan keterbatasan, sehingga para eks-tapol tidak dapat dengan mudah hidup dalam sistem yang seperti itu. Peristiwa-peristiwa politik seperti ini yang dimulai dari penggulingan paksa masa pemerintahan Soekarno pada 1965, pergantian pemerintahan dengan rezim Orde Baru, dan munculnya kekerasan yang menyertai semakin bertumpuk tanpa adanya penyelesaian oleh Negara. Musik sebagai bentuk dari seni budaya popular dipilih untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terbatas diceritakan tersebut. Lagulagu tersebut dinyanyikan oleh Paduan Suara Dialita yang terdiri dari para penyintas dan keluarganya. Pilihan lagu yang dinyanyikan Dialita adalah lagu-lagu bersejarah. Getaran syair kehidupan dari lagu yang dinyanyikan, berisi pujaan kepada tanah air Indonesia, kerinduan seorang Ibu di dalam kamp pada anak-anak yang mereka tinggalkan, perjuangan hidup dalam kekangan, semangat keragaman dalam perbedaan, solidaritas hingga impian dan harapan akan kehidupan yang harmonis tanpa penindasan.

Musisi yang berkolaborasi dalam album “Dunia Milik Kita” antara lain Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Catur, Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya. Lagu-lagu yang direkam adalah “Asia Afrika Bersatu”, “Dunia Milik Kita”, “Kupandang Langit”, “Lagu Untuk Anakku”, “Padi Untuk India”, “Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu”, “Taman Bunga Plantungan”, “Salam Harapan”, “Viva GANEFO”, dan “Ujian”. Aransemen lagu-lagu tersebut dimaksudkan untuk memberikan nuansa baru yang sesuai dengan selera musik generasi muda di masa sekarang, yakni generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa kekerasan 1965 yang jumlah-nya semakin bertambah dan juga memberikan perspektif lain atas korban peristiwa tersebut. Album ini dipublikasikan dengan menggunakan lisensi Creative Commons yang memberikan akses terbuka bagi publik untuk menyebarkan, menyalin, menggunakan dan menggubahnya secara bebas sehingga mampu mengembangkan aset karya seni budaya kita ke bentuk-bentuk baru. Desain sampul album didesain oleh Wok The Rock dengan ilustrasi tanaman pangan liar yang digambar oleh Wedhar Riyadi.

Daftar Lagu:

1. Ujian, diaransemen dan dimainkan bersama Frau

2. Salam Harapan, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud

3. Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah, Frau dan Lintang Radittya

4. Padi Untuk India, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah

5. Taman Bunga Plantungan, diaransemen dan dimainkan bersama Kroncongan Agawe Santosa

6. Viva GANEFO, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah

7. Lagu Untuk Anakku, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud

8. Kupandang Langit, diaransemen dan dimainkan bersama Frau dan Lintang Radittya

9. Dunia Milik Kita, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud dan Lintang Radittya

10. Asia Afrika Bersatu, diaransemen dan dimainkan bersama Nadya Hatta, Prihatmoko Catur dan Lintang Radittya

Related Blogs

    Share